Gudang Lagu

PENGANTAR CETAKAN KEDUA (6/9)

PERTIMBANGAN MEREKA YANG AKTIF DALAM SOAL-SOAL ISLAM

Baiklah sekarang saya pindah kebahagian lain dalam  tinjauan ini.  Sesudah  cetakan  pertama  buku  ini  terbit, beberapa kalangan Islam yang aktif dalam  bidang  pengetahuan  agama, memberikan pula pendapatnya.
 
Menurut  hemat saya kecaman-kecaman rendah semacam ini, yang tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan, hendaknya tidakkan berulang  lagi.  Terhadap  kaum  Orientalis barangkali masih dapat dimaafkan, terutama atas tindakan mereka yang  sebelum itu  memang  sangat  berlebih-lebihan.  Mereka merasa, bahwa mereka  menulis  buat  orang-orang  Kristen  Eropa.   Dengan demikian pada waktu itu mereka telah menjalankan suatu tugas nasional atau tugas agama. Mereka  didorong  oleh  keyakinan mereka,  dengan  memperkosa  ilmu  pengetahuan  sebagai alat dalam melaksanakan tugasnya itu.

Tetapi sekarang, dengan adanya komunikasi via  telegram  dan radio,  via  pers  dan mass media lainnya ke seluruh penjuru dunia, segala apa yang diterbitkan atau diucapkan  orang  di Eropa  atau  di  Amerika sudah dapat ditangkap hari itu atau saat itu juga di negeri-negeri lain di  Timur.  Mereka  yang ingin   memperoleh  pengetahuan  dan  kenyataan  sebenarnya, seharusnya  segala  kabut   nasional,   rasial   dan   agama disingkirkan  dari  depan  mata  dan dari dalam hati mereka. Mereka hendaknya dapat memperkirakan bahwa apa  yang  mereka katakan  atau  mereka  tulis, akan secepatnya diketahui oleh semua orang. Di segenap penjuru bumi orang  akan  mengujinya dan  menerima  dengan  sikap kritis. Biarlah, kebenaran yang sebenarnya  tidak  terikat  oleh  apapun  itulah  yang  akan menjadi  pedoman  kita  semua.  Kita arahkan semua perhatian kita pada suatu ikatan masa  lampau  dan  masa  datang  umat manusia, bahwa itu adalah suatu kesatuan keluarga besar yang mengarah kepada pelaksanaan tujuan yang lebih  tinggi,  yang dinanti-nantikan  oleh  segenap manusia sejak pertumbuhannya yang pertama; suatu  ikatan  persaudaraan  yang  merdeka  di bawah  naungan  kebenaran dan keindahan. Inilah satu-satunya ikatan yang akan menjamin tercapainya  tujuan  umat  manusia dalam   peredaran  sejarahnya  yang  begitu  pesat  ke  arah kebahagiaan dan kesempurnaan itu.
 
Sementara ada orang-orang yang begitu percaya pada apa  yang dilontarkan oleh kaum Orientalis secara berlebih-lebihan itu menyalahkan kami, karena kami  katanya  begitu  terikat  dan berpegang  pada  sumber-sumber  berbahasa  Arab, maka mereka yang  aktif  dalam  bidang  pengetahuan  agama  Islam   juga
menyalahkan kami, karena kami katanya terlalu berpegang pada pendapat-pendapat kaum Orientalis; bahwa kami katanya  tidak memperhatikan  segala  yang diceritakan oleh buku-buku hadis bertalian dengan sejarah hidup Nabi  dan  bahwa  kami  tidak memakai  cara  seperti yang ada dalam buku-buku sejarah lama itu.
 
Atas  dasar   ini   sebagian   mereka   telah   mengemukakan pendapat-pendapat,  yang  kebanyakannya  disampaikan  dengan cara yang lemah-lembut dan baik sekali dengan tujuan  hendak mencari  kebenaran.  Sebagian lagi, karena keras kepala atau bodoh, tidak mau mengalah kepada yang lebih  berpengetahuan. Adapun  mereka  yang  memberikan kritik dengan lemah-lembut, kebanyakan dititik beratkan pada, bahwa apa yang diterangkan dalam buku-buku    sejarah   dan   Hadis   Nabi   tentang mujizat-mujizat,  tidak  ada  kami  sebutkan.  Bahkan kami sebutkan   pada  penutup  cetakan  pertama:  "Sejarah  hidup Muhammad adalah sejarah hidup manusia yang telah sampai  ke puncak  tertinggi  yang pernah dicapai seorang manusia. Pada waktu itu Muhammad s.a.w. suka  hati  karena  kaum  Muslimin menghargainya  sebagai  manusia  biasa seperti mereka, hanya diberi   wahyu.  Ia  tidak  suka  apabila ia akan dihubung-hubungkan kepada sesuatu mujizat selain Qur'an. Hal ini dinyatakannya kepada para sahabat." Pada bahagian cerita membelah dada ada kita katakan:
 
"Dengan  demikian  apa yang diminta oleh kaum Orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri  hidup Muhammad  sifatnya  adalah  manusia semata-mata dan bersifat peri  kemanusiaan   yang   luhur.   Dan   untuk   memperkuat kenabiannya  itu  memang  tidak perlu harus bersandar kepada hal-hal yang biasa  dilakukan  oleh  orang-orang  yang  suka kepada  yang  ajaib-ajaib.  Dengan demikian mereka beralasan sekali  menolak  tanggapan  penulis-penulis  Arab  dan  kaum Muslimin  tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu.
Mereka berpendapat, bahwa apa  yang  telah  dikemukakan  itu tidak  sejalan dengan yang diminta oleh Qur'an, yakni supaya merenungkan ciptaan Tuhan,  dan  bahwa  undang-undang  Tuhan takkan  ada  yang  berubah-ubah.  Jadi  tidak  sesuai dengan ekspresi  Qur'an  tentang  kaum  musyrik  yang   tidak   mau mendalami dan tidak mau mengeti juga."
 
Mereka yang mengkeritik saya dengan cara lemah-lembut itu di antaranya ada juga yang menyalahkan, karena  saya  mengambil kecaman-kecaman  kaum  Orientalis  terhadap Nabi itu sebagai pengantar untuk menyanggah mereka, sedang bunyi kecaman  itu menurut  hemat  mereka  tidak  sesuai dengan penghargaan dan penghormatan yang harus  mereka  berikan  kepada  Nabi  a.s. Adapun mereka yang cuma memaki-maki sudah memang ada sebelum cetakan pertama buku ini terbit, dan sebelum pembahasan  ini dikumpulkan menjadi buku.


SELAWAT KEPADA NABI

Dalam  menyalahkan  saya  yang  paling  keras mereka lakukan ialah karena pembahasan saya ini  saya  beri  judul  Sejarah Hidup  Muhammad  tanpa  saya  berikutkan  ucapan  sallallahu 'alaihi wasallama (s.a.w.), ucapan Salam dan Selawat  kepada Rasulullah,  sekalipun  sambil  tulisan  ini  berjalan sudah beberapa kali saya sebutkan. Saya rasa mereka baru reda dari memaki-maki  itu  sesudah  pada  judul  cetakan pertama saya hiasi  dengan  ayat  Qur'an:  "Allah   dan   para   malaikat memberikan   rahmat   kepada   Nabi.   Orang-orang  beriman, berikanlah selawat dan salam kepadanya"   (Qur'an,  33:  56) dan  sesudah buku ini mengemukakan sejarah hidup Nabi dengan metoda seperti apa adanya sekarang.
 
Akan tetapi mereka masih bersikeras  juga  dengan  pendirian mereka  itu.  Dengan  begitu,  dengan sikap keras kepala dan kebodohan mereka tentang esensi Islam itu menunjukkan, bahwa mereka  sudah  cukup  merasa puas hanya dengan ikut saja apa yang mereka terima dari nenek-moyang dahulu kala.
 
Baik kita mulai sekarang dengan  menyanggah  pandangan  yang salah  ini dengan harapan tidak akan terulang lagi dilakukan orang, baik oleh pihak bersangkutan di atas atau oleh  pihak lain  dalam  menanggapi  buku apapun yang terbit. Kita mulai sanggahan  ini  dengan   kembali   kepada   buku-buku   kaum cendekiawan  Islam  terkemuka supaya orang mengetahui sampai di mana taraf ketinggian Islam itu,  yang  sebenarnya  tidak terbatas  hanya  pada  kata-kata saja, melainkan sudah dapat menempatkan nilai hadis: "Bahwasanya agama ini kukuh sekali.
Tanamkanlah   dalam-dalam  dengan  lemah-lembut.  Sebenarnya orang yang terputus dalam perjalanan takkan mencapai tujuan, binatang  bebanpun  binasa."  Dalam  Kulliat-nya Abu'l-Baqa' menerangkan,  bahwa  "penulisan  ash-shalat  (s.a.w.)  dalam buku-buku  dahulu  terjadi pada masa kekuasaan Abbasia. Oleh karena itu, yang ada dalam kitab-kitab Bukhari dan yang lain tidak mempergunakan kata-kata itu." Para Imam sebagian besar sepakat,  bahwa  Selawat  kepada  Nabi  cukup  sekali   saja diucapkan  orang  selama hidupnya. Ibn Najm dalam Al-Bahru'r
Ra'iq menyebutkan: "Perintah  dalam  firman  Tuhan  'ucapkan selawat  dan  salam  kepadanya'  kewajibannya berlaku sekali saja selama hidup, baik dalam sembahyang atau di  luar  itu. Tentang ini tak ada perselisihan pendapat."
 
Adanya  perbedaan  pendapat  antara  Syafi'i  dan  yang lain tentang kewajiban mengucapkan selawat kepada  Nabi,  berlaku selama  dalam  sembahyang,  bukan di luar itu. Selawat ialah doa, artinya mudah-mudahan Allah memberi  rahmat  dan  salam kepada Nabi."
 
Demikian  sumber  para  Imam  dan  ulama  Islam  menyebutkan mengenai  masalah  ini.  Adanya  dugaan  bahwa   mengucapkan selawat  kepada  Nabi pada setiap menyebutkan dan menuliskan namanya merupakan suatu keharusan menunjukkan,  bahwa  dalam hal ini mereka bersikap sangat berlebih-lebihan. Akibat dari kesalahan mereka itu, maka  mereka  yang  mengikutinya  akan salah  pula  jika  mereka  mengetahui  apa  yang  sudah kita sebutkan tadi. Ahli-ahli hadis  terkemuka  tidak  menuliskan kata-kata selawat itu dalam  kitab-kitab  mereka  yang
mula-mula.


MENANGKIS KECAMAN

Mereka yang berpendapat bahwa tidak  selayaknya  menyebutkan kecaman-kecaman  kaum Orientalis dan misi penginjil terhadap Nabi yang mulia ini  sebagai  pendahuluan  untuk  menyanggah mereka,  pendapat ini tidak punya dasar selain dan pada rasa sentimen keislaman yang mereka agung-agungkan.  Sedang  dari segi  ilmu dan agama, dasarnya tidak ada. Apa yang dikatakan kaum  musyrik  tentang  Nabi,  Qur'an  menyebutkannya,  lalu menyanggahnya  dengan  argumen yang kuat. Jadi, moral Qur'an adalah moral yang lebih sesuai  dan  tinggi  adanya.  Qur'an menyebutkan tuduhan Quraisy terhadap Muhammad sebagai tukang sihir  dan  gila:  "Kami  mengetahui  benar,  bahwa   mereka berkata:  'Hanyalah  seorang  manusia  yang mengajarkannya.' Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan itu adalah  bahasa asing,  sedang  ini  adalah  bahasa  Arab yang jelas sekali"
(Qur'an 16: 103). Hal semacam ini sering sekali ter]adi.
 
Selanjutnya alasan  tuduhan  mereka  itu  tidak  akan  dapat ditangkis  secara ilmiah, kalau tidak disebutkan dan dicatat secara jujur  dan  teliti.  Dengan  buku  ini  saya  mencoba mengemukakan pembahasan ilmiah guna mencari kenyataan ilmiah semata. Juga saya maksudkan supaya  dibaca  baik  oleh  kaum Muslimin atau bukan.
 
Hendaknya  mereka  semua  dapat diyakinkan tentang kenyataan ilmiah  ini.   Hal   ini   baru   akan   tercapai   bilamana pembahasannya   benar-benar  bersih  dalam  kecenderungannya mencari kebenaran itu, tidak terikat oleh apapun selain oleh kecenderungan  tersebut,  dan  tidak pula ragu-ragu mengakui kebenaran itu dan manapun datangnya.
 
 
(bersambung ke bagian 7)





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Islam
TitleAuthorViews
Perbedaan Antara Qodho dan Qodar Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin 2,749
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 Muhammad Husain Haekal 2,511
Sejarah Hidup Muhammad Muhammad Husain Haekal 2,201
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 2,086
Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu? Maramis Setiawan 2,082
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 Muhammad Husain Haekal 2,007
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 Muhammad Husain Haekal 1,952
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 1,820
Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan Muhammad Husain Haekal 1,745
Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan Maramis Setiawan 1,676
Tips Sholat Khusyu noinitial 1,498
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 8 Muhammad Husain Haekal 1,467
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 Muhammad Husain Haekal 1,454
Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 Muhammad Husain Haekal 1,311
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedelapan - Dari Pembatalan Piagam Sampai Kepada Isra' 3 Muhammad Husain Haekal 1,273

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker