Gudang Lagu
(by: I Made Titib)

A. Memahami Makna Kehidupan
Hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap orang, karena manusia tidak dapat hidup dalam kesendirian. Hidup bersama dalam masyarakat memerlukan pengorbanan dan saling pengertian. Tanpa kesediaan berkorban dan saling pengertian, maka hidup manusia akan mencemaskan, pada saat itu akan berlaku "matsyanyàya", yakni, hukum rimba, yang kuat mengalahkan yang lemah.

Kata "matsya nyàya", mengandung arti kehidupan seperti ikan di samudra luas. Umumnya ikan yang kuat dan besar akan mudah saja menelan yang kecil, tetapi bila yang kecil bersatu dalam satu kelompok yang besar, maka ikan besarpun tidak akan berani menghampirinya. Matsya nyàya tersebut mengamanatkan pula
betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih lagi dalam berbangsa dan bernegara.

Hidup manusia menurut ajaran Hindu adalah untuk memperbaiki diri,
memperbaiki karma-karma buruk yang dilakukan sebelumnya. Mahàrsi Vararuci dalam Sàrasamuccaya (2-8) mengamanatkan, hanya dengan melaksanakan perbuatan baik, dapat melenyapkan pahala dari perbuatan-perbuatan buruk di masa yang silam, oleh karena itu setiap orang hendaknya memanfaatkan penjelmaan ini untuk memperbaiki dirinya. Pedoman untuk memperbaiki diri telah diturunkan-Nya melalui berbagai agama dan kepercayaan, tinggal kepatuhan dan ketaatan umat manusia untuk mengikutinya. Bila ajaran agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa direalisasikan (diwujudnyatakan) dengan baik, maka ketentraman masyarakat akan terwujud, namun kenyataannya dengan dalih mengembangkan agama dan bahkan menganggap agama orang lain lebih jelek dari agama yang dianutnya, cenderung untuk melibas kehidupan keagamaan orang lain, dengan mempromosikan agama sendiri yang
menurutnya paling baik. Sesungguhnya bila kita memperhatikan dengan seksama, kebaikan agama terletak pada penganutnya, yakni apakah ajaran yang dianut tersebut telah dilaksanakan dengan baik, atau baru sebatas verbal, retorika, belum menyentuh dan mengubah prilaku panganut agama tersebut. Promosi agama dengan berbagai cara baik
yang halus, terselubung maupun sampai yang terang-terangan, akan dapat
menimbulkan keresahan di antara umat beragama. Bagaimanapun setiap warga negara telah menganut satu agama atau kepercayaan, biarlah secara alami seseorang tertarik untuk menganut agama yang diminati setelah yang bersangkutan membaca atau memahami agama tertentu, namun di balik itu semua pemimpin agama wajib membina umatnya untuk lebih mendalami, memahami dan mengamalkan ajaran agamanya, sehingga menjadi teladan bagi orang lain di lingkungannya. Mempromosikan agama sendiri dengan dalih apapun, seperti melalui lembaga pendidikan yang nampaknya menyelenggarakan pendidikan umum, namun sesungguhnya ada motif untuk mengembangkan agama tertentu, hendaknya segera dapat dicegah, dihentikan dan dikembalikan pada hakekat lembaga
pendidikan tersebut, di sini Pemerintah (Mendiknas dan aparat) hendaknya jeli dan segera mengamati lembaga-lembaga pendidikan yang demikian dan bila dipandang perlu segera menghentikan aktivitas dari lembaga pendidikantersebut.

B. Galungan dan Kuningan tonggak kesadaran Dharma
Hari raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu adalah hari kejayaan, hari kemenangan. Hari raya ini di India disebut Sràddha Vijaya Dasami, yakni hari kemenangan yang dirayakan selama 10 hari. Di India Timur disebut juga dengan nama Navaràtri atau Durgà Pùjà. Navaràtri adalah perayaan yang berlangsung selama 9 hari dan pada hari ke 10 diakhiri dengan Durgà Pùjà. Durgà Pùjà
merupakan hari pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai seorang ibu yang cantik, mengendarai seekor singa, bertangan 8 dan masing-masing tangannya membawa berbagai senjata pemberian para dewata yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun.
Hari raya Sràddha Vijaya Dasami (umumnya dirayakan di seantero India,
dikaitkan dengan kemenangan Sri Ràma melawan Ravana), sedang Durgà Pùjà dikaitkan dengan kemenangan dewi Durgà menghadapi raksasa yang bernama Raktavijaya yang berwujud seekor kerbau (mahisa asura) yang sangat sakti. Raksasa ini hanya bisa ditumpas oleh dewi Durgà, rupanya dewi ini kewalahan menghadapinya. Mengatasi situasi itu maka berdatanganlah para dewa Asþadikpàlaka dari 8 penjuru memberikan bantuan berupa berbagai senjata. Saat itu dari tubuh dewi Durgà muncul 6 tangan (di samping 2 tangan-Nya yang asli) memegang senjata para dewa tersebut. Kemudian raksasa tersebut berhasil dibunuh oleh dewi Durgà, karena itu dewi dikenal pula dengan nama Mahisa-asura-mardini (yang membunuh raksasa dalam wujud seekor kerbau).
Pemujaan kepada dewi Durgà ini sangat populer di India sejak masa yang silam hingga kini. Rupanya di Indonesia pemujaan kepada dewi Durgà juga sangat populer, terutama bila kita melihat peninggalan purbakala berupa banyaknya arca-arca Durgà-mahisa-asura-mardini di beberapa tempat di Jawa Tengah, Jawa-Timur dan Bali. Di Bali pemujaan kepada dewi Durgà rupanya menjadi tonggak perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran pada saat Mahendradattà yang dikenal juga dengan nama Gunapriyà Dharmapatnì,
permaisuri raja agung Dharma Udayana Varmadeva meninggal dunia dan setelah upacara Ngaben dan Nyekah selanjutnya disthanakan dalam upacara Devapitrapratiûþha (ngaliggihang dewa hyang) di Burwan, Kutri, Gianyar, diarcakan dalam wujud Durgà-mahisa-asura-mardini. Di dalam beberapa prasasti peninggalan raja Dharma Udayana Varmadeva (yang meninggal belakangan dari permaisurinya) disebutkan "añucyaken pitra, angaturaken tarpana dewì".

Upacara "añucyaken pitra" mengandung makna yang sama atau dekat dengan
upacara Úràddha, yaitu mempersembahkan sesajen (dan penyucian) kepada para leluhur pada hari raya Galungan, sedang "angaturaken tarpana dewì" adalah upacara persembahan kepada dewi Durgà dengan ciri khas persembahan berupa daging babi. Sejak saat itu, kiranya perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran dirayakan di Bali, sedang informasi lainnya dapat ditemukan dalam lontar "Pañji Amalat Raúmi", yang juga menceritrakan perayaan Galungan dan Kuningan tersebut.

Apakah saat atau bulan pada hari raya Galungan dan Kuningan bersamaan dengan berlangsungnya hari raya Sràddha Vijaya Dasami? Untuk dimaklumi bahwa sistem kalender yang digunakan oleh umat Hindu di India dan Bali berbeda. Di India dalam sistem kalendernya tidak menggunakan perhitungan Wuku (tahun yang datangnya setiap 210 hari sekali), tetapi menggunakan tahun surya (solar sistem) yang datangnya 12 bulan sekali. Hari raya Sràddha Vijaya Dasami pada umumnya jatuh pada bulan September-Oktober (Vettam Mani, 1989: 853). Kenapa
perayaan Galungan dan Kuningan tidak jatuh bersamaan seperti halnya di
India. Hal ini dapat dijelaskan, bahwa sebelum agama Hindu masuk ke
Indonesia, bangsa Indonesia asli telah memiliki sistem kalender yang
dikalangan orientalis disebut Bali-Javano-calender yang kita kenal dengan tahun Wuku. Rupanya atas dasar untuk segera memperibumikan ajaran agama Hindu, maka leluhur bangsa Indonesia yang seegara memeluk agama Hindu, memasukkannya dalam sistem Kalender tersebut, dimulai dengan hari pemujaan Sarasvati yang jatih pada hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari pertama dari Wuku pertama, pemujaan kepada dewi Úrì dan Lakûmì hari kedua dan ketiga
Wuku pertama dan hari pemujaan kepada Guru (Pamaesti Guru/Guru Tertinggi) pada hari ke-4 Wuku pertama, selanjutnya hari Galungan dijatuhkan sebulan kemudian (35 hari) setelah pemujaan terhadap Paramesti Guru, yang dimulai dengan Tumpek Wariga (Úaòkarapùjà), 30 hari kemudian adalah Pamacekan Agung dan berakhir 30 hari setelah Pamacekan Agung, yakni waktu hari Buda Kliwon Pahang (Pegatwakan). Dengan demikian sejak persiapan sampai hari terakhir setelah Kuningan berlangsung selama 60 hari.

Hari raya Galungan dan Kuningan menurut lontar Usana Bali dikaitkan dengan mitos kemenangan dewa Indra melawan Mayadanava dengan kemenangan di pihak dewa Indra. Ada dugaan bahwa dewa Indra dimaksud adalah Indra(Chandra) bhaya Varmadeva yang dipercaya membangun tempat suci patìrthan Tìrtha Empul, Tampaksiring, Gianyar.
Makna hari raya Galungan dan Kuningan dinyatakan sebagai kemenangan Dharma (kebajikan) melawan Adharma (kebathilan/kejahatan), pertempuran antara sifat-sifat jahat dengan sifat-sifat baik, dengan kemenangan pada sifat-sifat yang baik. Mitos raksasa menggambarkan sifat Asurisampat yang merupakan salah satu dari kecenderungan yang terdapat pada diri manusia, di samping Daivisampat, yakni sifat-sifat yang baik sebagai perwujudan ajaran
Dharma. Pergulatan yang dapat dianalogikan dengan perang Bhàratayuddha
selalu berlangsung pada diri setiap umat manusia. Seseorang yang senantiasa berjalan dijalan Dharma, berpegang kepada ajaran Dharma, akan mendapat perlindungan dari Dharma (Dharmaý raksati raksitaá).
Lebih jauh pengertian tentang Dharma dinyatakan dalam Mahàbhàrata, sebagai berikut:


"prabhavàrthàya bhùtànàý
dharmapràvanaý kåtaý,
yaá syàt prabhava saýyuktaá
sa dharmaá itu niscayaá".

Sàntiparva 109.10.

(Segala kegiatan demi kesejahtraan dan
kebahagiaan semua mahluk, semuanya itu
disebut Dharma. Tiada disangsikan lagi
apapun yang bertalian dengan kesejahtraan
untuk sesama, itulah Dharma).

"Dharma eva plavo nànyaá
svargaý samabhivaý ca taý
sàdhanor vanijaú ca taý
jaladheá param icchataá"

Sàrasamuccaya 14.

(Dharma itu adalah suatu sarana untuk mencapai
sorga, bagaikan perahu yang menjadi sarana para
pedagang untuk menyeberangi samudra)

"Vedapramànakaá sreyaá
sàdhanaý dharmaá".

Mànusaýhità 1.

(Dharma (disebut) di dalam kitab suci Veda,sebagai
jalan untuk mencapai Sreyaá (kesejaheraan, kebahagiaan
dan kesempurnaan yang sejati).

"Dharmo visvasya jagataá pratisthà
loke dharmisthaý prajà upasarpanti,
Dharmena pàpam apanudanti dharme sarvaý
pratisthaý tasmad dharmaý paramaý vadanti".

Mahànàràyanopaniûad XXII.1.

(Dharma adalah prinsip dasar yang bergerak dan tidak bergerak
di dunia ini. Di dunia, manusia hendaknya bergairah mengikuti
Dharma. Mereka membebaskan dirinya dari dosa-dosa dengan
Dharma.Segala sesuatunya berjalan mantap atas dasar Dharma.
Untuk itu patutlah Dharma disebut yang tertinggi).

Dalam pengertian yang sempit Dharma Dharma juga disebut sebagai sebagai hukum atau kewajiban, diuraikan dalam kitab-kitab Itihàsa maupun Dharmasàstra, antara lain :

"Dhàranàd dharmam itàyahur
dharmena vidhritàá prajàá,
Yas syàt dhàrana-samyuktas
sa dharma iti nischayaá.

Mahàbhàrata Sàntiparva 109.11.

(Dharma disebut demikian karena melindungi segalanya,
Dharma memelihara segala yang diciptakan oleh-Nya.
Dharma adalah prinsip dasar yang menjamin keharmonisan
di alam semesta).

"Dharmenaivarsayas tìróà
dharme lokàá pratiûaþhitàá,
dharmena devà vavridhur
dharme chàrthaá samàhitaá.

Tasmàd dharmapradhànena
bhavitayaý yatàtmanà".

Mahàbhàrata Sàntiparva 97,7,9.

(Hanya dengan Dharma, para Rsi dapat menyeberangi
(dunia penjelmaan dan kematian), mencapai Moksa,
kokohnya dunia, tergantung atas Dharma.
Oleh karena itu kita harus hidup dengan mengendalikan
diri dan mengutamakan pelaksanaan Dharma).


"Idàniý dharma pramànànyàha :
Vedo'khilo dharmamùlaý
småti sìle ca tadvidam,
àcàraúcaiva sàdhùnàm
àtmanastuthir eva ca.

Manavadharmaúàstra II.6.

(Seluruh pustaka suci Veda adalah sumber pertama dari
Dharma, kemudian tradisi(adat-istiadat),tingkah laku orang
terpuji dari orang - orang budiman yang mendalami Veda,
juga kebiasaan orang - orang suci dan akhirnya kepuasan diri).

"Dharma eva hato hanti
dharmo raksati raksitaá,
tasmàd dharmo na hantavyo
màbo dharmo hato'vadhìt.

Manavadharmasàstra VIII.15.
(Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya,
Dharma yang dipelihara akan memeliharanya, oleh karena
itu Dharma jangan dilanggar, melanggar Dharma akan
menghancurkan diri sendiri).


Berdasarkan kutipan tersebut, maka Dharma mengandung pengertian yang sangat luas, yakni segala aspek kehidupan, utamanya kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bahkan pergaulan antar sesama umat manusia. Selanjutnya tentang penjabaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari, dinyatakan dalam Vhaspati Tattwa 26, meliputi: Úìla (bertingkah laku yang baik), Yajña (melakukan korban suci dan mengembangkan kasih sayang), Tapa (pengendalian diri), Dàna (memberikan bantuan materi, pendidikan dan moralitas), Pravåjya (tekun menambah pengetahuan), Diksà (menyucikan diri) dan Yoga (senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa).

Dari uraian tersebut di atas, jelas bagi kita istilah atau kata Dharma mengandung pengertian dan penjabarannya sangat kompleks. Galungan dan Kuningan disebut sebagai hari kemenangan Dharma, maka pada hakekatnya adalah hari tekadnya moralitas dan integritas umat manusia. Dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang secara berulang-ulang, mengingatkan umat Hindu betapa pentingnya umat manusia untuk senantiasa berjalan di jalan Dharma yang akan memberikan jaminan hidup dan kehidupan guna mewujudnyatakan kesejahtraan dan kebahagiaan yang sejati.

C. Kesadaran terhadap pluralisme kehidupan beragama
Agama Hindu sebagai agama yang pertama dipeluk oleh bangsa di kepulauan Nusantara, mengantarkan bangsa ini memasuki alam sejarah serta memberikan rona dan mewarnai sosio-budaya bangsa Indonesia. Bukti-bukti peninggalan kejayaan Hindu di masa yang silam meresapi budaya bangsa dan hal ini dapat kita lihat tidak saja dalam karya monumental seperti candi Siva Prambanan dan candi-candi yang bersifat Hinduistik di pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, juga dalam bidang seni sastra. Hal yang sungguh mengagumkan adalah usaha dari para pemimpin (raja) di Jawa Tengah dan Timur di masa lalu mengambil pengaruh sosial-budaya yang baik dari luar
dan disesuaikan dengan keperibadian bangsa. Dalam hal ini dapat
diketengahkan usaha membahasajawakan (menyusun kembali dengan bahasa Jawa)karya-karya maharsi Vàlmìki dan Vyàsa pada masa kejayaan Saýjayavaýsa di Jawa Tengah (majawakenvàlmìkimata, membahasajawakan buah pikiran/karya sastra maharsi Vàlmìki) dalam bentuk karya sastra Jawa Kuno berupa kakawin Ràmàyana yang aslinya berbahasa Sanskerta. Demikian pula karya-karya maharsi Vyàsa (di Jawa disebut Bhagawan Abhiyoso) pada masa pemerintahan raja Dharmavamsa Teguh Ananta Vikramottunggadeva) di Jawa Timur berupa kakawin Mahàbhàrata yang juga berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno mangjawakenvyàsamata, mambahasajawakan karya maharsi Vyàsa). Karya-karya sastra itu, kini tersimpan dan masih dilestarikan di Bali (dibaca dan diterjemahkan berulang-ulang dalam Pasantian). Demikian pula sasanti Bhineka Tunggal yang sumbernya adalah Sutasoma karya sastra dari jaman kejayaan Nusantara, Majapahit.

Peninggalan lainnya adalah berupa seni tari yang kini masih tersebar di seluruh Indonesia seperti tari Dewi Sri di Aceh, Jawa Barat (disebut juga Ni Pohaci), Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Hal yang sangat penting adalah ajaran agama Hindu telah pula mewarnai sikap hidup masyarakat di masa lalu hingga kini (walaupun mereka tidak lagi menganut agama Hindu) namun mereka memiliki kesadaran terhadap kebenaran yang mutlak.

Di dalam ajaran agama Hindu memang dibenarkan kepada umatnya untuk memilih jalan yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan untuk mengamalkan ajaran tersebut. Namun demikian mereka tidak boleh terlepas dari rambu-rambu nilai dasar seperti ajaran Tat tvam asi, yang memandang orang lain sebagai diri sendiri, perlunya membina keseimbangan dan keharmonisan dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta dan semua mahluk serta sesama manusia dan bahkan dengan mahluk hidup rendahan lainnya dan alam sekitarnya. Inilah kiranya yang memberi landasan terwujudnya keharmonisan dan
kerukunan hidup beragama bagi bangsa Indonesia sejak jaman dahulu.
Kita kembali patut mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, karena di samping kemerdekaan bangsa sebagai karunia-Nya, adalah juga kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara, dan pandangan hidup bangsa. Sejarah bangsa-bangsa di dunia telah membuktikan, bahwa negara yang tidak memiliki dasar negara, dan pandangan hidup yang kuat, bangsa itu terombang-ambing, tercabik-cabik oleh bangsanya sendiri atau bangsa lain. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena bangsa tersebut tidak memiliki pendirian yang kokoh, mudah hanyut kepada tawaran ideologi yang sesungguhnya tidak sesuai dengan keperibadian
bangsanya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ternyata tragedi Pemberontakan G.30 S/PKI telah menghitami sejarah bangsa ini, dan hal ini merupakan pelajaran yang sangat berharga, untuk senantiasa kita sadar bahwa ideologi asing sama sekali tidak cocok dengan keperibadian bangsa. Kita patut mengucapkan puji syukur kepada para pendiri negara yang telah menggali butir-butir Pancasila yang memang merupakan milik bangsa. Atas dasar Pancasila, ternyata bangsa Indonesia mampu mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan bangsanya melalui pembangunan di segala bidang, secara bertahap, dan terencana, dan kini telah memasuki alam reformasi di tengah-tengahberbagai krisis. Kita tidak bisa menutup mata, di satu sisi bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat telah berhasil
meningkatkan kesejahtraan, dan kemakmuran rakyat, dan bangsa Indonesia
walaupun belum merata secara keseluruhan, di lain pihak ketimpanganpun
nampak semakin menganga. Namun dibalik keberhasilan pembangunan itu, kita menyadari bahwa terdapat dampak negatif yang merupakan kendala, dan tantangan yang mesti kita koreksi, kita perbaiki, dan kita sempurnakan.

Beberapa kendala yang transparan dihadapan kita adalah kesenjangan sosial, dan ekonomi yang kiranya semakin lebar. Kita sangat sayangkan hampir lebih setahun di beberapa belahan Nusantara, khususnya Aceh dan Maluku masih terjadi kerusuhan yang membara akibat masalah SARA, berkaitan dengan kehidupan beragama. Kesatuan etnis atau suku, namun berbeda agama dapat pula menimbulkan masalah SARA, demikian pula
diikuti dengan kesenjangan sosial, memicu pula cepat munculnya berbagai kasus bernuasa SARA. Mengamati hal tersebut, rupanya di antara pemuka agama belum mampu membina umatnya, apalagi bila pemimpin umat yang wawasannya picik, yang tidak bersedia menerima perbedaan dan keanekaan kehidupan agama, akan merupakan provokator yang akan membakar akar rumput yang kering dalam masyarakat.
Mestinya setiap orang dan khususnya setiap pemuka agama menjadi penyejuk masyarakat, tidak membakar emosi massa atau umat. kata-kata atau istilah yang membakar emosi masyarakat sangat mudah diucapkan, tetapi bila telah meletus dan membakar, api yang besar tersebut sulit dipadamkan, luka yang dalam dan kerihan yang membara akan sulit disejukkan. Agama adalah ibarat kepala, maka hendaknya seseorang mampu untuk memberikan penghormatan yang tulus kepada mereka yang berbeda keimanannya.

Kita sangat sayangkan berbagai kasus muncul, termasuk pula di Bali yang bila tidak ditangani oleh pemerintah dan ditumbuhkan kesadaran masyarakat, akan mengundang bencana yang besar, sebagai contoh pelecehan agama di Bali dengan menggunakan simbol-simbol agama Hindu untuk kepentingan bisnis, dicaploknya kawasan suci oleh investor, karena masyarakatnya kurang memahami kawasan suci yang sangat berharga itu. Demikian pula dalam berbagai pertemuan antar Majelis Agama, kami telah beberapa kali menyampaikan tentang kekhasan daerah
masing-masing, misalnya pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu yang
dikenal pula dengan pulau seribu pura, hendaknya umat lain mengendalikan diri dalam pembangunan tempat ibadahnya, jangan kekhasan daerah justru karena uang berlimpah ruah membangun tempat ibadah yang besar-besar dan banyak di seantero Bali yang akan menyulut ketersinggungan umat Hindu. Demikian pula di depan sebuah pura, yang jaraknya kurang dari 100 meter dibangun tempat ibadah umat lain, akan memancing keresahan dan kerusuhan di sekitar tempat itu.

Sebuah pertanyaan muncul (termasuk di media massa), mengapa kalau dulu tidak dipermasalahkan! Jawabannya jelas sekali, pada masa yang lalu kekuasaan dimikian mencengkram suara rakyat, sehingga dengan gertak aparat, maka apa saja dan mudah saja di bangun di pulau tercinta ini. Kini umat Hindu sudah merasakan sangat sesak di lingkungannya, untuk itu melalui forum ini, kami berharap DPRD Tk.I Bali segera menindak lanjuti Perda tentang Desa Pakraman dan juga tentang Kependudukan, untuk mencegah jangan muncculnya kasus Ambon
di pulau Bali. Hal ini sangat mungkin, di jalur, pariwisata dan bisnis, kita dapat amati berapa orang pengusaha umat Hindu yang bercokol di sana.

Pengendalian oleh Pemerintah, termasuk pembatasan dalam penggunaan lahan pertanian hendaknya segera dilakukan. Kesenjangan kondisi dan persepsi yang berbeda perlu dijembatani dengan mendekatkan pandangan yang kurang senada itu. Persepsi yang sama tentang pelestarian Bali dalam jangka panjang perlu dikembangkan dalam mengantisipasi dampak globalisasi haruslah dicernati dengan baik, dan berani secara tegas menolak yang buruk dilihat dari pengamanan sistem politik, ekonomi, sosial budaya , dan Hankamneg. Konkritnya bangsa Indonesia (termasuk umat Hindu) tidak menolak penghormatan terhadap HAM, keterbukaan,
demokratisasi, pasar bebas, apalagi nilai-nilai itu memang diamanatkan dalam Pancasila, dan UUD 1945.

D. Rekonsiliasi Nasional satu kebutuhan
Adalah suatu kenyataan yang harus diterima bahwa masyarakat Indonesia
merupakan masyarakat yang pluralistis baik dari segi agama, etnis, bahasa maupun budaya. Bahwa bangsa Indonesia telah menerima kenyataam tersebut dengan ikhlas dapat dilihat dari motto "Bhinneka Tunggal Ika", dan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ini merupakan wujud dari ajaran Dharma Negara yang kita kenal sebagai Wawasan Kebangsaan yang terus menerus perlu kita tanamkan, pelihara, dan tingkatkan terutama kepada generasi muda. Dengan pengamalan Dharma Negara yang mantap yang
sesungguhnya identik dengan Wawasan Kebangsaandan rekonsiliasi nasional, maka umat Hindu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan bangsa Indonesia akan senantiasa berdiri sejajar, dan mampu mengejar berbagai ketertinggalan dari suku bangsa dan bangsa-bangsa lainnya.

Perlu pula kita pahami, bahwa Wawasan Kebangsaan sebagai konsep, adalah suatu pengertian yang relatif baru. Konsep ini berasal dari luar, dan bukan merupakan konsep tradisional Nusantara. Konsep ini dianggap baru lahir bersamaan dengan Revolusi Amerika (1776), dan Revolusi Prancis (1789). Konsep kebangsaan bagi bangsa Indonesia baru muncul abad ke-20 melalui pendidikan modern (Barat) kepada pemuda pelajar kita. Di sisi yang lain kitab suci Veda, dan susastra Hindu lainnya memberikan inspirasi, dan nilai-nilai dasar berkembangnya Wawasan Kebangsaan melalui ajaran yang dirumuskan sebagai Dharma Negara, yakni kewajiban setiap orang, di samping menjadi umat beragama yang baik, sekaligus menjadi warga negara yang patuh,
taat, dan berjiwa patriotisme membela, dan menegakkan kemerdekaan bangsa serta perperanan, dan berperan serta dalam mensukseskan pembangunan baik sebagai subyek maupun obyek pembangunan bangsa.
Wawasan Kebangsaan kita tumbuh secara perlahan. Bermula dari kesadaran
kebangsaan awal dalam tahun 1908, meletus menjadi kesadaran kebangsaan yang lebih luas pada tahun 1928, dan memuncak pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pengalaman menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan ini perlu selalu dipupuk, dikembangkan, dimasyarakatkan, dibudidayakan serta didukung oleh institusi politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam. Kesadaran kebangsaan adalah kesadaran yang amat dinamis, artinya, ia bisa betumbuh dengan mantap jika kondisinya sesuai, tetapi juga bisa merosot jika kondisi yang mendukungnya itu tidak dipelihara dengan baik.

Untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional sangat perlu meningkatkan pengamalan Wawasan Kebangsaan dalam mengantisipasi perkembangan di masa depan, perlu dikembangkan pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
a. Pandangan integralistik, dan paham kekeluargaan bangsa Indonesia yang mencerminkan kearifan bangsa dalam hidup berbangsa, dan bernegara dijadikan pangkal dari seluruh upaya pengamalan Wawasan Kebangsaan.
b. Upaya pelestarian jiwa, dan semangat Nilai-Nilai 45 yang dipadukan dengan pembudayaan Pancasila merupakan pengejawantahan dari pembudayaan Wawasan Kebangsaan sebagai gerakan pendidikan politik yang perlu terus menerus disegarkan, digelorakan dan diwujudnyatakan.
c. Kesinambungan pembangunan yang dilandasi oleh telaahan strategis yang cermat harus mewaspadai setiap perkembangan yang terjadi, khususnya yang berhubungan dengan semakin cepatnya perkembangan politik, dan perekonomian intraasional yang dapat mempengaruhi paham, dan cara berpikir yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.
d. Melalui pembangunan bidang sosial budaya yang mengandalkan kualitas
sumber daya manusia Indonesia yang tinggi, dibangun suasana kebersamaan yang tulus , dan bertanggung-jawab untuk menjamin stablilitas pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional.
e. Pengamalan Wawasan Kebangsaan dalam rangka Rekonsiliasi Nasional perlu lebih dikembangkan secara terpadu dengan lebih mendayagunakan teknologi, politik, dan pertahanan keamanan negara, dan kepeloporan pimpinan bangsa, tokoh agama dan aparat dijadikan pendorong, dan pengayom dalam penerapannya.
f. Dalam seluruh upaya tersebut, generasi muda perlu lebih ditampilkan
perannya sebagai pelaku utama peningkatan kualitas pengamalan Wawasan
Kebangsaan melalui berbagai bentuk kegiatan.

Di kalangan umat Hindu, rekonsiliasi nasional dan Wawasan Kebangsaan
(termasuk pula dalam usaha untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama) ini dapat ditingkatkan melalui ajaran, doktrin atau pendekatan Dharma Negara, yakni satu sisi dari ajaran Dharma Agama yang mengharapkan setiap umat menjadi umat beragama yang baik sekaligus juga menjadi warga negara yang patuh, setia, taat, dan cinta kepada tanah air, bangsa, dan negaranya.

Berikut kami kutipkan mantra-mantra Veda tentang ajaran cinta tanah air dan bangsa dan pluralisme beragama.

a. Meningkatkan cinta tanah air, dan bangsa, sedia berkorban untuk kejayaan bangsa:

Màtà bhùmiá putro ahaý påthivyàá
Atharvaveda XII.1.12.

(Bumi Pertiwi adalah ibu kami, dan kami adalah putra-putranya)

Dyaur nah pita janita nabhir-atra
Atharvaveda IX.10.12

(Langit (yang membentang di atas) adalah ayah kami,
pemula, pelindung, dan pusat kelahiran kami)

Vayaý ràstre jàgåyàma purohitàá
Yajurveda IX.23.

(Semoga kami selamanya tetap waspada melindungi
bangsa kami yang terus maju)


Vayaý tubhyaý balihåtaá syàma
Atharvaveda XII.62.

(Hendaknya kami dapat mengorbankan hidup kami
untuk kejayaan bangsa)

b. Melindungi, dan menjujung kemerdekaan bangsa, dan negara

Arcan anu svaràjyam
Rgveda I.80.1.
(Selalu memberi penghormatan kepada kemerdekaan
(bangsa, dan negara)


Viúi ràûþre jàgåhi rohitasya
Atharvaveda XIII.1.9.
(Wahai pemimpin, semoga engkau tetap siaga untuk
melindungi warga negara, dan bangsa)

c. Berperanan, dan berperan serta memajukan kesejahtraan bangsa

Idaý ràûþraý pipåhi saubhagàya
Atharvaveda VII.35.1.
(Bimbinglah bangsa ini menuju kesejahtraan/kemakmuran)

Idaý ràûþram akaraá sùnåtàvat
Atharvaveda XIII.1.20.
(Buatlah bangsa ini jujur, dan bermurah hati)

Ràûþraý ca roha, dravinaý ca roha
Atharvaveda XIII.1.34.
(Buatlah bangsa ini menjadi kuat, dan makmur)

d. Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat

Pumàn pumàýsaý pàripàtu visvataá
Rgveda VI.75.14.
(Hendaknyalah masing-masing orang membantu
(menolong), dan menjaga yang lainnya).

Lokakrtaá pathikrto yajàmahe
Atharvaveda XVIII.3.25.
(Hendaknya memberi penghormatan kepada para pembangun
jalan, orang-orang yang menaikan drajat rakyat)orang banyak).
kejahatan)

Krtaý tìrthaý supràpànam
Rgveda X.40.13.
(Mereka menyiapkan air minum bagi orang banyak
guna memuaskan dahaga)

Saýjñànaý naá svebhiá
saýjñànaý aranebhiá.
Atharvaveda VII.52.1.
(Semoga kami hidup rukun dengan orang-orang yang
dikenal, dan akrab dengan orang-orang asingpun)

Naràsaýsaý sudhrûþamam,
apasyam saprathastamam.
Rgveda I.18.9.
(Orang yang dermawan, dan orang yang mau berusaha
(dengan giat) segera memperoleh popularitas)


e. Menumbuhkan kerukunan/rekonsiliasi nasional

Janaý bibhrati bahudhà vivàcasaý
nànàdharmanaý påthivì yathaikasam,
sahasraý dhàrà dravinasya me duhàý
dhraveva dhenuranapasphuranti.
Atharvaveda XII.1.45
(Bekerjalah keras untuk kejayaan ibu pertiwi, tumpah darah,
dan bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah.
Berilah kepercayaan yang pantas kepada mereka yang
menganut kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah
mereka seluruhnya seperti halnya keluarga yang tinggal
dalam satu rumah. Curahkanlah kasih sayangmu, bagaikan
induk sapi yang tidak pernah meninggalkan anak-anaknya.
Ribuan sungai mengalirkan kekayaan yang memberikan
kesejahtraan kepada kamu, anak-anaknya).

Demikian antara lain beberapa butir mantram Veda yang dapat mendorong kita untuk mengamalkan ajaran Dharma Negara dalam rangka menumbuhkan rasa cinta tanah, dan bangsa yang pluralistik serta rekonsiliasi nasional dewasa ini.


E. Simpulan
Sesungguhnya bila setiap umat beragama memahami dan mengamalkan ajaran
agamanya dengan baik, meningkatkan wawasan kebangsaan dan kerukunan antra umat beragama dengan peningkatan kualitas iman, amal, dialog, kerukunan dan kerjasama antar umat beragama yang dinamis, maka kita akan dapat meningkatkan moral, etik dan akhlak bangsa kita, yang pada akhirnya akan mudah mewujudkan rekonsiliasi nasional. Wasana kata mengakhiri tulisan singkat ini kami kutipkan pendapat Svami
Visvananda, dari Sri Ramakrishna Ashram, Bombay (1938) yang menyatakan: Let us try to go to the fundamentals and basic principles of our religion and march onward and Godward with charity for all and malice toward none.

Sarveûaý svasti bhavantu
Sarveûaý úàntir bhavantu
Sarveûaý purnaý bhavantu
Sarveûaý maògalaý bhavantu.

Semoga semuanya memperoleh keselamatan
semoga semuanya memperoleh kedamaian
semoga semuanya memperoleh kesempurnaan
semoga semunya memperoleh kemuliaan

Oý Úàntiá Úàntiá Úàntiá Om.



DAFTAR PUSTAKA

1. Bagus,I Gusti Ngurah : Kehadiran Agama Hindu di Indonesia, dan Peranannya 1993 Dalam Pembangunan Nasional, Makalah pada 100 Tahun
Parlemen Agama-Agama sedunia, dan Kongres Nasional I Agama-Agama di Indonesia,Yogyakarta,11-12 Okt. 1993.

2. Dvivedi, Kapil Deva : The Essence of the Vedas, Vishva Bharati Research 1990 Institute, Gyanpur, Varanasi, India.

3. Koesnoe, H. Moh. : Posisi Adat, dan Hukum Adat Dalam Era Globalisasi, 1994 Makalah, FH. Universitas Udayana, Denpasar.

4. Moerdiono : Beberapa Pemikiran Strategis tentang Peningkatan
1995 Pengamalan Wawasan Kebangsaan dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua, dalam buku Himpunan Makalah Peningkatan Kualitas Pengamalan Wawasan Kebangsaan Dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua,
Departemen Penbitmassmed,DPP GOLKAR, Jakarta.

5. Mukti Ali, H.A. : Menatap hari depan dengan hidup rukun antar umat
1993 beragama, Makalah pada 100 Tahun Parlemen Agama-Agama sedunia, dan Kongres Nasional I Agama-Agama di Indonesia, Yogakarta, 11-12 Oktober 1993.

6. Mumukshananda,Svami : The Complete Works of Svami Vivekananda,I, Advaita 1992 Ashram, Calcuta.

7. Pendit, Nyoman S : Bhagavadgita, Ditjen Bimas Hindu, dan Buddha, Dep. 1970 Agama R.I., Jakarta.

8. Radhakrishnan, S. : The Bhagavadgita, George Allen and Unwin Ltd. London. 1949
9. 1970 : A Source Book in India Philosophy, Princeton University
Press, New Jersey.

10. Sundria, Ketut : Nasionalisme Baru dalam era Globalisasi, Makalah pada 1995 Seminar Perayaan HUT Proklamasi 17 Agustus1945, GMNI Denpasar, tanggal 11 September 1995.

11.Tim Penyusun Materi : Bahan Diklat Kader Golkar,Kelompok C, 1995 DPP Golkar,Jakarta. Diklat
12.Visvananda, Svami : Unity of Religions, dalam The Religions of the World, 1937 Sri Ramakrishna Centenary Parliament of Religions,
Calcuta.
13. Walker, Benyamin : Hindu World, Vol.II. Munshiram Manoharlal,
1983 New Delhi.

--------------------
*Makalah disampaikan dalam Dikusi Panel "Hari Raya Galungan dan Kuningan Dalam Perspektif Budaya Rekonsiliasi Nasional", dilaksanakan oleh Komite Sentral Mahasiswa Universitas Udayana, pada hari Selasa, 18 Januari 2000, bertempat di gedung BPG Denpasar, dihadiri oleh Muspida, Tokoh Masyarakat, LSM, Organisasi Kemasyarakatan, Senat Mahasiswa, Mahasiswa, Pengurus OSISSMU dan masyarakat umum di daerah Bali.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

I Made Titib
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri
Denpasar

I have no other wish
in this world but to find
light and joy and peace
through Hinduism


Mahàtmà Gàndhì



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Hindu
TitleAuthorViews
Intisari Ajaran Agama Hindu Hinduisme 2,729
Banten Putu Satria 2,510
Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan Berbagai Sumber 1,908
Reinkarnasi Wisnu 1,900
Galungan dan Tujuh Sifat Dharma Ketut Adi 1,609
Moksa Yoga Adi Purwanto 1,554
Kebenaran Reinkarnasi Wisnu 1,506
Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih Budi Paramartha 1,484
Grahasta Wisnu 1,399
Tentang Dana Punia Wayan Catrayasa 1,394
Yoga Marga Yoga Adi Purwanto 1,353
Catur Asrama Wisnu 1,257
Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal Balipost 1,218
Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar Oka Suryawan 1,205
Makna Hari Raya Kuningan Berbagai Sumber 1,189

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker