“Tika! Sudah siap belum?”
Teriakan Raka dari bawah balkon terdengar. Gadis tujuh belas tahun itu
buru-buru meraih sepatu ketsnya. Kalau dia tidak turun ke bawah dalam
lima menit, bisa-bisa si Bangor itu ngomel panjang lebar.
“Tikaaa….!!!”
Yang punya nama melongokkan kepalanya ke bawah. Satu telunjuknya
menempel di bibir. Sekali lagi Raka teriak, Papa yang lagi sakit gigi
bakal ngedamprat cowok satu itu habis-habisan.
“Mam, pergi dulu, ya?” Tika mencolek bahu Mama. Wanita setengah baya yang masih cantik itu mengangguk.
“Sama Raka kan?” Tika membenarkan.
Mama menarik nafas lega. Kalau Tika jalan dengan kawalan Raka yang
berbadan besar itu, rasa-rasanya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Mereka sudah berteman baik, tapi … mereka pacaran! Namun, kala
disinggung, Tika selalu mengelak.
“Ihh.. Mama … kita kan cuma temenan!”
Begitu dalih putri tunggalnya itu setiap Mama dan Papa meledek. Lalu …
apa benar hubungan keduanya tak lebih dari itu? Mama tak bisa menebak.
***
“Tika, hari Minggu mau ke mana?”
Raka menjawil bahu Tika. Saat itu mereka lagi nongkrong di kantin. Asyik menikmati air kelapa muda.
“Enaknya ke mana ya, Ka? Gue lagi malas joging. Eh kita ngamen, yuk?”
Raka mengucek poni Tika gemas. Ini anak … ada saja ide gilanya!
“Katanya mau mulai alim, biar kayak Mbak Ratna!? Masa sekarang pengen
ngamen sih?”
Tika kena batunya. Yang disebut Mbak Ratna itu kakak kelas mereka,
aktivis rohis yang dihormati Tika karena keanggunan dan sikap
bijaksananya.
Tapi … lagi-lagi Tika selalu bisa berkelit.
“Eh, emangnya kenapa? Sekali-kali punya kegiatan berbeda dong! Lagian,
ngamen hari Minggu kan enak. Kagak ada pelajarnya. Namanya juga cari
nafkah. Yang penting halal! Kali aja dapat uang lebih gede!” dengus
Tika cuek.
“Ah .. mending lo gue kasih noban deh, gratis daripada ngamen! Gue aduin Mama,lho!”
“Aduin aja! Paling doi minta ikutan! He he he!” Gadis kelas dua es em u itu malah menantang.
Raka lagi-lagi geleng kepala. “Gue serius, soalnya gue mau naik gunung hari Sabtu. Mau ikut?”
“Sama siapa lagi? Lo ajak si Koko sama Ari deh. Nanti gue ajak si
Laras. Gue ingin kenalin, tuh anak, sama ulet bulu! He he he ..” Raka
memandang Tika serius.
“Kalo berdua memangnya kenapa? Gue kan cowok baik-baik lagi!” suara
Raka tegas. Tika menghentikan kesibukannya mengunyah kelapa muda.
“Tapi .. kayaknya nggak bisa Ka, anak-anak rohis mau bikin acara
rujakan sambil silatulrahmi dengan anak kelas satu. Eh, lagian, kalau
jauh gitu jangan cuma berdua Ka, nggak enak. Entar kita dikira pacaran
lagi!”
Deg! Dada Raka berdetak. Pacaran?
Sejauh ini memang banyak yang mengira mereka berdua pacaran. Hampir
nggak ada yang percaya sama penjelasannya bahwa dia dan Tika cuma teman
baik.
Si koko misalnya, berkali-kali dia meledeknya sebagai cowok yang
setia.“Setia nih ye.. lo nggak bosen bareng Tika doang selama
bertahun-tahun ini?”
Atau..
“Gile lo Ka, awet ama sih sama si Tika!”
“Apa sih resepnya bisa nggak putus-putus selama lima tahun lebih?”
Resepnya? Waktu itu Raka cuma menyahut asal, “Supaya nggak putus-putus? Jangan jadian dong! Pasti nggak bakal putus!”
Tapi, tetap nggak ada seorang teman pun yang percaya. Setelah
beberapa kali mencoba menjelaskan, akhirnya Raka menyerah. Membiarkan
orang-orang sekitar mereka yang menganggap mereka pacaran.
Hal serupa menimpa Tika. Gadis imut itu juga sering mendapat
pertanyaan serupa. Tapi bukan Tika kalau tidak bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padanya dengan baik.
“Tik, lo benar ya, pacarnya Raka?”
Waktu Nona nanya begitu, Tika langsung pasang muka misterius.
“Nona pengen tahu?”
Dan si gadis hitam manis itu pun mengangguk. Tika langsung menadahkan tangannya, sambil pasang muka melas, “Cepek dulu dong!”
Kali yang lain si rese Laras yang penasaran. “Tik, serius nih. Gue
naksir sama Raka. Jadi gue perlu tahu dia pacar loe apa bukan?”
Tika sengaja diam. Dan Laras harus mengulang pertanyaannya tiga kali sebelum mendapat jawaban dari gadis itu.
“Nngg .. jawabannya multiple choice. Lo pilih sendiri aja, ya? a.
pacaran b. hampir pacaran c. tunangan d. suami-istri, e. bukan salah
satu di atas. Nggak usah buru-buru jawabnya Ras. Soalnya nggak ada
hadiahnya, kok!”
Begitulah, baik Tika maupun Raka membiarkan orang sekitar mereka
bingung dengan kedekatan keduanya. Sebetulnya, dahulu mereka sudah
pernah menjelaskan, kalau Tika dan Raka cuma sohib baik doang. Eh,
begitu mereka menjelaskan yang benar, justru banyak yang nggak percaya.
Capek, akhirnya kedua anak muda itu malah jadi suka asal kalau ada yang
menanyakannnya.
Mereka memang bukan sepasang sejoli. Setidaknya belum. Tapi …, entah
mengapa, baik Tika maupun Raka belum ada yang kecantol orang lain.
Jadi… sebetulnya, gimana sih perasaan keduanya?
Ide itu akhirnya muncul begitu saja. Anehnya, bukan dari Tika yang
biasanya suka mengeluarkan ide-ide aneh, tapi justru dari Raka. “Tik,
kita pura-pura pacaran aja, yuk?”
Tika sempat bingung.
“Kamu kenapa sih, Raka? Kok, tiba-tiba aneh begitu?”
Raka mengangkat bahu.
“Ya, kita coba saja, cuma pura-pura ini. Masalahnya, kayaknya cuma
kita doang, deh yang belum pacaran. Temen-temen yang lain sudah punya
gandengan.”
Tika yang akhir-akhir ini dekat dengan Mbak Ratna, ketua keputrian
mereka sebetulnya merasa agak nggak enak. Nggak pacaran saja sudah
sering mendapat tausiyah karena bersahabat dengan Raka.
“Biar bagaimanapun Tika …” ucap Mbak Ratna suatu hari padanya,
“sulit sekali menemukan persahabatan yang tulus dengan lawan jenis.
Percaya deh, sama Mbak!”
Waktu itu Tika berdalih,“Sulit bukan berarti nggak bisa kan Mbak? Siapa tahu Raka termasuk sahabat yang sulit dicari itu!”
Dan Mbak Ratna harus menarik nafas panjang menghadapi sikap keras kepala adik kelasnya itu.
Buat Tika, dibalik sikapnya yang cuek bebek itu, sebetulnya dia
menghargai anak-anak rohis, dia bahkan ingin suatu hari bisa
benar-benar menjadi salah satu diantara mereka. Tetapi, kalau itu
berarti harus menjauhi Raka, kayaknya kok, nggak adil.
Agar tidak memutuskan hubungan persahabatannya dengan Raka,
belakangan dia menyuruh cowok itu ikutan aktif di rohis. Minimal datang
sebulan dua kali bertepatan dengan acara pengajian gabungan. Dan Raka
menuruti permintaan Tika. Nah, kalau sekarang mereka pura-pura pacaran?
Kan berabe?
Raka masih menunggu jawabannya.
“Mau, ya? Cuma pura-pura ini!”
Meski masih ragu, Tika akhirnya mengiyakan. Mungkin nggak buruk-buruk amat kali, ya?
Maksud Tika, seneng juga kan bisa ngerjain temen-temen mereka yang
selama ini suka ingin tahu. Wajah kocaknya muncul. “Sebetulnya ..
kenapa sih, orang harus pacaran, Ka?”
Raka menggeleng lagi.
“Gimana, setuju nggak?!”
Dan sore itu … mereka akhirnya sepakat pura-pura jadian. Pacaran!
Berita peresmian hubungan mereka berdua, memang tidak terlalu
mengejutkan. Banyak teman yang mengira selama ini mereka memang
pacaran. Cuma masalah waktu sebelum diproklamirkan. Dan mereka gembira,
karena Tika dan Raka amat kelihatan serasi. Satu-satunya yang bersedih
adalah kelompok anak-anak rohis. Termasuk mbak Ratna.
Sebetulnya Tika mau menjelaskan, bahwa semua itu cuma pura-pura.
Bahwa persahabatannya dengan Raka masih sebening dulu, tetapi Raka
melarangnya.
“Nggak usah deh, Tik! Nanti malah bocor sama teman-teman yang lain!”
Ya sudah, akhirnya dia memilih diam.
Terus, adakah yang berubah dalam hubungan mereka berdua? Sebagai
pacar (pura-pura), Raka merasa harus melakukan apel alias wakuncar tiap
malam Sabtu. Juga mengajak Tika ke tempat-tempat yang lebih romantis.
Nonton misalnya.
Di hadapan teman-teman lain, Raka juga berusaha agar terlihat lebih
mesra. Sesekali dilingkarkannya tangannya ke bahu Tika, atau
menggandeng tangan gadis itu.
Sebetulnya sih, sebelum perjanjian ini, Tika merasa biasa-biasa saja
jika terjadi kontak fisik dengan Raka, tapi sekarang… rasanya kok, jadi
beda. Apa Raka merasakan hal serupa? Tika nggak tahu.
Buntut-buntutnya, Tika merasa agak malas jalan bareng Raka yang
lebih romantis itu tidak membuat perasaannya nyaman. Bahkan, seakan
mereka tidak lagi cuma pura-pura.
Tidak ada lagi dialog-dialog santai. Raka juga memintanya tampil
lebih feminin jika mereka bepergian, katanya biar nggak dikira jalan
sama teman atau adik.
Gadis tujuh belas tahun itu akhirnya merasa terikat dan banyak
diatur oleh Raka. Dan sekarang … Raka menunggunya di bawah. Apa yang
sebaiknya dia lakukan, ya? Menghilang?
Hus! Tika kan bukan nenek sihir! Panggilan Mama berkali-kali tak
dihiraukannya. Dan, ketika Mama muncul dikamarnya, dia tak bisa
menghindar.
“Aduh .. anak manis! Ditunggu Raka di bawah kok, diam saja! Katanya mau ke ulang tahun teman?!”
Tika tak bergerak. Masih meringkuk di bawah kemulan hangat selimutnya.
“Tik .. Tika.. kamu nggak apa-apa kan?”
Pertanyaan Mama malah memberi ide padanya,“Kayaknya Tika nggak enak badan deh, Ma!” katanya.
Lho? Gantian Mama yang bingung. Sebab seharian ini, anak itu
kelihatan lincah-lincah saja. Jangan-jangan ada hubungannya dengan Raka
sebelum cowok itu datang, putri tunggalnya itu kelihatan sangat sehat
dan bersemangat.
“Tik .. kalau kamu memang sakit, nggak masalah. Mama bisa kasih
pengertian kepada Raka. Tapi .. kalau kamu melakukan ini karena punya
masalah dengan Raka sebaiknya diselesaikan. Jangan dihindari!”
Hmm .. tampaknya pendapat Mama ada benarnya. Berpikir begitu,
membuat Tika bangkit dari tempat tidurnya. Gadis manis itu mulai
bersiap.
Pesta ulang tahun teman sekelas Raka sama sekali tidak menarik minat
Tika. Gadis itu lebih banyak melamun selama acara berlangsung. Hatinya
sebal karena sikap Raka yang jadi berlebihan dimatanya. Berlagak mesra,
ihh!
Kenapa ya, si Raka seperti menjiwai banget? Padahal mereka kan cuma pura-pura pacaran?
Syukurlah, akhirnya Raka ikut menyadari dan mengajak Tika pulang
lebih cepat. Meski sebetulnya dia lebih suka berada di sana lebih lama
dengan Tika.
“Tik, mampir ke Pak Kumis dulu, ya? Mama tadi nitip bakso.”
Suara Raka diselingi getaran mesin mobil. Tika yang sudah tidak bersemangat hanya mengangguk.
Sambil menunggu pak Kumis membuatkan bakso, baik Raka maupun Tika
tak banyak bersuara. Mereka menikmati kediaman yang tiba-tiba terjadi.
Lalu, tanpa ditebak sebelumnya, Raka meraih kedua tangan Tika dan
menatap gadis itu tajam. Mau nggak mau Tika jadi salting!.
“Ka .. kenapa sih?” suara Tika heran.
Raka tak menjawab keheranan Tika. Cowok itu sendiri tak mengerti
kenapa dia bersikap demikian. Yang dia lakukan cuma menuruti dorongan
hati. Tiba-tiba saja dia merasa ingin dekat dengan Tika, ingin
menyentuhnya.
Lalu sekali lagi, dorongan hati itu pula yang membuat Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Tika.
Mendapat agresi yang tiba-tiba .. Tika hampir menjerit.
Wahh, kacau, Raka seperti kehilangan kontrol dan ketenangan yang
selama ini dimilikinya. Sekuat tenaga gadis manis itu mendorong Raka.
Langkah berikutnya? Tika kabur, berlari menjauhi mobil sohib baiknya
itu. Meninggalkan Raka yang termangu di dalamnya.
Masa bodoh! Lebih baik dia naik bis pulang, daripada bersama Raka dengan sikap anehnya itu!
Di dalam bis patas AC, gadis itu merayapi jalan-jalan yang
dilaluinya. Sementara hatinya merenungi jalinan persahabatan yang telah
dibinanya sekian tahun bersama Raka. Seharusnya mereka cuma bersahabat,
selamanya sahabat. Kenapa jadi begini?
Tika mengoreksi dirinya. Benarkah mustahil bersahabat dekat dengan
lawan jenis tanpa pamrih? Tanpa harus menjurus-jurus dalam kedekatan
antara cowok dan cewek? Sepenuhnya persahabatan yang bening?
Ahh… barangkali perkataan Mbak Ratna benar. Hal itu amat sulit
ditemui! Buktinya, Raka yang telah tahunan dikenalnya bagai mengenal
telapak tangannya sendiri bisa berubah. Bisa kehilangan kendali. Bisa
tergoda… setan?!.
Kalau hal serupa terjadi lagi, akan cukup beruntungkah dia
menyelamatkan diri? Menjaga kehormatannya sebagai Muslimah seperti
sering didengarnya dalam kajian-kajian rohis?
Saat kata Muslimah itu bergaung di telinganya, Tika melihat bayangan dirinya di kaca jendela.
Muslimah! Mulianya kata itu! Sungguh amat tak pantas disandangnya …setidaknya saat ini.
Tika melirik bajunya yang minim memperlihatkan jenjang kakinya yang
telanjang. Lalu belahan dada yang rendah. Rambutnya yang dirangkai ke
atas, membuat leher jenjangnya terlihat jelas.
Barangkali … tidak sepenuhnya salah Raka! Cowok itu cuma
memanfaatkan kesempatan! Tapi Dia? Dia merencanakan seluruh detail
penampilan yang menggoda ini.
Layak kah dia berjejer bersama Muslimah lain dengan keanggunan mereka? Dengan jilbab rapi membalut tubuh?
Ahh … tiba - tiba Tika ingin menangis.
Bis yang ditumpanginya tetap bergerak, seiring dengan malam yang
terus merayap pelan. Sementara itu Tika membiarkan air mata kesadaran
membasahi kedua pipinya.
Mulai besok dia akan berubah. Ya, dia akan menjadi Muslimah yang
lebih baik. Batin Tika berkali-kali dengan wajah basah air mata.
Ketika akhirnya bis yang ditumpanginya berhenti di depan rumah, butiran
bening itu masih mengalir deras. Tika sama sekali tidak berusaha
menghapusnya. Karena dia tahu, tiap butir air mata yang jatuh ..
menyiratkan hasrat dan semangat untuk hijrah!!!.