Gudang Lagu

PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)

CERITA-CERITA TIDAK MASUK AKAL DAN TIDAK ILMIAH

Yang aneh lagi dalam hal ini ialah apa yang diceritakan oleh Ibn   'Asakir   dari   Abu   Sa'd   Isma'il   bin   Muthanna
al-Astrabadhi.  Tatkala  ia  sedang  berkhutbah  di Damsyik, salah seorang yang hadir bertanya tentang  hadis  Nabi  yang berbunyi: "Saya gudang ilmu dan Ali pintunya" Ismail menekur sebentar, lalu diangkatnya kepalanya  seraya  katanya:  "Ya, tak  ada  yang  mengetahui hadis ini dari Nabi, kecuali yang hidup pada masa permulaan Islam. Akan tetapi  Nabi  berkata: "Saya  gudang  ilmu,  Abu  Bakr fondasinya, Umar dindingnya, Usman  atapnya  dan  Ali  pintunya."  Dengan  demikian  para hadirin puas rasanya. Tetapi ketika diminta kepadanya supaya menerangkan sanadnya, ia merasa gusar sekali  karena  memang tidak mampu.

Begitulah hadis-hadis itu dipalsukan orang karena memang ada maksud  politik  atau  kemauan-kemauan  insidentil  lainnya. Demikian  banyaknya  hadis-hadis  palsu  itu  sehingga  kaum Muslimin kemudian terkejut sekali,  karena  ternyata  banyak pula  yang  tidak  cocok  dengan  yang ada dalam Kitabullah. Usaha hendak menghentikannyapun sudah banyak pula dikerahkan pada zaman Umayya, tapi tidak juga berhasil.
 
Bagaimanapun juga pada masa dinasti Abbasia, dan Ma'mun yang berkuasa dua abad kemudian sesudah Nabi wafat, puluhan  atau ratusan ribu hadis-hadis maudzu' (buatan) itu sudah tersebar - diantaranya terdapat banyak  yang  lemah  dan  kontradiksi sekali,  yang  tidak  diduga  semula. Pada waktu itulah para penghimpun hadis  dan  penulis-penulis  biografi  Nabi  juga menuliskan   biografinya.   Al-Waqidi,   'Ibn   Hisyam   dan Al-Mada'ini hidup dan menuliskan  buku-buku  itu  pada  masa Ma'mun.  Baik  mereka  ini  atau  yang  lain pada waktu itu, karena takut akibatnya,  tidak  ada  yang  berani  menentang pendapat  Khalifah.  Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang harus mendapat penelitian mana kriterium yang menurut  suatu sumber  berasal  dari Nabi a.s., yakni dengan mencocokkannya kepada Qur'an sebagaimana mestinya, tidak mereka pakai lagi, yaitu: mana-mana yang cocok dengan Qur'an, adalah dari Rasul dan yang tidak, bukan dari Rasul.
 
Sekiranya   kriterium   itu   dipakai   dengan    penelitian sebagaimana   mestinya,   segala  yang  sudah  ditulis  oleh tokoh-tokoh itu niscaya akan berubah. Kritik ilmiah  menurut metoda  modern sama sekali tidak berbeda dari kriterium ini. Akan  tetapi  situasi  masa  itu  mengharuskan   tokoh-tokoh tersebut  menyesuaikan  kriterium  mereka  itu untuk sesuatu golongan, sedang untuk golongan lain  tidak  pula  demikian. Cara-cara  ini  dalam  penulisan  sejarah  hidup  Nabi  oleh penulis-penulis   kemudian   telah   diwarisi   juga    dari orang-orang  dahulu,  dengan  pertimbangan-pertimbangan yang lain dari pertimbangan mereka itu. Kalau orang  mau  berlaku jujur  terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah hidup Nabi, baik dalam  garis  besar,  maupun dalam  perinciannya,  tanpa  mengecualikan sumber lain, yang tidak cocok dengan yang ada dalam Qur'an.  Mana  yang  tidak sejalan  dengan  hukum  alam  dan  tidak tersebut pula dalam Kitabullah tidak perlu  mereka  catat.  Yang  tidak  sejalan dengan  hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang  ada  pada  mereka,  disertai pembuktian  yang  positif,  dan  mana-mana  yang  tak  dapat
dibuktikan seharusnya ditinggalkan.
 
Pendapat cara ini telah dijadikan  pegangan  oleh  imam-imam terkemuka  dari  kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam lainpun mengikuti mereka sampai  sekarang.  Syaikh  Muhammad Mustafa   al-Maraghi   dalam   kata   perkenalan   buku  ini menyebutkan:  "Kekuatan  mujizat  Muhammad  s.a.w.  hanyalah dalam Qur'an, dan mujizat ini sungguh rasional adanya. Sajak Bushiri berikut ini memang indah sekali:
 
"Tidak juga sampai kita dicoba  Yang  akan  meletihkan  akal karenanya  Karena  sayangnya  kepada  kita Kitapun tak ragu, kitapun tak sangsi."
 
Almarhum  Sayid  Muhammad  Rasyid  Ridza,  Redaktur  majalah Al-Manar  dalam  menjawab  kritik  orang yang menentang buku kita ini, menulis: "Kalangan Al-Azhar dan  pengikut-pengikut tarekat yang paling keberatan terhadap Haekal sebagian besar mengenai mujizat-mujizat dan  hal-hal  yang  ajaib-ajaib  di luar  kebiasaan.  Pada pasal dua bahagian dua dan pasal lima dalam  buku  Al-Wahy'l-Muhammadi,  dari  segala   segi   dan persoalannya  mengenai  hal ini, ada saya tulis, bahwa hanya Qur'anlah satu-satunya pembuktian Tuhan yang positif  khusus tentang kenabian Muhammad s.a.w. dan kenabian para nabi yang lain. Ciri-ciri mereka zaman kita  sekarang  ini  tak  dapat dibuktikan tanpa kenyataan tersebut.
 
"Masalah-masalah  alam gaib (supernatural)    adalah masalah-masalah yang diragukan, bukan suatu pembuktian  yang meyakinkan  menurut  para  ahli.  Hal tersebut terdapat juga pada zaman kita ini, dan terdapat juga  pada  setiap  zaman. Mereka yang masih terpesona oleh masalah semacam itu, adalah orang-orang yang suka pada  takhayul  yang  memang  terdapat pada  setiap  aliran  kepercayaan. Saya terangkan juga sebab timbulnya daya tarik itu serta perbedaan-perbedaan mana yang umumnya  termasuk  hukum  alam, hukum rohani dan lain-lain."
[Majalah Al-Manar, 3 Mei 1935].
 
Syaikh Muhammad Abduh pada bahagian  pertama  buku  Al-Islam wan-Nashrania  ("Islam  dan  Kristen")  menyebutkan: "Dengan adanya ajaran dan tuntutan terhadap  keimanan  kepada  Allah dan  keesaanNya,  Islam tidak memerlukan apa-apa lagi selain pembuktian rasional dan pemikiran insani yang sejalan dengan ketentuan yang wajar. Orang tidak perlu bingung terhadap hal yang   gaib,   tidak    perlu    menutup    mata    terhadap kejadian-kejadian  yang  tidak  biasa,  tidak  perlu membisu karena ada ledakan dari langit; dan pikiran  kitapun  jangan terputus  karena  pekikan  yang  membawa  suara  suci.  Kaum Muslimin sudah  sepakat  -  kecuali  sejumlah  kecil  dengan pendapat yang tidak berarti - bahwa kepercayaan kepada Allah adalah  mendahului  kepercayaan  kepada   nabi-nabi. Tidak mungkin orang percaya kepada rasul-rasul, sebelum ia beriman
kepada Allah; sedang beriman  kepada  Allah  melalui  ucapan para  rasul atau melalui kitab-kitab suci, tidak dibenarkan. Sungguh tidak masuk akal orang akan  percaya  kepada  adanya kitab  yang  diturunkan  Allah,  jika sebelum itu kita tidak percaya akan adanya Allah. Maka Dialah yang harus menurunkan kitab dan mengutus rasul."
 
Saya kira mereka yang pernah menulis sejarah hidup Nabi akan lebih condong pada pandangan semacam ini, kalau tidak karena situasi  pada  masa  mereka  dahulu  dan  kalau tidak karena dugaan mereka yang datang kemudian bahwa dengan  menyebutkan peristiwa-peristiwa  gaib  dan  mujizat-mujizat  yang  tidak terdapat dalam Qur'an  itu  akan  menanamkan  rasa  keimanan dalam  hati  orang  lebih dalam lagi. Oleh karena itu mereka menduga pula, bahwa dengan menyebutkan  mujizat-mujizat  itu akan  berguna  sekali,  dan  tidak akan merugikan. Sekiranya
mereka hidup pada masa kita  sekarang  ini  dan  menyaksikan betapa  musuh-musuh  Islam itu mempergunakan apa yang mereka sebutkan itu sebagai argumen  mereka  menghantam  Islam  dan umat  Islam, niscaya mereka akan berpegang pada apa yang ada dalam Qur'an, mereka  akan  berkata  seperti  Imam  Ghazali, Muhammad  'Abduh,  Maraghi dan pemuka-pemuka lain yang cukup teliti. Sekiranya mereka hidup pada masa kita sekarang  ini,
dan    menyaksikan   betapa   cerita-cerita   demikian   itu menyesatkan hati dan kepercayaan orang -  bukan  sebaliknya, menanamkan  dan  menguatkan  iman  - niscaya cukuplah mereka menyebutkan saja ayat-ayat Qur'an yang begitu  jelas  dengan dalil-dalil yang memang sudah tak dapat dibantah lagi.
 
Adapun  dari  segi  yang  merugikan cerita-cerita yang tidak diterima oleh akal dan tidak  pula  ilmiah  itu  sudah  jadi jelas   sekali:   bagi   setiap  orang  yang  mau  menggarap masalah-masalah serupa ini hendaknya selalu  berpegang  pada segi  ketelitian  ilmiah  dalam  mengadakan  pengujian, demi pengabdiannya kepada  kebenaran,  kepada  Islam  dan  kepada sejarah  Nabi.  Kebenaran-kebenaran  yang  diungkapkan  oleh hasil penyelidikan dalam  sejarah  yang  besar  ini,  adalah sebagai  penyuluh  yang  akan  membawa  umat  manusia kepada peradaban yang sebenarnya.


QUR'AN DAN MUJIZAT

Kalau beberapa masalah yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup  Nabi  dan kitab-kitab hadis kita perbandingkan dengan apa yang terdapat dalam Qur'an, tentu  tak  bisa  lain  kita akan menerima pendapat-pendapat para imam yang sangat teliti itu.  Pada  waktu  itu  penduduk  Mekah  minta  kepada  Nabi
berbangsa  Arab  itu supaya Tuhan menurunkan mujizat-mujizat kepadanya, kalau ia ingin supaya mereka mempercayainya. Maka Qur'an  datang  menyebutkan  apa  yang  mereka minta itu dan menolaknya dengan beberapa argumen: "Dan kata mereka:  'Kami takkan percaya kepadamu, sebelum kaupancarkan mata air untuk
kami dari bumi ini. Atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan  anggur,  dan di tengah-tengahnya memancar sungai-sungai yang deras mengalir. Atau seperti kauterangkan  kepada  kami kaujatuhkan langit berkeping-keping. Atau kaudatangkan Tuhan dan malaikat-malaikat itu berhadap-hadapan dengan kami. Atau engkau  mempunyai  sebuah  mahligai  berhiaskan  emas.  Atau engkau naik ke langit, dan kenaikanmu itu  tidak  akan  kami percayai,  sebelum  kaubawakan sebuah kitab kepada kami yang akan kami baca' Ya, katakan: Maha suci Tuhanku. Bukankah aku hanya seorang manusia yang diutus?" (Qur'an 17:90-93)
 
"Mereka  bersumpah  sungguh-sungguh  demi  Allah, bahwa jika sebuah tanda (mujizat)  dibuktikan  kepada  mereka,  niscaya mereka  akan  mempercayainya. Katakan: tanda-tanda itu hanya ada pada Allah. Tapi,  sadarkah  kamu,  bahwa  kalaupun  itu dibuktikan,  mereka  tidak juga akan percaya? Juga akan Kami balikkan jantung dan pandangan  mata  mereka;  karena  tidak mempercayainya  pada  pertama  kali.  Dan  akan kami biarkan mereka mengembara membawa durhaka.  Kalaupun  Kami  kirimkan malaikat-malaikat  kepada mereka dan mayat-mayatpun mengajak mereka bicara, lalu segalanya Kami kumpulkan di depan hidung mereka,  tidak  juga  mereka  akan mau beriman; kecuali bila Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti."
(Qur'an 6:109-111)
 
Di  dalam  Qur'an  tidak ada disebutkan sesuatu mujizat yang oleh Allah dimaksudkan  supaya  segenap  manusia  -  menurut zamannya  masing-masing  -  mempercayai  kerasulan Muhammad, selain daripada Qur'an. Padahal, beberapa mujizat disebutkan dengan  ijin  Allah  terhadap para rasul yang datang sebelum Muhammad sama halnya seperti apa  yang  telah  dianugerahkan Tuhan  kepada  Muhammad serta dari percakapan yang ditujukan kepadanya. Apa yang tersebut dalam Qur'an tentang  Muhammad, samasekali tidak bertentangan dengan hukum alam.
 
Kalau  memang  sudah  itu  yang  digariskan  oleh Qur'an dan begitu pula yang terjadi terhadap diri Rasulullah, apa  lagi yang  mendorong  setengah  kaum  Muslimin  -  baik pada masa dahulu ataupun sekarang - menerapkan mujizat-mujizat  kepada Nabi? Mereka terdorong demikian, karena mereka membaca dalam Qur'an  adanya  mujizat-mujizat  pada  para  rasul   sebelum Muhammad.      Lalu      mereka      berkeyakinan,     bahwa keajaiban-keajaiban  materi  (mujizat-mujizat)  semacam  itu perlu   juga  melengkapi  kerasulan  Muhammad.  Mereka  lalu percaya tentang itu sekalipun dalam Qur'an tidak disebutkan. Merekapun menduga, bahwa makin banyak jumlah mujizat-mujizat itu, akan makin kuat membuktikan kedudukan Nabi, akan  makin besar  pula  merangsang  orang beriman kepada kerasulan itu. Memperbandingkan Nabi dengan para rasul yang sebelumnya, ada perbedaannya.  Muhammad  adalah  Nabi  dan  Rasul  terakhir. Sekalipun begitu  dia  adalah  Rasul  pertama  diutus  Allah kepada  seluruh  umat  manusia-  bukan  diutus  hanya kepada bangsanya saja - supaya memberi penerangan.


MUJIZAT TERBESAR

Oleh karena itu Allah menghendaki  supaya  mujizat  Muhammad itu  adalah  mujizat  insani yang rasional, yang masuk akal, yang takkan dapat ditiru,  baik  oleh  manusia  maupun  jin, sekalipun mereka satu sama lain saling membantu. Mujizat itu ialah  Qur'an.  Ini  adalah  mujizat  terbesar  yang  pernah diberikan   Allah.   Dengan   itu   Tuhan  menghendaki  akan memperkuat kerasulan NabiNya itu dengan argumen  yang  jelas dan  dalil  yang tak dapat dibantah. Ia menghendaki - dengan itu - agar agama ini mendapat  kemenangan  pada  masa  hidup Rasul,   supaya   dalam   kemenangan   itu   orang   melihat kemahakuasaanNya. Kalau  Tuhan  menghendaki  adanya  mujizat yang  akan  membuat  mereka yang hidup pada masa Nabi merasa puas, tentu itu akan disebutkan dalam Qur'an. Tapi ada orang yang  tidak  mau percaya kalau tidak dibuktikan dengan akal. Karena itu maka  ayat  yang  akan  meyakinkan  seluruh  umat manusia  akan kerasulan Muhammad itu ialah yang dekat sekali hubungannya dengan jantung dan pikiran  mereka.  Maka  Allah telah   memperlihatkan  itu  dalam  bentuk  Qur'an,  sebagai argumen yang paling nyata dan sebagai mujizat kepada  mereka dari  Nabi yang ummi itu. Ia memperlihatkan kemenangan agama dan kekuatan iman kepadanya itu  dengan  melalui  dalil  dan keyakinan  yang  positif.  Agama  yang  dibangun  atas dasar inilah yang lebih kuat menanamkan iman ke  dalam  hati  umat manusia  sepanjang  zaman,  kepada pelbagai bangsa dan aneka macam bahasa.
 
Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman kepada  agama ini sekarsng, dan sebagai argumennya supaya ia yakin dan percaya, tidak ada sesuatu mujizat  lain  daripada Qur'an,  niscaya  itu  tidak  akan  mengurangi imannya, juga tidak akan pula kurang Islamnya.  Selama  wahyu  itu  memang bukan  bertugas membawa mujizat-mujizat semacam itu, tak ada salahnya apabila orang yang sudah beriman kepada  Allah  dan kepada  RasulNya  itu rnau menguji lagi segala yang mengenai mujizat, yang ada hubungannya dengan wahyu  itu.  Mana  yang dapat  dibuktikan dengan alasan positif dapat saja diterima; dan  mana   yang   tak   dapat.dibuktikan,   terserah   pada pendapatnya sendiri. Iapun tidak salah. Beriman kepada Allah yang  tunggal  tiada  bersekutu  memang   memerlukan   suatu mujizat, dan untuk itu cukup dengan merenungkan alam semesta yang telah diciptakan  Allah.  Begitu  juga,  sebagai  bukti kerasulan  Muhammad,  yang  dengan  perintah  Tuhan mengajak manusia  beriman  serta  menyelamatkan  mereka  agar  jangan berpaling hati, juga tidak memerlukan sesuatu mujizat selain Qur'an: tidak diperlukan  lebih  daripada  membacakan  Kitab Suci yang telah diwahyukan Allah kepadanya itu.

Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman kepada agama ini sekarang, dan untuk  meyakinkan  itu  tidak diperlukan  sesuatu  mujizat  lain  daripada Qur'an, niscaya orang yang pernah beriman itu akan terdiri dari  dua  macam: pertama  orang  yang  sudah  tidak tergoyahkan lagi hatinya; sejak pertama kali ia mendapat ajakan, hatinya sudah terbuka menerima  iman, seperti halnya yang terjadi dengan Abu Bakr. Ia berimam dan percaya tanpa  ragu-ragu  lagi.  Yang  kedua, orang  yang untuk imannya itu sudah tidak perlu lagi mencari mujizat-mujizat  lain  dari  balik  hukum  alam,   melainkan dicarinya  di dalam penciptaan alam yang luas ini. Jangkauan persepsi kita terbatas sekali. Perbatasan  alam  dalam  arti ruang dan waktu, tak dapat kita tangkap. Sungguhpun demikian ketentuan-ketentuan itu berjalan menurut  hukum  yang  tidak berubah-ubah   dan   tidak   pula   bertukar-tukar.  Melalui undang-undang  Tuhan  yang  ada  dalam  alam  itu  ia   akan terbimbing sampai kepada Penciptanya.
 
Buat  dua  macam golongan ini sama saja: baik dengan mujizat atau tidak. Bahkan keduanya tak  pernah  memikirkan  tentang mujizat-mujizat  itu selain daripada, bahwa itu adalah bukti karunia  Tuhan.  Iman  yang  semacam  inilah  yang   menurut pendapat   bilangan  besar  pemuka-pemuka  Muslimin  sebagai bentuk iman yang tertinggi. Yang sebagian lagi  berpendapat, bahwa sumber iman yang sejati seharusnya jangan karena takut
kepada  siksa  Allah  atau  karena  mengharapkan  pahalaNya, melainkan harus iman itu semata-mata karena Allah serta fana total ke dalam Ego Tuhan. KepadaNyalah semua  persoalan  itu akan kembali. Kita adalah kepunyaan Allah dan kepadaNya pula kita kembali.


ORANG-ORANG MUKMIN PADA MASA NABI

Orang-orang sekarang  yang  sudah  beriman,  mereka  beriman kepada   Allah   dan   Rasul   tanpa  didorong  oleh  adanya mujizat-mujizat, sama halnya  seperti  mereka  yang  beriman kepada  Allah  dan  Rasul  itu pada masa hidup Nabi. Sejarah tidak menyebutkan, bahwa mujizat-mujizat itu pernah  membuat orang  jadi beriman Malah bukti mujizat Tuhan terbesar ialah wahyu yang diturunkan melalui NabiNya, dan peri  hidup  Nabi sendiri  dengan  akhlaknya  yang  begitu tinggi, itulah yang mengajak orang jadi beriman.  Semua  buku  sejarah  hidupnya
menyebutkan  bahwa  ada  segolongan orang yang sudah beriman kepada kerasulan Muhammad sebelum Isra,  telah  jadi  murtad dari  imannya  tatkala  Nabi  menyebutkan, bahwa Tuhan telah memperjalankannya pada malam haji dari Mesjid Suci ke Mesjid Aqsha.  Tatkala  mengejar  Muhammad  yang  sedang  hijrah ke Medinah, dengan maksud supaya membawanya kembali  ke  Mekah, hidup  atau  mati, dengan harapan akan mendapat hadiah uang,
Suraqa b. Ju'syum  tidak  juga  beriman  meskipun  buku-buku riwayat   hidup   Nabi  menceritakan  adanya  mujizat  Tuhan sehubungan dengan peristiwa Suraqa  dan  kudanya  itu.  Juga sejarah  tidak  pernah menyebutkan  bahwa ada orang musyrik yang beriman kepada kerasulan Muhammad  hanya  karena  salah satu   mujizat,  seperti  tukang-tukang  sihir  Firaun  yang beriman setelah melihat  tongkat  Musa  menelan  semua  yang telah mereka buat itu.
 
(bersambung ke bagian 9)





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Islam
TitleAuthorViews
Perbedaan Antara Qodho dan Qodar Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin 2,749
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 Muhammad Husain Haekal 2,511
Sejarah Hidup Muhammad Muhammad Husain Haekal 2,201
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 2,086
Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu? Maramis Setiawan 2,082
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 Muhammad Husain Haekal 2,007
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 Muhammad Husain Haekal 1,952
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 1,820
Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan Muhammad Husain Haekal 1,745
Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan Maramis Setiawan 1,676
Tips Sholat Khusyu noinitial 1,498
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 Muhammad Husain Haekal 1,454
Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 Muhammad Husain Haekal 1,311
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedelapan - Dari Pembatalan Piagam Sampai Kepada Isra' 3 Muhammad Husain Haekal 1,273
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 2 Muhammad Husain Haekal 1,262

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker