Gudang Lagu

Kesibukan di dunia kerja hampir empat tahun belakangan mewarnai hari-hariku. “Wanita karier” inilah predikat yang kusandang sekarang. Ditahun pertama bekerja aku sangat bahagia karena aku sudah dapat mewujudkan keinginan orang tua menjadi seorang pegawai yang sudah ber-SK (PNS). Di satu sisi aku sangat menikmati pekerjaan ini karena aku bisa memprakrikkan langsung ke pasien ilmu kesehatan yang kupelajari waktu sekolah. Di sisi lain rutinitas yang kujalani hari demi hari sebagai tenaga paramedis di sebuah instansi kesehatan milik pemerintah, kadang membuatku jenih dan bosan.

Entah kenapa, pekerjaan yang selama ini aku impikan membuatku tidak puas dan membuatku semakin jauh dari Allah, mungkin ini karena pengaruh lingkungan kerjaku yang jauh dari nilai-nilai Islam. Acara mingguan kumpul-kumpul dengan akhwat di salah satu partai sudah lama juga tidak kuikuti. Rasanya sekarang aku benar-benar jauh dari Allah. Semangatku untuk mempelajari Islam pun semakin melemah. Ya, Allah, apa yang terjadi padaku, berilah hamba-Mu ini petunjuk. Subhanallah, saat diriku benar-benar sendiri dan kehilangan arah, Allah memberiku hidayah untuk mengenal manhaj salaf dari sebuah bulletin yang diberikan oleh seorang temanku. Dari bulletin yang kudapat, maka kuberanikan diri untuk mengikuti kajian yang membuat diriku penasaran.

Kajian aneh apa ini, kok ini dibilang bid’ah itu dibilang bid’ah, pikirku. Aku mencoba bertanya kepada seorang akhwat yang duduk di sebelahku tentang yang disampaikan ustadz dalam kajian tersebut. Dengan sabar akhwat tersebut menjelaskan kepadaku bahwa semua perkara baru dalam Islam, yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bid’ah, dan setiap ibadah yang kita lakukan harus ittiba’ (mengikuti) Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Satu per satu penjelasan dari akhwat tadi kucerna walau banyak yang tidak sesuai dengan ilmu yang kudapat dari sebuah partai Islam selama ini.

Aku pun semakin penasaran mengikuti kajian salaf ini, aku berusaha tiap minggu mengikuti kajian ini dan membeli buku-buku bermanhaj salaf untuk menambah ilmuku. Alhamdulillah aku semakin mengerti. Setelah lama aku mengikuti kajian salaf, aku pun baru mengetahui bagaimana hukum wanita bekerja di luar rumah, ini dibolehkan selama tidak melanggar syariat. Lalu bagaimana dengan pekerjaanku yang masih ber-ikhtilat dengan lawan jenis…apakah semua ini syar’i? sepertinya aku sudah bisa menjawab pertanyaan itu. Namun di sisi lain, timbul pertanyaan, bagaimana dengan harapan orang tuaku, yang merasa telah berhasil mendidikku denagn menyekolahkanku sampai aku bekerja kini. Semua ini menjadi dilemma di hatiku…Ya Allah, aku mengakui betapa mulia syariat Mu yang memerintahkan wanita untuk tetap dirumah agar terhindar dari fitnah, tapi karena lemahnya iman ini hamba belum sanggup meninggalkan pekerjaan ini, hamba belum sanggup mengecewakan orang tua hamba. Ya Allah…betapa hinanya hamba-Mu yang dhaif ini..Waqarna fii buyutikunna…..(Al-Ahzab:33)
Hari-hari dengan rutinitas pekerjaan masih kulalui, aku berusaha untuk meminimalisir ikhtilat dengan lawan jenis. Tapi aku masih tetap berikhtilat dengan pasien, mau bagaimana lagi memang sudah tuntutan pekerjaan, semoga Allah mengampuniku. Dalam hati aku berharap kalau Allah takdirkan menikah nantinya, aku dapat berhenti bekerja, karena ada suami yang akan menafkahiku. Walaupun keinginanku ini bertentangan dengan orang tuaku. Semoga Allah kabulkan…

Di tahun kedua setelah aku mengenal manhaj salaf, aku mendapatkan tawaran dari seorang teman untuk ta’aruf dengan seorang ikhwan yang semanhaj denganku di kota temapatku bekerja. Tentu saja tawaran itu kusambut dengan baik dan orangtuaku pun menyetujuinya. Impian menikah dengan suami yang bisa mendidik dan menafkahiku seakan-akan sudah di depan mata. Namun manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menetapkan. Qadarullah prosesku dengan ikhwan tersebut batal karena adat istiadat yang ditetapkan keluarga ikhwan sebagai syaratuntuk menikah, yaitu dengan memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar kepada keluarga si ikhwan. Keluargaku tak menyetujui syarat keluarga ikhwan yang sangat tidak syar’I tersebut. Kenapa terbalik ya….seharusnya kan wanita yang diberi mahar, pikirku. Dan ikhwan-nya memilih mengundurkan diri karena belum bisa berdakwah kepada keluarganya, aku hanya bisa bersabar dan berharap ganti yang lebih baik dari Allah, semua ini pasti ada hikmahnya.

Sekarang sudah di tahun keempat aku bekerja. Kemandirianku sebagai wanita bekerja pernah membuatku bangga. Emansipasi …..aku adalah salah satu korbannya. Slogan yang berasal dari kaum barat ini pernah sangat memperngaruhi diriku. Hingga aku bercita-cita menjadi wanita karier yang mandiri dan berkedudukan sama dengan laki-laki. Selain diriku, masih banyak wanita lain yang menjadi korban emansipasi. Mereka terpengaruh slogan menyesatkan, dan merasa sama kedudukannya dengan laki-laki, karena bisa mencari nafkah sendiri. Kebanyakan wanita yang menjadi  korban emansipasi menganggap dirinya sudah setara dengan kaum laki-laki, wal’iyyadzubillah. Begitu mulia syariat Allah, laki-laki dilebihkan derajatnya karena menikahi kaum wanita. Dan wanita pun dimuliakan Allah untuk tetap dirumah menjadi seorang istri dan ibu-ibu dari anak-anak suaminya. Tapi kenyataan ini membuatku tidak habis pikir, kenapa masih banyak kaum pria menginginkan calon istri dari kalangan wanita yang bekerja d luar rumah dengan alasan bisa membantu dirinya dalam mencari nafkah, lalu…di manakah letak kemuliaan kaum adam ini, kalau mereka masih membebankan mencari nafkah kepada istri-istri mereka.
Masih teringat olehku celetukan teman kerjaku,”Eh, ada yang mau cari istri lho, kayaknya cocok denganmu. Orangnya sudah mapan dan dia mau istri yang kerja.” Begitu kata temanku. Tawaran seperti ini, tidak hanya nggak sekali dua kali aku terima, tapi sudah cukup sering. Betapa syukurnya teman-teman kajianku yang sudah menikah. Suami mereka tidak menginginkan mereka hanya diberi tanggung jawab mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak mereka, tanpa disibukkan oleh dunia kerja yang terkadang membuat pusing kepala.

Kabar dari seorang temanku baru-baru ini membuatku terkejut, ternyata ikhwan yang pernah gagal proses denganku dulu. Mau menjalani ta’aruf denganku karena aku adalah wanita yang bekerja yang bisa membantunya mencari nafkah. Benar-benar aneh, ternyata ini hikmah kegagalanku menikah dengan ikhwan itu…aku diselamatkan dari seorang calon suami yang akan membebaskan mencari nafkah kepada istrinya.Alhamdulillah ‘ala kulli hal
Kuberharap dan mohon kepada Allah agar kelak diberi suami yang shalih, mengerti tanggung jawabnya sebagai suami, mau menafkahiku tanpa membebankan tugas mencari nafkah kepadaku, karena ingin menjadikanku istri dan ibu yang bisa memberikan perhatian penuh bagi dirinya dan anak-anaknya. Selain itu, aku juga berharap agar suamiku kelak bisa menerimaku apa adanya, bukan karena aku seorang wanita bekerja yang bisa membantu mencari nafkah untuknya….
(Seorang akhwat yang berusaha untuk istiqomah di dunia yang penuh fitnah)





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

Rubrik Kisah Nyata, Majalah Nikah Edisi April 2007, hal 54.



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Islam
TitleAuthorViews
Perbedaan Antara Qodho dan Qodar Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin 2,749
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 Muhammad Husain Haekal 2,511
Sejarah Hidup Muhammad Muhammad Husain Haekal 2,201
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 2,086
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 Muhammad Husain Haekal 2,007
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 Muhammad Husain Haekal 1,952
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 1,820
Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan Muhammad Husain Haekal 1,745
Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan Maramis Setiawan 1,677
Tips Sholat Khusyu noinitial 1,498
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 8 Muhammad Husain Haekal 1,467
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 Muhammad Husain Haekal 1,454
Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 Muhammad Husain Haekal 1,311
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedelapan - Dari Pembatalan Piagam Sampai Kepada Isra' 3 Muhammad Husain Haekal 1,273
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 2 Muhammad Husain Haekal 1,262

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker