|
|
PERAYAAN Siwaratri identik dengan
melaksanakan monobrata (tidak berbicara), upawasa (puasa) dan jagra
(begadang). Tak hanya itu, kisah Lubdaka pun sering dijadikan flash
back perayaan Siwaratri. Bagi kebanyakan orang, Siwaratri sering
dianggap malam penebusan dosa. Padahal sebenarnya tidak begitu. Istilah
yang mungkin lebih tepat adalah malam perenungan dan mohon ampunan.
Perbuatan kita dalam perjalanan hidup
banyak yang keliru, maka saat Siwaratri-lah kita renungkan semua apa
yang telah kita lakukan sekaligus introspeksi dan pembenahan. Siwaratri
juga harus dilihat sebagai latihan peningkatan moral sehingga kita akan
selalu ingat dengan Tuhan dan rajin berdoa. Secara umum Siwaratri bermakna memberi keseimbangan jiwa pada diri
seseorang. Dengan selalu melatih bidang kerohanian kita, niscaya apa
yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari akan seimbang. ''Seimbang
dalam artian tidak hanya wacana, tetapi juga realisasinya,'' kata I
Gusti Made Ngurah, Kakanwil Departemen Agama Bali. ''Wacana dan realisasi terus berputar sesuai konsep Tri Kaya Parisudha.
Apa yang kita pikir, kita wacanakan kemudian kita realisasikan,
begitulah yang ideal,'' jelas pria asal Bedulu Gianyar ini. Pemaknaan
Siwaratri sendiri, menurutnya, juga harus berlangsung kontinu. Jangan
hanya saat Siwaratri. Memang betul puncak perenungan saat Siwaratri.
Namun perenungan diri sendiri pun bisa dilakukan setiap saat. Dan,
tidak harus menunggu puncak. Siwaratri, menurut mantan pengurus PHDI Bali Drs. I Ketut Suda Sugira,
adalah hari turunnya Siwa. Beliau turun untuk memberi anugerah bagi
pemuja-Nya. Pemuja beliau akan dapat berkah dan pahala. Pada puncaknya
itu, diharapkan semua berdoa mohon keselamatan bangsa. Pusatkan pikiran pada Siwa untuk mendapat keselamatan dan ampunan. Di
samping itu, upayakan terus menciptakan suasana dan iklim perdamaian
dan kerukunan. I Gusti Made Ngurah menjelaskan, dalam konteks masa kini kita melihat
profesi Lubdaka sebagai pemburu. Semua orang melakukan ''perburuan''.
Namun, tujuan yang ingin dicapai berbeda-beda. Ada yang bekerja demi
kepentingan sendiri. Ada yang berjuang demi kepentingan keluarga dan
berburu demi kepentingan bangsa. Lebih lanjut Kakanwil Depag Agama Bali ini menjelaskan, perburuan yang
dilakukan harus sesuai etika dan moral yang seimbang lahir dan batin.
Jangan saling iri hati dan saling menghalangi. ''Sepanjang tujuannya
sama yakni berjuang meningkatkan kehidupan lahir batin, kita harus
saling dukung,'' katanya. Siwaratri juga harus dimanfaatkan untuk perenungan diri. Jangan
keseringan ceplas-ceplos berdasarkan emosi. Ini bisa menimbulkan
masalah baru. Sekarang ini arogansi etnis, keagamaan dan kedaerahan
mulai muncul. Daripada masalah itu menjadi panjang dan rumit, lebih
baik kita semua renungkan diri. Perayaan Siwaratri hampir dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia
yang ada umat Hindunya, bahkan sampai ke India. Di India ada perayaan
khusus tentang hari Siwaratri itu. Di Mataram, misalnya, perayaan
Siwaratri diisi dengan tradisi Rsi Yadnya. Selain mengadakan jagra,
keesokan paginya mereka pergi ke geria untuk mengaturkan punia dan
nunas tirtha. Bagaimana perayaan Siwaratri di Bali? Suda Sugira dan I
Gusti Made Ngurah mengatakan, yang bagus memang seperti itu (Rsi Yadnya
di Mataram). Hanya, di Bali yang lumrah seperti itu biasanya diadakan
saat Banyupinaruh. ''Kalau tradisi itu bermanfaat positif, bisa kita
ikuti,'' ungkap Ketua Forum Komunikasi Antarumat Beragama Bali ini. Suda Sugira juga menambahkan, di daerah Gianyar, sekitar Payangan,
tradisi seperti itu sudah ada. Di Besakih pun sebenarnya juga ada.
Selesai sembahyang Siwaratri, keesokan harinya umat mapunia kapada Ida
Pedanda. Ini dilakukan bersama-sama, tidak lagi perorangan. Punia
kepada sulinggih, kata I Gusti Made Ngurah, merupakan tanggung jawab
umat. ''Gerakan sosial untuk kesejahteraan sulinggih dan keagamaan,''
katanya. I Gast Made Ngurah mengatakan, sangatlah tepat jika pemaknaan Siwaratri
diarahkan kepada perhatian sulinggih. Sebab, sulinggih selama ini
kurang mendapat perhatian dari umat. Banyak sulinggih yang hidup
sederhana, namun sisia-nya hidup berkecukupan, bahkan ada yang memiliki
rumah dan mobil mewah. Ia mengatakan, punia kepada sulinggih harus dilakukan karena sulinggih
dibatasi oleh sesana-nya. Mereka tidak boleh lagi bekerja secara kasar,
umatlah yang menanggung mereka. Sebagai contoh, bagi yang ingin madiksa
harus punya sisia. Kalau tidak ada sisia siapa yang akan bertanggung
jawab.
| Title | Author | Views |
| Intisari Ajaran Agama Hindu |
Hinduisme |
2,729 |
| Banten |
Putu Satria |
2,510 |
| Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan |
Berbagai Sumber |
1,907 |
| Reinkarnasi |
Wisnu |
1,900 |
| Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional |
I Made Titib |
1,891 |
| Galungan dan Tujuh Sifat Dharma |
Ketut Adi |
1,609 |
| Moksa |
Yoga Adi Purwanto |
1,554 |
| Kebenaran Reinkarnasi |
Wisnu |
1,506 |
| Grahasta |
Wisnu |
1,399 |
| Tentang Dana Punia |
Wayan Catrayasa |
1,394 |
| Yoga Marga |
Yoga Adi Purwanto |
1,353 |
| Catur Asrama |
Wisnu |
1,257 |
| Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal |
Balipost |
1,218 |
| Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar |
Oka Suryawan |
1,205 |
| Makna Hari Raya Kuningan |
Berbagai Sumber |
1,189 |
|
|
|
|
|
|
|