Gudang Lagu
(by: Ketut Adi)

Sabtu, 30 November 2002, yang dalam almanak Bali disebut Saniscara Kliwon Wuku Kuningan umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Ritual tiap 210 hari ini menjadi satu rangkaian dengan perayaan Hari Galungan yang dirayakan sepuluh hari sebelumnya. Filosofinya, pada hari Kuningan ini umat Hindu mempersembahkan ritual khusus kepada para leluhur sebelum 'pulang' ke alam dewa-dewa. Setelah 'menjenguk' alam manusia sejak Hari Raya Galungan, saat umat Hindu merayakan kemenangan memerangi segala ripu (kekotoran batin) dan bersiap dengan jiwa bersih suci menegakkan kebenaran di dalam kehidupan selanjutnya.

Dalam hubungan dengan leluhur, umat Hindu meyakini adanya konsep berutang kepada leluhur. Wujud ekspresi yang paling lazim kita lihat adalah upacara penyucian atman orang yang meninggal agar bisa menyatu dengan-Nya. Karena umat Hindu meyakini atman yang sebelumnya bersemayam di dalam wadag manusia harus disucikan terlebih dulu agar bisa menyatu dengan Sang Pencipta. Hari Raya Kuningan adalah wujud penghormatan leluhur dalam bentuknya yang lebih transendental. Dia lebih mewadahi kerinduan manusiawi terhadap leluhur yang menghuni alam dewa-dewi.

Tetapi persoalan agama dan keberagamaan bukan hanya persoalan teologis dan ekspresi ritual untuk menghubungkan manusia dengan dewa-dewi dan Sanghyang Widhi. Dia juga memiliki dimensi kemanusiaan yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan manusia, persoalan bumi. Karena itulah umat Hindu tidak boleh berhenti memberi pemaknaan pada setiap ritual yang dilaksanakan. Diperlukan revitalisasi, reorientasi serta kreativitas untuk menggali dimensi makna upacara, agar bisa lebih menjawab masalah-masalah umat secara lebih realistis.

Seperti halnya upacara penghormatan leluhur Hari Raya Kuningan ini, bisa lebih dimaknai ke dalam konteks persoalan bumi, persoalan kekinian yang dihadapi dalam keseharian hidup. Misalnya dengan melihat realitas kian terkikis-habisnya warisan-warisan leluhur, seperti budaya, tanah atau goyahnya prinsip-prinsip moralitas Hindu yang cenderung menumbuhkan sikap-sikap permisif. Bahkan tampaknya, persoalan-persoalan bumi semacam ini ke depan lebih memerlukan perhatian bagi kita semua. Alasannya, pertama, karena dia bersifat realistik-temporer dan memerlukan penyikapan langsung. Alasan kedua, karena pemaknaan yadnya dalam konteks semacam ini bagi umat Hindu relatif 'terabaikan'. Umat lebih memberi penakanan pada yadnya yang ritualistik, karenanya pemaknaan yang lebih ke manusia masih harus terus dibangunkan di dalam keberagamaan umat.

Dalam konteks penghormatan kepada leluhur, barangkali perlu terus-menerus dibangkitkan kesadaran untuk menjaga tanah-tanah Bali agar tidak makin habis dari genggaman kepemilikan umat Hindu serta berubah peruntukannya tanpa memperhatikan nilai-nilai harmonisasi hubungan dengan Sang Pencipta, alam semesta dan manusia. Kesadaran semacam ini penting karena ketergangguan harmonisasi akan berdampak bukan saja langsung kepada lingkungan tanah Bali tetapi juga menggerogoti rasa bersalah kepada leluhur yang telah mewarisi tanah Bali beserta perangkat aktivitas religius-realistis untuk melestarikan alam sekaligus melestarikan manusia dari penggerogotan nafsu serakahnya mengeksploitasi alam.

Demikian juga menghormati leluhur bisa dengan memelihara warisan prinsip-prinsip moralitas Hindu secara teguh. Hal ini menjadi amat penting di tengah kecenderungan makin terbukanya pergaulan lintas agama, lintas etnis dan lintas kultur dengan segala eksesnya. Keterbukaan seperti ini mengandung potensi-potensi pembauran di samping fanatisme. Pembauran busaya yang tak mampu disikapi secara cerdas akan bisa menggulung umat Hindu ke tengah arus sikap permisif dan tidak kritis. Sementara fanatisme bisa berubah menjadi kepicikan dalam wujud proteksi berlebihan terhadap segala yang bernama warisan budaya. Padahal tidak setiap warisan budaya harus dijawab dengan sikap protektif dan defensif. Banyak hal yang harus dijaga dan dipelihara, seperti juga banyak hal yang harus direlakan terhapus secara kodrati.

Di hari Raya Kuningan sebagai momentum terbangunnya kesadaran penghormatan kepada leluhur ini seharusnyalah umat Hindu, apa pun profesinya -- sebagai Brahmana, Kesatria, Waisya, atau Sudra -- hendaknyalah menjadi lebih cerdas, membangun terus-menerus sikap widya dalam memaknai yadnya. Juga memberi keseimbangan melalui yadnya berupa action-action terhadap warisan leluhur. Seperti menghambat keserakahan untuk mengeksploitasi warisan leluhur, baik dalam bentuk fisik alam Bali yang dinaungi nilai-nilai kehinduan maupun produk-produk budayanya, semata-mata atas pertimbangan ekonomis. Karena bencana yang diakibatkan oleh sikap awidya atau kebodohan dan keserakahan hanya akan membuat umat Hindu terus-menerus merasa bersalah dan berutang kepada leluhur, sekalipun upacara terus-menerus digelar, Hari Raya Kuningan terus datang dan berlalu.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com


Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Hindu
TitleAuthorViews
Intisari Ajaran Agama Hindu Hinduisme 2,729
Banten Putu Satria 2,510
Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan Berbagai Sumber 1,907
Reinkarnasi Wisnu 1,900
Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional I Made Titib 1,891
Galungan dan Tujuh Sifat Dharma Ketut Adi 1,609
Moksa Yoga Adi Purwanto 1,554
Kebenaran Reinkarnasi Wisnu 1,506
Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih Budi Paramartha 1,483
Grahasta Wisnu 1,399
Tentang Dana Punia Wayan Catrayasa 1,394
Yoga Marga Yoga Adi Purwanto 1,353
Catur Asrama Wisnu 1,257
Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal Balipost 1,218
Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar Oka Suryawan 1,205

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker