Gudang Lagu

Hari Raya Galungan merupakan hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Hindu di Bali. Semua orang, terutama anak-anak dan kaum muda tentu menyambut hari raya ini dengan penuh suka cita, bahkan dengan menyiapkan pakaian baru dan sebagainya. Bagi para orang tua, kegiatan mereka disibukkan untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk perayaan Galungan. Berdasarkan kitab Usana Bali dan Kekawin Mayadanawantaka, Hari Raya Galungan merupakan perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Keberadaan hari raya ini sangat erat kaitannya dengan cerita Mayadanawa yang sangat terkenal bagi masyarakat Bali.

Pedoman perayaan Hari Raya Galungan beserta semua rentetannya berdasarkan pada kitab Sundari Gama. Rangkaian Hari Raya Galungan selengkapnya yaitu:

1. Hari Sugimanek Jawa
Dikenal juga dengan Sugihan Jawa, jatuh pada Hari Kamis, Wage, wuku Sungsang yaitu tgl 14 Nov 2002. Filosofinya yaitu kita mulai melakukan arga-puja bagi para Sulinggih, dan yoga samadhi. Sedangkan bagi umat adalah lebih meningkatkan lagi pelaksanaan Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata dan berbuat yang baik). Tata upacaranya yaitu marebu di Sanggah/Merajan, dan Pura dengan dengan sesajen Pangerebuan dan pangeresikan wewangian.

2. Hari Sugimanek Bali
Dikenal juga dengan Sugihan Bali, jatuh pada Hari Jumat, Kliwon, wuku Sungsang tgl 15 Nov 2002. Filosofinya yaitu kita membersihkan diri lahir bhatin, dan menghindari pengaruh Sapta Timira (tujuh kegelapan) dan Panca Wreta (lima bibit buruk). Tata upacaranya yaitu Matirtha Yatra (Matirtha Gocara) dengan mengunjungi tempat-tempat suci dan menghayati ajaran suci keagamaan.

3.Hari Panyekeban/Penapean
Jatuh pada Hari Minggu, Pahing, wuku Dungulan tgl 17 Nov 2002. Pada hari ini mulai turunnya Sang Kala Tiga Wisesa yaitu Bhuta Galungan.
Filosofinya yaitu kita selalu mewujudkan kesucian lahir bhatin dalam menghadapi godaan Sang Kala Tiga Wisesa. Tata upacaranya yaitu memeram (nyekeb) bahan-bahan untuk keperluan upacara seperti pisang dan tape.

4. Hari Panyajaan
Jatuh pada Hari Senin, Pon, wuku Dungulan tgl 18 Nov 2002. Pada hari ini mulai turunnya Sang Bhuta Dungulan. Filosofinya yaitu kita lebih meningkatkan kesungguhan dalam melakukan yoga semadhi. Tata upacaranya yaitu memuat aneka jajan untuk keperluan sesajen.

5. Hari Penampahan
Jatuh pada Hari Anggara, Wage, wuku Dungulan tgl 19 Nov 2002. Pada hari ini mulai turunnya Sang Bhuta Amangkurat. Filosofinya yaitu kita lebih menguatkan diri melawan godaan untuk menyongsong Hari Galungan.
Tata upacaranya yaitu melakukan Bhuta Yadnya di Catuspata (perempatan jalan), Caru di pekarangan, segehan dengan warna sesuai tempatnya dan jumlahnya sesuai dengan uripnya. Pada waktu menghaturkannya, sebutkan untuk Sang Bhuta Galungan. Mabyakala dan membuat penjor dilakukan pada sore harinya.

6. Hari Galungan
Jatuh pada Hari Rabu, Kliwon, wuku Dungulan tgl 20 Nov 2002. Filosofinya yaitu merayakan kemenangan Dharma atas Adharma dan keberhasilan melawan godaan Sang Kala Tiga Wisesa. Tata upacaranya yaitu menghaturkan sesajen kepada para Dewa, Bhatara dan Pitara.

Sesajennya Galungan ada untuk di beberapa tempat. Sesajen di Pelinggih utama yaitu tumpeng penyajaan, tumpeng wewakulan (jerimpen dewa), ajuman, canang meraka, pesucian, canang burat wangi serta perlengkapannya. Sesajen di pelinggih yang lebih kecil yaitu ulun carik (di ladang, tugu dan yang lainnya) berupa tumpeng panyajaan, ajuman, canang meraka, pesucian dan canang genten. Untuk para serangga (gumatap-gumitip) seperti rayap, semut, alat-alat perabotan sehari-hari yang dipakai di sawah, rumah tangga, sesajennya berupa tumpeng penyajaan dan canang genten. Di tempat membuat sesajen (di pemaruman) sesajennya yaitu sesayut pengambian, peras, penyeneng, dapetan, jerimpen, gebogan, pajegan, pesucian dan perlengkapannya serta berisi daging babi (lawar).

Mantranya pada waktu menghaturkan sesajen yaitu "Om pasang tabe pakulun Sang Hyang Kedali Puspa, ulun angaturaken sarining Sang hyang Siwa Raditya, sarining Sang Kedali Puspa, sarining ngamanah, angastuti Bhatara Siwa Tatagata, muang Bhatara Darma, muang Bhatara Budha, sarwa dewa-Dewi samodaya, kajenengan dining Sang Hyang teri Purusa awas sajining telung warna kabeh, winugerahan ipun naning janma, menadi sarwa tinandur murah kang sarwa tinuku, dirga hayu rastu tatastu ya namah". Di tempat menghaturkan sesajen diisi sesajen pengadangan (pakolem) masing-masing 3 buah (peras, ajuman, canang lenge wangi-burat wangi). Ucapkan doa "Pakulun Bhatara sarining Galungan, manusanira kina weruhaken sarining Galungan, ingsun weruh sari ning galungan, angisep sari rahina wengi, angisep sari ning buana kabeh, dadi ya ngulun Bujangga lewih akadang Ratu suka sugih sariran ningulun, kedep anak-anak aputu buyut, tumus tekeng anak putu buyut ningulun Sang Hyang Tiyodasa Saksi anyaksi ngulun".

Perlengkapan sesajennya yaitu :

-Tumpeng penyajaan : dasarnya ceper, berisi 2 tumpeng alit (kecil), kue, buah-buahan, sampian tangkih.
-Tumpeng wewakulan (jerimpen dewa) : dasarnya wakul kecil, berisi 1 tumpeng, raka-raka, kue, buah-buahan di sampian jait.
-Banten Pakoleman (pengadangan) : dasarnya taledan, berisi 2 ceper kecil, berisi nasi dan lauk-pauknya. Di taledan berisi 2 tumpeng, lauk-pauk (kacang saur) beralaskan tangkih atau ceper kecil, kue, buah-buahan, tebu, sampian, kepet-kepetan (sampian sodan) di canang burat wangi.
-Sesayut : dasarnya kulit sesayut, berisi nasi/penek, beserta kue, buah-buahan, tebu, sampian nagasari di lauk-pauknya.
-Pengambean : dasarnya taledan, berisi 2 tumpeng, tulung pengambean, kue dan buah selengkapnya, lauk-pauk, sampian tangga (atau boleh memakai tulung). Biasanya berisi tumpeng pangiring sehingga tidak perlu memakai tulung dan ketupat (tipat).
-Dapetan : dasarnya taledan, 1 tumpeng, aneka kue dan buah, lauk pauk, sampian jait.
-Panyeneng : dasarnya jejaitan yang sudah diukur jadi 3 bagian, yang berisi wija, tepung tawar, di nasi segau (nasi dicampur abu bakar dapur) diisi porosan bunga, tatebusan di bagian puncaknya.
Jerimpen : dasarnya keranjang jerimpen yang panjangnya sekitar 1,20 m, dasarnya wakul, di tengahnya berisi beras, base tampelan, bawang putih, pada uang kepeng di bagian puncak diisi sampian jerimpen. Di bagian pinggangnya dikelilingi aneka kue.
-Pajegan : dasarnya wanci, di atasnya teledan yang diisi pangkonan yang besar berisi nasi dan lauk-pauk (kacang-saur), aneka kue dan buah, ayam panggang.

7. Hari Umanis Galungan
Jatuh pada Hari Kamis, Umanis, wuku Dungulan tgl 21 Nov 2002. Hari untuk saling mengunjungi sanak keluarga. Filosofinya yaitu kita bersyukur menikmati segala anugerah Tuhan. Tata upacaranya yaitu Nganyarin, memperbaharui sesajen Galungan. Menikmati berbagai tarian dan kesenian traditional yang biasanya mengadakan pertunjukkan berkeliling (Ngalawang).

'Met Galungan...!





Article Directory: http://www.sumbercerita.com


Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Hindu
TitleAuthorViews
Intisari Ajaran Agama Hindu Hinduisme 2,729
Banten Putu Satria 2,510
Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan Berbagai Sumber 1,907
Reinkarnasi Wisnu 1,900
Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional I Made Titib 1,891
Galungan dan Tujuh Sifat Dharma Ketut Adi 1,609
Moksa Yoga Adi Purwanto 1,554
Kebenaran Reinkarnasi Wisnu 1,506
Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih Budi Paramartha 1,483
Grahasta Wisnu 1,399
Tentang Dana Punia Wayan Catrayasa 1,394
Yoga Marga Yoga Adi Purwanto 1,353
Catur Asrama Wisnu 1,257
Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal Balipost 1,218
Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar Oka Suryawan 1,205

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker