|
|
Liukan ombak pantai yang memecahkan karang
menandakan kebesaran Tuhan yang tiada tandingannya. Tiupan angin laut
Samudera Indonesia ini memecahkan keheningan umat yang dengan khusyuk
melantunkan doa-doa memohon karunia dari Beliau yang berstana di Pura
Masceti. Sebuah pura besar yang berada di tepian utara pantai untuk
memuja Batara Wisnu dengan saktinya Dewi Sri guna memohon kamakmuran.
Selain itu, di Pura Masceti juga sebagai tempat mencari kawisesan
(kesaktian) dan ilmu pengobatan bagi para balian.
PURA Masceti berstatus Pura Kahyangan
Jagat, kerap didatangi oleh umat dari sejebag jagat Bali. Pura Masceti
yang terletak di tepian pantai Desa Medahan-Keramas, Blahbatuh,
Gianyar, kerap menjadi tempat mencari keheningan jiwa. Pura suci yang
berusia tua yang juga merupakan kisah tapak tilas Dhang Hyang Dwijendra
ini ramai dikunjungi di saat hari suci umat Hindu. Setiap hari Purnama,
Tilem, Siwaratri bahkan saat diselenggarakan piodalan pada Anggarkasih,
Medangsia jejalan umat selalu memadati pura untuk melakukan
persembahyangan. Menurut Jero Mangku Pura Masceti, kata ''Masceti'' terdiri atas dua
suku kata, yakni Mas (sinar) dan Ceti (keluar masuk). Namun soal
keberadaan Pura Masceti ini tidak satu pun orang mengetahui kapan
pertama kali Pura Masceti dibangun. Meski tak ada prasasti, sebagai
bukti tertulis akan keberadaan pura ini ada bukti purana yang sumbernya
dari kumpulan data dari berbagai prasasti yang menyebutkan keberadaan
pura tersebut. Pura Masceti yang menjadi Pura Kahyangan Jagat ini juga berstatus
sebagai Pura Swagina (profesi). Sebagai Pura Swagina, Pura Masceti
bertalian erat dengan fungsi pura sebagai para petani untuk memohon
keselamatan lahan pertanian mereka dari segala merana (penyakit). Jero Mangku Pura Masceti mengatakan, keberadaan Pura Masceti
berdasarkan Dwijendra Tatwa adalah kisah perjalanan suci tokoh
rohaniwan dari tanah Jawa. Di sini disebutkan bahwa kisah perjalanan
Danghyang Dwijendra, pada zaman Kerajaan Dalem Warturengong sekitar
abad XIII. Saat itu Dhanghyang Dwijendra meninggalkan Desa Mas, melewati Banjar
Rangkan, Desa Guwang, Sukawati, menuju pantai selatan ke timur ke
daerah Lebih. Saat melewati Pura Masceti, di tengah sejuknya angin
pantai, Dhanghyang Dwijendra merasakan dan mencium bau harum semerbak
yang menandakan adanya Dewa yang turun. Sebuah cahaya tampak terlihat
dari dalam Pura Masceti. Dhanghyang Dwijendra pun masuk ke dalam pura yang pada waktu itu
pelinggihnya hanya berupa bebaturan (bebatuan). Di sana beliau serta
merta melakukan persembahyangan, menyembah Tuhan. Namun pada saat itu
tidak diperkenankan oleh Ida Batara Masceti, mengingat Dhanghyang
Dwijendra sebentar lagi melakukan moksa. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa Pura Masceti ini telah ada sebelum Dhanghyang Dwijendra datang ke
Bali. Kisah keberadaan Pura Masceti lebih jelasnya juga terdapat dalam Raja
Purana I Gusti Agung Maruti, yang ada di Puri Keramas. Dalam naskah
babad nomor 80.ab.81a. yang mengisahkan keberadaan I Gusti Agung Maruti
saat menjadi raja selama 26 tahun di Kerajaan Gelgel, Klungkung dan
juga dalam kisah keturunannya yang tersebar di jagat Bali, di antaranya
di Desa Keramas, Gianyar. Pada tahun 1672 (1750 M), I Gusti Agung Maruti bersamadi pada suatu
malam di Cawu Rangkan (Jimbaran). Saat melihat bersamadi, dilihatlah
ada sinar api, seperti warna emas di arah timur. Melihat keajaiban
tersebut, berangkatlah I Gusti Agung Maruti mencari sinar tersebut
hingga akhirnya tiba di tempat yang mengeluarkan cahaya emas itu.
Baliau kemudian menemukan tempat suci yang terbuat dari bebaturan,
berlokasi di dalam hutan dekat pantai. Tempat suci bebaturan yang ditemukan tersebut adalah Pura Masceti
(sekarang). Setelah mengaturkan persembahyangan dengan pasukannya, I
Gusti Agung Maruti kemudian melanjutkan perjalanan menuju suatu wilayah
yang kini dinamakan Desa Keramas. Sejak pemerintahan I Gusti Agung
Maruti di Keramas, bebaturan tersebut kemudian dilakukan penataan
sekaligus perbaikan bangunan suci. Dari berbagai versi cerita mengenai keberadaan Pura Masceti, mana yang
benar belum jelas. Jero Mangku Pura Masceti menegaskan bahwa ketenaran
Pura Masceti terjadi setelah masa pemerintahan I Gusti Agung Maruti
membangun kerajaan di Keramas. Pura Masceti mempunyai struktur bangunan suci dengan menganut konsep Tri Mandala. Jero Mangku Pura Masceti menuturkan, pada bagian jeroan (Utama Mandala)
di Pura Masceti terdapat beberapa pelinggih. Di antaranya Meru Tumpang
Lima merupakan pelinggih Ida Batara Masceti sebagai pelinggih utama.
Yang dipuja dalam hal ini adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai
Dewi Sri. Meru Tumpang Lima ini berdampingan dengan Meru Tumpang Tiga
pelinggih Batara Ulun Suwi, dan bagian selatan merupakan pemujaan
Batara Segara, kemudian pelinggih Sedahan Penyarikan, Sedahan Dasar
atau Pertiwi. Pelinggih Pesimpangan Gunung Lebah (Batur) dan Gunung Agung. Kemudian
terdapat pula pelinggih Ratu Nglurah Agung, Sedahan, Balai Pasamuan,
Balai Pewedaan, Piasan/Panggungan dan Piasan Tiang Sanga. Di Utama Mandala pura juga pada bagian barat laut yang hanya dibatasi
dengan tembok terdapat pelinggih pesimpangan Batara Pura Gelap yang
berada di Pura Besakih. Sebelah timur jeroan yang juga dibatasi dengan
tembok terdapat pelinggih Jero Kelodan istana Batara Ratu Mas Mayun.
Serta taman yang terdapat Padmasana dan Sedahan. Bagian Madya Mandala terdapat sebuah pohon besar yang di bawahnya
terdapat pelinggih Batara Ratu Lingsir Baten Ketapang. Selain itu juga
terdapat beberapa sedahan, dan wantilan sebagai tempat masanekan
(istirahat) para pemedek yang tangkil ke pura. Sedangkan pada bagian
jaba sisi terdapat Sedahan dan Balai Kulkul. Upacara Peneduh Dalam melaksanakan upacara piodalan di Pura Masceti yang menjadi
penanggung jawab penuh adalah warga subak yang menjadi pengemong
sekaligus pengempon pura yang berjumlah sebanyak 20 subak. Mereka
berasal dari sekitar wilayah Desa Medahan, Keramas, dan Tedung.
Meskipun penanggung jawab piodalan di Pura Masceti sebanyak 20 subak,
setiap kali menggelar upacara yang wajib ngayah hanya klian (ketua) dan
wakil klian bersama istrinya dibantu oleh warga lain yang menjadi
pengayah. Mempersiapkan piodalan tampak dilakukan sekitar 10 hari sebelum
diselenggarakan piodalan. Termasuk, Selasa (5/2) lalu saat Bali Post,
banyak pangayah yang mempersiapkan sarana piodalan di pura tersebut.
Selain upacara piodalan, di Pura Masceti juga diselenggarakan upacara
peneduh guna memelihara tanaman padi agar tumbuh subur, terhindar dari
berbagai serangan hama dan penyakit. 'Para petani bahkan hingga kini
sama sekali tidak berani mengabaikan pelaksanaan upacara peneduh
tersebut,'' jelas Jero Mangku. Sebagai rasa syukur para petani terhadap berkah yang telah dilimpahkan
Ida Batara Masceti, setiap Anggarkasih Kulantir dilaksanakan upacara
Ngusaba Tipat. Selain itu juga digelar upacara ngaturan berem setiap
Anggarkasih Julungwangi.
| Title | Author | Views |
| Intisari Ajaran Agama Hindu |
Hinduisme |
2,729 |
| Banten |
Putu Satria |
2,510 |
| Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan |
Berbagai Sumber |
1,907 |
| Reinkarnasi |
Wisnu |
1,900 |
| Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional |
I Made Titib |
1,891 |
| Galungan dan Tujuh Sifat Dharma |
Ketut Adi |
1,609 |
| Moksa |
Yoga Adi Purwanto |
1,554 |
| Kebenaran Reinkarnasi |
Wisnu |
1,506 |
| Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih |
Budi Paramartha |
1,483 |
| Grahasta |
Wisnu |
1,399 |
| Tentang Dana Punia |
Wayan Catrayasa |
1,394 |
| Yoga Marga |
Yoga Adi Purwanto |
1,353 |
| Catur Asrama |
Wisnu |
1,257 |
| Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal |
Balipost |
1,217 |
| Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar |
Oka Suryawan |
1,205 |
|
|
|
|
|
|
|