Gudang Lagu

PENGANTAR CETAKAN KEDUA (3/9)

QUR'AN TIDAK DIUBAH-UBAH

Ia percaya sekali kepada kaum Orientalis dan kepada pendapat mereka. Memang ada segolongan  Orientalis  yang beranggapan seperti  yang  dikutipnya  itu.  Tetapi  anggapan mereka ini menunjukkan, bahwa mereka terdorong oleh maksud-maksud  yang tak  ada  hubumgannya dengan ilmu pengetahuan. Hal ini sudah bukan rahasia lagi. Sebagai bukti,  cukup  apa  yang  mereka katakan,  bahwa  versi  "Dan  membawa  berita gembira dengan kedatangan seorang rasul  sesudahku,  namanya  Ahmad,"  yang tersebut   dalam   Surah  "Ash-Shaf"  (61)  ayat  6,  adalah ditambahkan sesudah Nabi wafat untuk  dijadikan  bukti  atas kenabian  Muhammad  dan  Risalahnya dari  Kitab-kitab  Suci sebelum Qur'an.

Andaikata  yang  berpendapat  demikian  ini  dari   kalangan Orientalis  yang  benar-benar  jujur  demi ilmu pengetahuan, tentu tidak perlu mereka bersandar  kepada  argumen  semacam itu,  yang  bagi  mereka juga berlaku bahwa Bible itu memang kitab-kitab suci. Kalau mereka memang mau mencari ilmu untuk ilmu,  tentu  akan  mereka samakan Qur'an dengan kitab-kitab suci sebelum itu, yakni  menganggapnya  sebagai  kitab  suci juga  dengan  menyebutkan, bahwa kitab-kitab suci yang sudah dikenal  orang  sebelumnya  adalah  wajar,  tak  perlu  lagi dibantah,  atau  menganggap  kitab-kitab suci itu semua sama juga dengan anggapannya terhadap Qur'an.  Terhadap  keduanya itu  pendapat merekapun tentu akan serupa, dengan menentukan bahwa itu diadakan untuk maksud-maksud  agama  atau  politik tertentu  juga.  Andaikata  memang ini pendapat mereka, maka selesailah  sudah  logika  demikian  itu.  Pendirian  mereka tentang  adanya  perubahan dalam Qur'an untuk maksud politik dan agama tadi, dengan sendirinya jadi gugur pula.
 
Bagi kaum Muslimin  tidak  perlu  lagi  mencari  bukti  dari kitab-kitab  suci  itu sesudah raja-raja mereka dan imperium Kristen seperti juga bangsa-bangsa lain di dunia menerimanya dan   sesudah  orang-orang  Kristen  sendiri  beramai-ramai, bahkan  bangsa-bangsa  secara  keseluruhan,  menganut  agama Islam.  Inilah  logika  yang  berlaku bagi penyelidikan yang murni ilmiah.
 
Adapun adanya anggapan Taurat dan Injil itu kitab-kitab suci dan  menolak sifat demikian pada Qur'an, maka ini adalah hal yang tak diterima oleh  ilmu  pengetahuan.  Sedang  pendapat yang  mengatakan  adanya perubahan dalam Qur'an karena bukti dari Taurat dan Injil, itu adalah omong-kosong,  tidak  pula diterima oleh logika.
 
Dari  kalangan  Orientalis  yang  paling  fanatik sekalipun, sedikit sekali  yang  beranggapan  seburuk  itu. Sebaliknya sebagian  besar  mereka sepakat, bahwa Qur'an yang kita baca sekarang  ini,  itu  jugalah  Qur'an  yang  dibacakan   oleh Muhammad  kepada  kaum Muslimin semasa hidupnya, tanpa suatu cacat  atau   perubahan   apapun.-   Mereka   ingin   sekali menyebutkan  hal  ini,  sekalipun  -  dalam  bentuk kritik - mereka kaitkan dengan cara pengumpulan Qur'an dan penyusunan Surah-surah  yang  pembahasannya  tentu di luar bidang studi ini.
 
Kalangan   Muslimin   sendiri   yang    sudah    mencurahkan perhatiannya  dalam  seluk-beluk  ilmu Qur'an telah menerima bermacam-macam kritik dan sudah mereka tangkis pula.  Adapun yang   mengenai  masalah  yang  kita  hadapi  sekarang  ini, cukuplah kalau kita mengutip  apa  yang  dikatakan  kalangan Orientalis  sendiri  dalam  hal  ini,  kalau-kalau si Muslim Mesir yang kita bicarakan artikelnya itu akan  merasa  puas, demikian  juga  mereka yang masih berpikir semacam dia akan turut merasa puas pula.


PENDAPAT MUIR

Sebenarnya apa yang diterangkan kaum  Orientalis  dalam  hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh Sir William Muir dalam The Life of  Mohammad  supaya  mereka yang  sangat  berlebih-lebihan  dalam  memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang  biasanya  menerima  begitu saja   apa   yang  dikatakan  orang  tentang  pemalsuan  dan perubahan Qur'an itu, dapat  melihat  sendiri.  Muir  adalah seorang  penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan setiap
kesempatan  melakukan  kritik  terhadap Nabi dan Qur'an, dan berusaha memperkuat kritiknya.
 
Ketika bicara tentang  Qur'an  dan  akurasinya  yang  sampai kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:
 
"Wahyu  Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang bersifat  umum  atau  khusus. Melakukan pembacaan ini adalah wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik yang  akan  mendapat  pahala  bagi yang melakukannya. Inilah sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan  itu  pula yang  telah  diberitakan  oleh  wahyu.  Oleh karena itu yang hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu  banyak sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka pada awal masa kekuasaan Islam itu ada  yang  dapat  membaca sampai  pada  ciri-cirinya  yang  khas.  Tradisi  Arab telah membantu pula mempermudah pekerjaan  ini.  Kecintaan  mereka luar  biasa  besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang datang  dari  para  penyairnya  tidak  mudah  dicapai,  maka seperti  dalam  mencatat  segala  sesuatu  yang  berhubungan dengan nasab keturunan  dan  kabilah-kabilah  mereka,  sudah biasa  pula  mereka  mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran hati mereka sendiri. Oleh karena  itu  daya  ingat  (memori) mereka  tumbuh  dengan  subur. Kemudian pada masa itu mereka menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup. Begitu  kuatnya  daya  ingat  sahabat-sahabat Nabi, disertai pula  dengan  kemauan  yang  luar  biasa  hendak menghafal Qur'an,  sehingga  mereka,  bersama-sama  dengan  Nabi dapat mengulang kembali dengan ketelitian yang  meyakinkan  sekali segala  yang  diketahui  dari  pada  Nabi  sampai pada waktu
mereka membacanya itu."
 
"Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas  daya ingatnya   itu,  kita  juga  bebas  untuk  tidak  melepaskan kepercayaan kita  bahwa  kumpulan  itu  adalah  satu-satunya sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin, bahwa sahabat-sahabat Nabi  menulis  beberapa  macam  naskah selama  masa  hidupnya  dari  berbagai  macam  bagian  dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an itu  ditulis.  Pada  umumnya  tulis-menulis  di  Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa  kerasulan  Muhammad.  Tidak hanya  seorang  saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan  perang  Badr  yang dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad.  Tidak  hanya  seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat  mengajarkan tulis-menulis   kepada   kaum  Anshar  di  Medinah,  sebagai imbalannya  mereka  dibebaskan.  Meskipun  penduduk  Medinah dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak juga  di  antara  mereka  yang  pandai  tulis-menulis  sejak sebelum  Islam.  Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa  ayat-ayat yang  dihafal  menurut  ingatan  yang sangat teliti itu, itu juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."
 
"Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah  mengutus seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah menganut Islam,  supaya  mengajarkan  Qur'an  dan  mendalami agama.  Sering  pula  kita  membaca, bahwa ada utusan-utusan yang    pergi    membawa    perintah    tertulis    mengenai masalah-masalah  agama  itu.  Sudah tentu mereka membawa apa yang  diturunkan  oleh  wahyu,  khususnya  yang  berhubungan dengan  upacara-upacara  dan peraturan-peraturan Islam serta apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."


PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI

"Qur'an  sendiripun  menentukan  adanya  itu  dalam   bentuk tulisan.  Begitu  juga  buku-buku  sejarah  sudah menentukan demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar,  tentang adanya   sebuah   naskah  Surat  ke-20  [Surah  Taha]  milik saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk  Islam tiga  atau  empat  tahun  sebelum  Hijrah.  Kalau  pada masa permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling  dipertukarkan, tatkala  jumlah  kaum  Muslimin  masih sedikit dan mengalami pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan  sekali, bahwa  naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak kekuasaannya  dan  kitab  itu  sudah  menjadi  undang-undang seluruh bangsa Arab."


BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI

"Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan  demikian juga  halnya  kemudian  sesudah  Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum  mukmin.  Berbagai  macam  bagiannya  sudah tercatat  belaka  dalam  naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu  sudah  seharusnya benar-benar  cocok.  Pada  waktu itu pun Qur'an sudah sangat dilindungi sekali, meskipun  pada  masa  Nabi  masih  hidup, dengan  keyakinan  yang  luarbiasa  bahwa  itu  adalah kalam Allah. Oleh karena  itu  setiap  ada  perselisihan  mengenai isinya,  untuk  menghindarkan  adanya  perselisihan demikian itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam  hal  ini  ada beberapa  contoh  pada  kita:  'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi  wafat,  bila ada  perselisihan,  selalu  kembali  kepada  teks yang sudah tertulis  dan  kepada  ingatan  sahabat-sahabat  Nabi   yang terdekat serta penulis-penulis wahyu."


PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA

"Sesudah  selesai  menghadapi  peristiwa  Musailima  - dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah menyebabkan  kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang telah menghafal Qur'an dengan  baik.  Ketika  itu  Umar merasa  kuatir  akan  nasib  Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka  yang telah  menyimpannya  dalam  ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah Abu  Bakr  dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal  Qur'an  itu  akan  terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak lagi dari mereka  yang  akan  hilang.  Menurut  hemat  saya, cepat-cepatlah    kita    bertindak   dengan   memerintahkan pengumpulan Qur'an."
 
"Abu Bakr segera  menyetujui  pendapat  itu.  Dengan  maksud tersebut  ia  berkata  kepada Zaid bin Thabit, salah seorang Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang  cerdas  dan saya  tidak  meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada Rasulullah  s.a.w.  dan  kau  mengikuti  Qur'an  itu;   maka sekarang kumpulkanlah."
 
"Oleh  karena  pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali.  Ia  masih  meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain melakukannya. Akan tetapi akhirnya  ia  mengalah  juga  pada kehendak  Abu  Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai berusaha sungguh-sungguh   mengumpulkan   surah-surah   dan bagian-bagiannya  dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas  batu putih,   dan   yang  dihafal  orang.  Setengahnya  ada  yang menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya  dari  yang  ada pada  lembaran-lembaran, tulang-tulang  bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."
 
"Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun  terus-menerus, mengumpulkan   semua   bahan-bahan  serta  menyusun  kembali seperti yang ada sekarang ini, atau seperti  yang  dilakukan Zaid  sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian orang mengatakan. Sesudah  naskah  pertama  lengkap  adanya, oleh  Umar  itu  dipercayakan  penyimpanannya kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang  sudah  dihimpun  oleh Zaid  ini  tetap  berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.
 
"Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah  itu yang  disalin  dari  naskah  Zaid.  Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu  yang  didatangkan  dari  langit  itu "satu,"  lalu  dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan,  juga  melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."
 
 
(bersambung ke bagian 4)





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Islam
TitleAuthorViews
Perbedaan Antara Qodho dan Qodar Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin 2,747
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 Muhammad Husain Haekal 2,509
Sejarah Hidup Muhammad Muhammad Husain Haekal 2,199
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 2,084
Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu? Maramis Setiawan 2,079
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 Muhammad Husain Haekal 2,005
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 Muhammad Husain Haekal 1,951
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 1,817
Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan Muhammad Husain Haekal 1,743
Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan Maramis Setiawan 1,675
Tips Sholat Khusyu noinitial 1,496
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 8 Muhammad Husain Haekal 1,464
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 Muhammad Husain Haekal 1,453
Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 Muhammad Husain Haekal 1,310
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedelapan - Dari Pembatalan Piagam Sampai Kepada Isra' 3 Muhammad Husain Haekal 1,270

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker