|
|
Satu-satunya yang akan menyertai
seseorang bahkan setelah mati adalah dharma itu, yang lainnya akan
hilang pada waktu bersamaan dengan musnahnya jasad ini (Manawa Dharmacastra VIII.17).
Sungguh amat sulit memastikan permulaan perayaan Galungan di Bali. Yang
diketahui hanyalah melalui cerita peperangan Dewa Indra mengalahkan
Mayadanawa dan cerita zaman Raja Jayakesunu di sekitar Tahun Caka
1246-1250 di mana para raja pendek umurnya karena tidak merayakan
Galungan. Tanpa mengurangi rasa hormat dan percaya kepada cerita
tersebut, marilah kita lihat kenyataan yang terjadi pada zaman sekarang
ini di tengah masyarakat Bali khususnya dan bagaimana ajaran budaya dan
agama dapat diaplikasikan secara positif dalam keseharian kita, bukan
saja untuk kebaikan pribadi manusia namun juga untuk kebaikan alam Bali
dengan budayanya yang indah. Galungan dirayakan sekali dalam 210 hari, sebagai hari lahirnya
keyakinan masyarakat Hindu Bali terhadap kemenangan dharma, yang jatuh
pada setiap Buda Kliwon Dungulan perhitungan kalender Bali. Hari
Galungan didahului berturut-turut tiga hari wara kala dalam perhitungan
astawara yang dikenal dengan hari-hari turunnya Sang Kala Tiga atau Bhuta Galungan yaitu Bhuta Dungulan, Bhuta Amangkurat dan Bhuta Galungan. Dimulai pada
hari yang dikenal dengan panyekeban di mana masyarakat Bali
merealisasikannya secara visual dengan melakukan kegiatan nyekeb
buah-buahan berupa hasil tumbuhan di lingkungan sendiri (aspek
lingkungan) agar menjadi matang untuk yadnya pada upacara Galungan. Aspek spiritual pada diri manusia, pada hari panyekeban ini, umat Hindu
mulai melakukan kegiatan instrospeksi diri dan mawas diri terhadap
godaan sang Bhuta Kala Tiga, dimulai dengan mengaturkan sejenis yadnya
pamiak kala (aspek budaya Bali). Sarananya tiga tanding segehan panca warna, masing-masing di halaman merajan, halaman rumah dan di telajakan atau di depan pintu keluar masuk rumah. Mantramnya:''Om Sang Kala Ekawara, Sang Kala Dwiwara, Sangkala
Triwara, manusanira angaturaken tadah saji ringjeng Sang Kala kabeh,
mangda sampun ketemahang sisip ring Sang Kala Tiga, poma, poma, poma.'' Demikian pula halnya pada hari wara kala kedua yang dikenal dengan hari
penyajan, di mana masyarakat mulai membuat jajanan untuk yadnya
Galungan, karena prana yang didasari hati yang suci yang tersalurkan
melalui tangan-tangan sipembuat jajanan yadnya akan langsung menentukan
kualitas spiritual suatu yadnya. Pada hari penyajan ini masyarakat juga
menghaturkan tiga tanding segahan panca warna seperti yang dilakukan
pada hari sebelumnya. Sehari sebelum hari Galungan, di hari penampahan, yaitu menyembelih
ternak (babi) untuk kelengkapan yadnya. Daging babi adalah bentuk
yadnya yang khas untuk persembahan Dewi Durga. Pada hari ini juga masyarakat membuat upakara di halaman rumah berupa
pabiakalan didasari apejatian, tebasan galungan (juga sejenis pamiak
kala), penyeneng dan canang genten yang dipersembahkan kepada Dewi
Durga dan sifat-sifat Beliau yang ada dalam diri manusia,
direalisasikan dengan natab pabiakalan. Pada hari penampahan,
masyarakat Bali juga memasang penjor dengan sanggah cucuk sebagai
tempat upakara yadnya kepada Durga dalam ujud Beliau sebagai Dewi Uma. Yang perlu diperhatikan dalam membuat kober penjor (kain
putih yang digantungkan di ujung penjor) khususnya bagi masyarakat yang
berjiwa seni agar mengutamakan gambar Durga, Dewi Uma atau salah satu
sifat Beliau pada kober penjor tersebut. Sedangkan salah satu mantram
yang sangat sederhana untuk yadnya kepada Durga sebagai berikut: ''Om catur dewya maha sakti, catur asrama bhatari, Siwa jagatpati Dewi, Durga sarira dewi." Jika kita perhatikan, mantram di atas ditujukan kepada Dewi atau unsur
pradana atau unsur prakriti yang di dalam tatwanya mengandung
unsur-unsur triguna dan panca maha bhuta sebagai satu kelompok unsur
dalam proses penciptaan yang harus dilengkapi unsur purusa (cosmic
spirit atau Guru). Sesuai dengan salah satu sifat keadilan Sang
Pencipta yaitu rwa bhineda, maka terciptanya dharma atau adharma ke
dunia sangat tergantung pada manusia. Untuk menerima anugerah Hyang
Widhi dalam wujud ciptaan Beliau yang baik-baik (dharma) pada diri
masing-masing, pada rangkaian Galungan merupakan kesempatan yang sangat
baik bagi manusia melakukan mulat sarira (meredan pengaruh indria)
untuk melahirkan dharma, melalui introspeksi dan mawas diri. Ketahanan Budaya dan Lingkungan Di hari Galungan, masyarakat Bali membuat upakara yang dipersembahkan ke hadapan Hyang Guru (aspek purusa) di merajan masing-masing berupa canang raka, canang lenga wangi burat wangi, penek dapetan, banten Guru, pesucian, sodan dan banten gebogan. Setelah dipersembahkan maka esok harinya masyarakat Bali melakukan nyurud natab.
Jika kita simak bunyi mantram berikut dan dikaitkan dengan keberadaan
merajan di setiap rumah, kondisi ini mungkin merupakan salah satu
munculnya dominasi purusa pada budaya masyarakat Bali, tidak saja pada
setiap lingkungan rumah namun juga di lingkungan masyarakat terkecil
yang kita kenal dengan sistem bebanjaran atau banjar adat. Mantram pemujaan untuk Hyang Guru sebagai berikut: ''Om
dewa-dewa tri dewanam tri murti linggatmakem, tri purusha suddha
nityam, sarwa jagat jiwatmanam. Om guru purwam, guru padyam, guru
rupam, guru rakatmiki dewam, guru pantaram dewam. Om Brahma Wisnu
Iswara dewam jiwatmanam tri lokanam sarwa jagat prastitanem suddha
klesa winasanem." Dari kedua mantram, baik yang ditujukan kepada unsur prakriti
(Durga/pradana) maupun yang ditujukan kepada Hyang Guru/purusa pada
saat rangkaian Galungan, maka akan muncul suatu ciptaan dan penciptaan
yang sangat diharapkan oleh masyarakat Hindu adalah dharma. Pada
Galungan dilambangkan sebagai proses kemenangan penciptaan dharma atas
adharma. Pada esoknya di hari Umanis Galungan, setelah melakukan
nyurud natab dan melakukan persembahyangan di merajan masing-masing,
umat Hindu melakukan persembahyangan dengan rasa suka cita di Pura
Banjar, Pura Desa, Puseh, Dalem dan Kahyangan dan dilanjutkan dengan
kegiatan saling mengunjungi sanak keluarga pada sore harinya. Kegiatan masyarakat Bali pada hari Galungan mengandung makna ketahanan
budaya dan lingkungan Bali dalam setiap lingkungan desa pakraman. Hal
ini akan menjadi makin menarik untuk dipahami dan disadari oleh seluruh
masyarakat Bali jika menyempatkan diri membaca lontar Purwa Gama Sesana,
mengenai Pura-pura yang di-sungsung di desa pakraman. Kesadaran akan
hal ini bukan saja menjadi sesuatu yang menarik namun sangat penting,
mengingat kuatnya pengaruh globalisasi yang makin dirasakan telah makin
mengubah Bali melalui kebudayaan dan lingkungannya.
| Title | Author | Views |
| Intisari Ajaran Agama Hindu |
Hinduisme |
2,729 |
| Banten |
Putu Satria |
2,510 |
| Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan |
Berbagai Sumber |
1,907 |
| Reinkarnasi |
Wisnu |
1,900 |
| Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional |
I Made Titib |
1,891 |
| Galungan dan Tujuh Sifat Dharma |
Ketut Adi |
1,607 |
| Moksa |
Yoga Adi Purwanto |
1,554 |
| Kebenaran Reinkarnasi |
Wisnu |
1,506 |
| Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih |
Budi Paramartha |
1,483 |
| Grahasta |
Wisnu |
1,399 |
| Tentang Dana Punia |
Wayan Catrayasa |
1,394 |
| Yoga Marga |
Yoga Adi Purwanto |
1,353 |
| Catur Asrama |
Wisnu |
1,257 |
| Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal |
Balipost |
1,217 |
| Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar |
Oka Suryawan |
1,205 |
|
|
|
|
|
|
|