Pengertian lebih
luas pada ketuaan adalah selain usia lanjut, juga mempunyai banyak
pengalaman hidup, mampu mengatasi gelombang pahit getirnya kehidupan,
serta mempunyai kebijaksanan yang dilandasi oleh ajaran agama dan ilmu
pengetahuan. Keturunan atau generasi lanjutan yang mapan adalah anak
kandung atau anak angkat yang sudah mandiri, mampu berdiri sendiri
dalam menjalani kehidupan, dan tidak bergantung lagi pada orang tua
baik dibidang ekonomi maupun yang lainnya. Jika dikaitkan dengan
tahapan pekerjaan atau tugas, keadaan yang sesuai untuk vanaprastha
adalah bila telah memasuki masa pensiun, jadi usia ketika itu sekitar
56 atau 60 tahun. Disaat itu biasanya kewajiban orang tua terhadap
anak-anaknya sudah selesai secara skala dan niskala. Selesai secara
skala artinya seperti uraian diatas, yaitu anak-anaknya sudah mandiri;
selesai secara niskala artinya upacara manusia yadnya bagi anak-anaknya
sudah selesai diselenggarakan. Sesuai dengan tradisi beragama Hindu di
Bali yang mengacu pada Lontar Dharma Kauripan, Yadnya Prakerthi, dan
Yama Purana Tattwa, upacara manusia yadnya yang menjadi kewajiban orang
tua kepada anak dimulai sejak bayi dalam kandungan sampai pawiwahan
dengan urut-urutan sebagai berikut : magedong-gedongan, mapag rare,
kepus puser, tutug kekambuhan, nigang sasihin, otonan, ngeraja sewala,
dan mepandes.
Vanaprastha
tidaklah diartikan sebagai meninggalkan rumah lalu pergi menyepi
kehutan untuk bertapa, tetapi vanaprastha dimaknai sebagai hidup yang
hening dan suci, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari ikatan
keduniawian, dan menguatkan pengendalian diri berdasarkan ajaran Agama
Hindu. Ajaran agama yang diperoleh pada masa brahmacari kini
dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari secara lebih mantap, lebih
memusatkan perhatian pada bidang spiritual.
Orang yang melaksanakan vanaprastha disebut vanaprasthin,
hendaknya selalu menjaga kesucian dan kesehatan jasmani/rohani, banyak
melakukan pekerjaan mulia, bijaksana, bersahabat, berbicara manis dan
menyenangkan, melakukan sadhana, melaksanakan latihan-latihan
kerohanian (yoga), melakukan berbagai "vrata" atau pengekangan diri,
suka belajar dan bergaul pada orang-orang suci (Sulinggih), sering
me-dharma yatra, dll.
Pekerjaan mulia dalam arti seluas-luasnya adalah implementasi
trihitakarana sebagai wujud bhakti kepada Hyang Widhi. Trihitakarana
mencakup unsur-unsur "parhyangan" adalah keselarasan hubungan manusia
dengan Hyang Widhi, "pawongan" adalah keharmonisan hubungan sesama
manusia, dan "palemahan" menjaga kelestarian alam semesta.
- Sadhana
menurut kitab suci Wrehaspati-tattwa adalah : mengerti pada ajaran
Weda, tidak terikat pada pengaruh indria, dan tidak berharap menikmati
hasil karya swadharma.
- Vrata
adalah pengekangan diri terhadap materi dan cara berbicara (mona),
makanan dan minuman (upawasa), dan menjauhkan sifat-sifat malas atau
suka tidur (jagra). Dalam masa vanaprastha, diupayakan untuk melengkapi
kekurangan-kekurangan bidang spiritual di masa sebelumnya yaitu masa
brahmacari dan grhastha. Masa ini juga dapat dikatakan sebagai masa
konsolidasi untuk menjadi manusia yang sempurna. .
Manusia yang sempurna menurut Upanisad adalah manusia yang mengetahui tentang
"diri-nya" sebagaimana dinyatakan dalam Katha
Upanisad 1.3.3 dan 4 :
Atmanam
rathinam vidhi, sariram ratham eva itu, buddhim tu sarathim viddhi,
manah pragraham eva ca. Indriani hayan ahur visayam tesu gicaran,
atmendriye mano yuktam bhoktety ahur manisinah.
Artinya :
Ketahuilah
bahwa atman adalah tuannya sebuah kereta, dan kereta itu adalah badan
jasmani; ketahuilah pula bahwa budhi itu adalah kusirnya kereta,
pikiran adalah tali kekangnya, indria disebut sebagai kudanya, dan
sasaran indria adalah jalanan. Atman yang dihubungkan dengan badan
jasmani, budhi, pikiran dan indria yang terkendali dengan baik itulah
kenikmatan sejati yang dikatakan oleh orang-orang yang bijaksana karena
membawanya kejalan dharma.
Makna
dari Upanisad ini menegaskan persyaratan seorang manusia yang sempurna
adalah mempunyai badan yang sehat (diibaratkan sebagai badan kereta
yang kuat), budhi yang baik (diibaratkan sebagai kusir yang pandai),
pikiran yang sehat (diibaratkan sebagai tali kekang yang kuat), indria
yang sehat (diibaratkan sebagai kuda yang sehat/kuat), dan arah
kehidupan yang berke-Tuhan-nan (diibaratkan sebagai jalan yang jelas).
Dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109 disebutkan sebagai berikut :
Adbhirgatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyati, widyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena
cuddhyati.
Atinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa
disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan
pengetahuan yang benar.
Tubuh dibersihkan dengan air, artinya lebih luas tidak hanya mandi,
tetapi termasuk memelihara badan/jasmani dengan memakan sesuatu yang
baik (satvika ahara).
Permohonan memperoleh kesempurnaan hidup disebutkan dalam
Yayurveda XXXVI. 24 :
Om
tac caksur devahitam purastacchukram uccarat, pasyema saradah satam,
jivema saradah satam, srnuyama saradah satam, pra bravama saradah
satam, adinah syama saradah satam, bhuyasca saradah satat.
Artinya :
Ya Hyang Widhi, semoga kami selama seratus tahun dapat menyaksikan
mata-Mu yang bersinar itu diatas kehendak-Mu, muncul dihadapan kami,
semoga kami hidup selama seratus tahun, semoga kami mendengar selama
seratus tahun, semoga kami berkata yang baik selama seratus tahun,
semoga kami dapat menegakkan kepala selama seratus tahun, ya bahkan
lebih dari seratus tahun. Makna dari mantram Yayurveda itu adalah
permohonan agar mendapatkan sinar terang dalam artian pendekatan
spiritual kepada Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa serta diberikan
waktu yang cukup untuk menyempurnakan kehidupan di dunia sebelum sampai
tiba saatnya Atman bersatu dengan Brahman (moksa)