Waktu
itu di tepi pantai duduklah seorang wanita di atas karpetnya dan
didekatnya terhidang secangkir teh. Dia memandangi lingkaran matahari
yang sedang tenggelam di ufuk untuk melewatkan satu hari dari hidupnya
yang sudah mencapai usia 70 tahun. Dia memandangi air laut yang
memantulkan sinar ufuk yang berwarna kuning keemasan. Terlihat sangat
indah. Akan tetapi, dia tidak pernah melupakan berapa banyak tragedi
dan cerita yang bergejolak di dalam hatinya. Lalu dia kembali ke
tempatnya, mengingat-ngingat hakikat kehidupannya yang ternyata mirip
dengan laut di hadapannya.
Di
dekatnya duduklah sebuah keluarga yang datang ke laut untuk memecah
rutinitas kehidupan sehari-hari. Juga untuk melupakan sebagian dari
mesin kehidupan sehari-hari dengan segala hiruk-pikuknya dan ketegangan
jiwa yang ditimbulkannya.
Perhatikanlah,
sebagian anggota keluarga menghabiskan waktu mereka sambil mengobrol ke
sana kemari dan menyantap makanan mereka hingga lewat tengah malam.
Sementara nenek tua itu tetap duduk seorang diri sambil minum teh
memandangi lautan. Tiba-tiba salah satu dari mereka tidak kuasa menahan
dirinya dan berkata : “Apakah engkau ingin kami mengantarmu ke suatu
tempat? Jangan-jangan ada sesuatu yang buruk. Kami tidak melihat
siapa-siapa di dekatmu.”
Nenek
itu menjawab : “Entahlah, tapi ia meninggalkan secarik kertas di
tanganku.” Laki-laki itu langsung mengambilnya dan membacanya. Ternyata
tertulis, “Siapapun yang membaca tulisan ini harus mengirimkan wanita
ini ke panti jompo.” Mereka semua tersentak kaget ketika mengetahui
tragedi yang menimpa nenek ini. Padahal, sepanjang hidupnya dia pernah
menyusui, begadang dan hamil untuk anak durhaka yang membuangnya begitu
saja ke tepi laut ketika usianya sudah senja. Persis seperti laut yang
membuang buihnya ke pantai.
Hendaklah
kita semua mengambil pelajaran berharga dari kisah ini. Dan hendaklah
kita tahu bahwa akhir perjalanan orang yang berbuat seperti itu adalah
sangat buruk. Kita semua harus mendidik putera-puteri kita dengan
pendidikan yang baik, agar kita dapat menjamin bakti mereka di dalam
kehidupan dan doa mereka di dalam kematian.
[Dicuplik dari : Ahmad Sâlim Bâduwaylân, MausÅ«’ah al-Qoshosh al-Mu`atstsiroh, Ind : ”Malam Pertama Setelah Itu Air Mata”, Pustaka ELBA, Surabaya : 1428/2007]