Gudang Lagu
Sumber Lainnya
English Articles
Pengetahuan Umum
Info Cewek Hot
Hot Asian Cigarettes
Facebook Layouts
Kumpulan Tips & Trik Jitu
Free Games Download
Tanah Murah
Info Selebritis Sexy
Perkakas Wanita
Info Property
Tarif Booking Cewek
Situs Film Dewasa
Handphone Murah

Komentar

PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)

GHARANIQ DAN TABUK

Lalu  apa  yang  terdapat  dalam buku riwayat hidup Nabi dan hadis  tentang  mujizat  itu   kadang   berbeda-beda   pula. Sekalipun  menurut  buku-buku  hadis  sudah dipastikan benar tapi kadang masih merupakan  sasaran  kritik  juga.  Masalah gharaniq   misalnya,  dalam  pengantar  ini  ada  juga  kita sebutkan sepintas lalu, dan akan kita  sebutkan  lagi  lebih terperinci dalam teks nanti. Cerita membelah dada juga sudah berbeda-beda  sebagaimana  diceritakan  oleh  Halima   inang pengasuh  Nabi  kepada  ibunya;  begitu  juga mengenai waktu terjadinya sehubungan dengan usia Muhammad.

Apa yang diceritakan oleh  buku-buku  riwayat  hidupnya  dan buku-buku  hadis  tentang cerita Zaid dan Zainab sudah dapat ditolak  dari  dasarnya,  dengan  alasan-alasan  yang   kita kemukakan  ketika membicarakan peristiwa tersebut dalam buku ini  juga  terdapat  perbedaan-perbedaan  mengenai  beberapa kejadian  selama  perjalanan  pasukan  'Usra (yang mengalami kesukaran) itu ke Tabuk. Dalam Shahih Muslim melalui  Mu'adh
b.  Jabal diceritakan, bahwa Nabi berkata kepada mereka yang pergi bersama-sama ke Tabuk itu: "Besok kamu akan sampai  ke mata  air  Tabuk,  dan kamu baru akan sampai ke sana sesudah siang hari. Barangsiapa di antara kamu sampai ke tempat  itu jangan  ada  yang  menjamah  air  itu samasekali sebelum aku sampai." Kamipun lalu sampai tapi sudah ada dua  orang  yang sudah  sampai terlebih dulu ke tempat tersebut. Mata air itu memercik  seperti  tali.  Katanya:  Lalu  Rasulullah  s.a.w. bertanya  kepada  dua  orang itu: Adakah air itu kamu jamah? Jawab  mereka:  Ya.   Lalu   Nabi   s.a.w.   memakinya   dan dikata-katakannya  mereka itu. Katanya: Lalu mereka menciduk mata air itu dengan  tangan  mereka  sedikit-sedikit  sampai dapat  ditampung  dalam  sebuah  tempat. Katanya: Rasulullah s.a.w. lalu mencuci kedua tamgan  dan  mukanya  dengan  itu. Kemudian  dikembalikan  lagi  ke  tempatnya.  Maka  mata air itupun lalu memercikkan air berlimpah-limpah - atau  katanya deras  -  Abu Ali sangsi yang mana yang dikatakan - sehingga orang-orangpun  mendapatkan  air  itu.   Kemudian   katanya: Mu'adh,  kalau  kau masih akan pamjang umur kau akan melihat di sini penuh dengan kebun-kebun" (Shahih Muslim,  jilid  7, p. 60, cetakan Astana, 1382H).
 
Sedang buku-buku sejarah hidup Nabi menceritakan kisah Tabuk itu lain lagi gambarannya. Dalam  cerita  itu  soal  mujizat tidak  disebut-sebut.  Tapi  ceritanya berjalan lain sekali, tidak sama dengan yang  terdapat  dalam  Shahih  Muslim.  Di antaranya  seperti  yang  diceritakan oleh Ibn Hisyam dengan menyebutkan:
 
"Ibn Ishaq mengatakan: Sesudah tiba waktu pagi dan air tidak ada, mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. Lalu Rasulullah s.a.w. berdoa. Maka Allah  mengirimkan  awan  dan hujanpun  turun.  Orang-orang  dapat minum dan dapat membawa air menurut keperluan mereka.  Ibn  Ishaq  mengatakan:  Maka 'Ashim  b.  'Umar  b. Qatada menceritakan kepada saya, lewat Mahmud b. Labid melalui orang-orang dari Banu Abd'l  Asyhal, mengatakan,    kataku   kepada   Mahmud:   Adakah   diantara orang-orang itu yang sudah  dapat  membeda-bedakan  saudara, bapa, paman dan keluarganya. Lalu kata Mahmud lagi: Beberapa orang dari golongan saya  mengatakan  tentang  adanya  orang munafik  yang  sudah dikenal kemunafikannya. Ia selalu pergi bersama  Rasulullah  s.a.w.  ke  mana  saja.  Demikian  juga mengenai  soal  air  di  Hijr dan mengenai Rasulullah s.a.w. yang berdoa, sehingga Allah mengirimkan awan,  dan  turunnya air   hujan.  Orang-orang  dapat  minum.  Kata  mereka  kami mendatanginya  seraya  mengatakan:  Apalagi  sesudah   itu!? Katanya: Awan lalu."


METODA SAYA DALAM PENYELIDIKAN INI

Adanya  perbedaan  ini  di  mata ilmu pengetahuan sebenarnya tidak mudah untuk dapat dipastikan. Orang yang  mau  menguji ini  jangan  hanya  berpegang pada pendapat yang lebih besar dan  berpengaruh  saja  dengan   dua   macam   sumber   yang berlain-lainan,  yang  satu  tak dapat menguatkan, yang lain tak dapat pula membantah. Apabila mereka  memang  tak  dapat menguatkan  sumber  itu,  paling  kurang mendiamkannya. Jika
nanti ada orang lain  yang  menemukan  bukti-bukti  positif, sudahlah;  kalau  tidak,  dalam  arti  ilmiah ia tetap belum dapat dipastikan.
 
Inilah metoda yang  saya  pakai  dari  semula,  ketika  saya mengadakan penyelidikan mengenai peri hidup Muhammad pembawa risalah Islam ini. Sejak  terniat  oleh  saya  akan  membuat karangan  ini,  memang yang saya kehendaki ialah suatu studi ilmiah sesuai dengan metoda ilmu pengetahuan sekarang,  demi kebenaran  semata-mata. Itu jugalah yang saya sebutkan dalam prakata buku ini, dan yang menjadi harapan saya pada penutup cetakan  pertama  buku  ini.  Mudah-mudahan  maksud saya itu dapat terlaksana dan  usaha  inipun  sudah  merupakan  suatu penyelidikan  ilmiah  demi  kebenaran  ilmiah  semata.  Saya harapkan dengan ini bahwa saya telah merintis jalan ke  arah penyelidikan-penyelidikan  dalam  bidang  yang  sama  dengan lebih luas dan dalam, meliputi masalah-masalah psikologi dan spiritual, yang pada dasarnya akan mengantarkan umat manusia
kepada peradaban modern yang sama-sama kita cari  itu.  Saya yakin  bahwa  dengan  mendalami  penyelidikan  demikian ini, rahasia-rahasia akan banyak  diketemukan  orang,  suatu  hal yang pada mulanya diduga tak ada jalan bagi ilmu pengetahuan akan  dapat  mengungkapkannya.  Tetapi  kemudian   ternyata, penyelidikan-penyelidikan  psikologis  dalam  hal  ini dapat memberikan analisa dan menjelaskan  sejelas-jelasnya  kepada segenap kaum cendekiawan. Rahasia-rahasia alam semesta dalam arti spiritual dan psikologis itu makin  dikenal  oleh  umat manusia,  hubungannya  dengan  alampun  akan makin erat, dan akan bertambah pula ia merasa bahagia. Ia akan merasa  makin senang  terhadap  segala yang ada dalam alam ini bilamana ia makin mengenal segala rahasia gerak dan tenaga yang  tadinya masih tersembunyi, seperti tenaga listrik dan gerakan ether, yang kemudianpun diketahui orang pula.
 
Oleh  karena  itu,   setiap   orang   yang   mau   menggarap penyelidikan  seperti  ini,  seharushya itu ditujukan kepada seluruh umat manusia, bukan hanya kepada kaum Muslimin saja. Tujuan  pekerjaan  inipun  sebenarnya  tidak  bersifat agama semata-mata - seperti mungkin ada yang menduganya demikian - melainkan tujuan sebenarnya ialah agar umat manusia mengenal bagaimana ia harus menempuh jalan yang akan  mengantarkannya
kepada  hidup  yang lebih sempurna, yang oleh Muhammad sudah ditunjukkan jalannya kepada kita. Guna memahami  tujuan  itu memang  tidak  mudah, bila orang belum mendapatkan jalan ini dengan  hati  terbuka,  dengan  dada  yang  lapang.   Sumber daripada   ini   semua   ialah  pengetahuan  dan  iImu  yang sebenarnya. Pemikiran yang tidak dilandasi oleh pengetahuan, tidak  didasarkan  kepada  metoda-metoda ilmiah, sering akan membawa hasil yang salah dan meleset. Karena itu malah  jauh dari  tujuan  sebenarnya.  Kodrat  kita sebagai manusia akan membuat  pemikiran  kita  besar  sekali   terpengaruh   oleh temperamen  (watak)  kita  sendiri.  Sering juga mereka yang bersamaan ilmunya berbeda-beda pula pemikirannya. Tidak lain sebabnya  ialah  karena  adanya  perbedaan  temperamen  itu, sekalipun dalam  mencapai  maksud  dan  tujuan  mereka  sama jujur.  Ada  orang  yang  temperamennya tinggi, pemikirannya tajam, cepat bereaksi. Ada  pula  yang  punya  kecenderungan sufi,   bawaannya   stoik  (tenang),  menjauhi  segala  yang bersifat kebendaan serta pengaruhnya. Ada  juga  yang  punya kecenderungan  materialistik  yang begitu besar, terpengaruh oleh segi materialismanya saja, sehingga tak dapat  lagi  ia memikirkan  adanya  tenaga-tenaga lain yang dapat dirasakan, yang ada di  sekitarnya,  yang  sebenarnya  menguasai  benda (materi) itu.
 
Di  samping  itu  banyak  lagi  yang lain. Karena temperamen mereka yang berbeda-beda, maka berbeda  pula  pandangan  dan penilaian mereka terhadap sesuatu. Dalam bidang kulturil dan kehidupan praktis, perbedaan ini merupakan suatu  kenikmatan besar   bagi  umat  manusia,  tapi  dalam  bidang  ilmu  dan nilai-nilai hidup yang lebih  tinggi,  yang  hendak  mencari kebaikan  bagi seluruh umat manusia, hal ini merupakan suatu bencana. Tujuan studi sejarah hendaknya mencari  nilai-nilai yang  lebih  tinggi  dari  hakekat  hidup itu, dan hendaknya dapat   pula   menghindari   pengaruh-pengaruh   emosi   dan temperamen  itu. Tak ada jalan lain dalam menghindarkan diri dari hal semacam itu  kecuali  bila  orang  benar-benar  mau disiplin  terhadap  metoda  ilmiah, dan jangan pula ilmu dan pembahasan ilmiah tentang sejarah atau bukan tentang sejarah itu  hanya  sebagai  alat  guna memperkuat nafsu dan tingkah lakunya sendiri.


PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN ORIENTALIS

Dari kalangan  Orientalis  yang  dalam  penyelidikan  mereka disusun dalam pola ilmiah itu, masih banyak yang terpengaruh oleh tingkah laku dan temperamen demikian  itu,  juga  tidak sedikit  dari kalangan penulis-penulis Muslimin sendiri yang demikian.  Dan  anehnya,  kedua  mereka  itu   masing-masing mengikuti   apa   yang   enak   saja   menurut   selera  dan kecenderungan   mereka   sendiri - dengan  mengambil peristiwa-peristiwa  yang dipakainya sebagai dasar penulisan mereka, yang katanya ilmiah, dengan maksud  demi  kebenaran. Dalam  pada  itu ia masih terpengaruh sekali oleh temperamen dan   kecenderungan   nafsunya   sendiri.   Sebagai   bukti, bagaimanapun  mereka masing-masing berusaha secara jujur dan teliti mau menguji satu sama lain tentang  apa  yang  mereka tulis,  namun  pasti yang terbayang depan mata mereka, ialah peristiwa-peristiwa  yang  diciptakan  oleh  khayal   mereka sendiri juga.
 
Sekiranya   orang   mau   berusaha   menurut   kemampuannya, melepaskan diri dari hawa-nafsu, dan  berpegang  hanya  pada cara-cara ilmiah saja, tentu tulisan demikian itu akan lebih kuat berpengaruh dalam  jiwa,  tidak  seperti  tulisan  yang dipengaruhi oleh nafsu belaka. Saya sudah mencoba seperlunya menerangkan  kesalahan-kesalahan  yang  mereka  lakukan  itu masing-masing - dalam  pengantar  cetakan  kedua  ini - seringkas mungkin, disesuaikan dengan tempat  yang  ada  ini pula.  Mudah-mudahan  berhasil  juga  kiranya saya  mencari kejujuran yang dimaksud itu.
 
Memang  tidak  mudah  bagi   kaum   Orientalis   itu   dalam menyelidiki  masalah-masalah  Islam demikian atau mengadakan penelitian  dengan  bersikap  jujur,  betapapun  mereka  mau berniat baik dan bersikap bebas dalam penelitian ilmiah itu. Tidak mudah bagi mereka menguasai semua  seluk-beluk  bahasa Arab sekalipun ilmu bahasa itu sudah mereka kuasai. Ditambah lagi mereka masih terpengaruh oleh cara hidup Kristen  Eropa demikian   rupa,   sehingga   kebanyakan   mereka  memandang agama-agama  itu  dengan  pandangan  penuh  prasangka  pula, sedang  sebagian  kecil  lagi,  yang  masih  memegang ajaran Kristennya, terpengaruh pula oleh adanya pertentangan  agama Kristen dengan ilmu pengetahuan. Maka dalam penyelidikan-penyelidikan mereka  tentang  Islam,  merekapun lalu  terpengaruh  seperti  dalam  penyelidikan-penyelidikan mereka tentang Kristen  atau  tentang  agama  pada  umumnya. Maksud   saya   ialah  terpengaruh  oleh  pertentangan  yang merusak. Bagi kaum Orientalis yang jujur ini bukan suatu hal yang tereela. Tak ada orang yang dapat membebaskan diri dari ketentuan-ketentuan lingkungannya sesuai dengan  tempat  dan waktu.


KAUM MUSLIMIN DAN PENYELIDIKAN

Akan    tetapi,   penyelidikan-penyelidikan   mereka   dalam masalah-masalah Islam masih diliputi oleh kabut purbasangka, yang  jauh dari kebenaran. Karena itu juga, beban yang berat dan penting itu, hendaknya  dipikulkan  ke  atas  bahu  para cendekiawan  dari  kalangan  dunia  Islam sendiri, baik yang aktif dalam ilmu agama atau dalam bidang ilmu lainnya, yakni beban  melakukan pembahasan-pembahasan mengenai Islam secara teliti dan jujur, dalam lingkungan metoda yang ilmiah. Kalau mereka  melakukan  itu,  dengan  bantuan  pengetahuan mereka mengenai seluk-beluk bahasa Arab dan kehidupan  orang  Arab, maka  penyelidikan mereka ini akan ada artinya sehingga akan membuat Orientalis-orientalis itu - atau  sekurang-kurangnya sebagian  dari  mereka  -  meninjau  kembali  sebagian besar pendapat mereka itu. Mereka  akan  dapat  diyakinkan  dengan hasil  yang  diperoleh oleh kaum cendekiawan dunia Islam itu dengan rasa puas dan senang hati.
 
Untuk mencapai hasil demikian inipun bukan soal yang  mudah. Ia  memerlukan  kesabaran  dan  kegigihan dalam penyeIidikan itu, perlu mengadakan perbandingan dan pemikiran yang bebas. Tapi itu bukan suatu hal yang tidak mungkin, juga bukan soal yang  terlalu  sulit.  Sungguhpun  begitu  ini  adalah  soal penting  sekali  dan  akan  besar pula pengaruhnya bagi hari kemudian Islam dan hari kemudian seluruh umat manusia.
 
Menurut hemat saya, melakukan pekerjaan ini sebaiknya  harus dibedakan  dulu antara dua perioda yang berlain-lainan dalam sejarah Islam: Yang pertama,  dari  permulaan  Islam  hingga terbunuhnya Usman. Yang kedua, dari terbunuhnya Usman hingga tertutupnya  pintu  ijtihad.  Pada  perioda   pertama   kaum Muslimin   masih   sepenuhnya  kompak,  belum  dirusak  oleh cerita-cerita perbedaan tentang khilafat,  juga  tidak  oleh perang   Ridda  atau  oleh  penaklukan  kaum  Muslimin  atas beberapa daerah yang sudah mereka kuasai.
 
Tetapi sesudah Usman terbunuh, perselisihan di kalangan kaum Muslimin  mulai  berjangkit.  Perang  saudara antara Ali dan Muawiya   pecah   dan   pemberontakan-pemberontakan    terus berkecamuk,    kadang    terang-terangan,    kadang   dengan sembunyi-sembunyi. Ambisi  politik  telah  memegang  peranan penting   dalam   kehidupan   agama.   Guna  menilai  adanya kontradiksi    itu,     dapatlah     orang     membandingkan prinsip-prinsip   yang  terkandung  dalam  pidato  Abu  Bakr sesudah pelantikannya (sebagai Khalifah) tatkala ia berkata:
"Kemudian,  saudara-saudara.  Saya  sudah dijadikan penguasa atas kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik  di antara  kamu.  Kalau  saya  berlaku  tidak baik, luruskanlah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan  dan  dusta  adalah pengkhianatan.  Orang  lemah  di  kalangan  kamu adalah kuat sesudah haknya nanti saya berikan kepadanya insya Allah, dan yang  kuat  bagi  saya adalah lemah sesudah haknya itu nanti saya  ambil,  insya  Allah.  Apabila   ada   golongan   yang meninggalkan  perjuangan  di  jalan  Allah,  maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada  mereka.  Apabila  kejahatan  itu meluas  pada  suatu  golongan,  maka  Allah akan menyebarkan bencana pada mereka. Taatilah saya selama saya  taat  kepada (perintah) Allah dan RasulNya. Tapi apabila saya membangkang terhadap  (perintah)  Allah   dan   Rasul,   maka   gugurlah kesetiaanmu  kepada  saya.  Laksanakanlah shalat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian," - dengan pidato  Mansur  dari Banu  'Abbas,  yang  sesudah  ia mencapai puncak mahligainya mengatakan:  "Saudara-saudara,  saya  adalah  penguasa  kamu dengan   anugerah  dan  dukunganNya.  Saya  adalah  pengawal hartaNya.  Saya  melaksanakan  ini  atas   kehendakNya   dan keinginanNya, memberikan harta atas perkenanNya. Allah telah menjadikan saya sebagai  kunci.  Kalau  dikehendakiNya  akan dibuka,  maka dibukaNyalah saya, supaya dapat.memberikan dan membagi-bagi rejeki kamu. Kalau Ia menghendaki menutup saya, maka ditutupNyalah saya ..."
 
Biarlah  orang  membandingkan sendiri kedua macam pidato itu supaya  dapat  melihat  perubahan  yang  begitu  besar  atas prinsip-prinsip  kehidupan Islam selama masa kurang dari dua abad, suatu perubahan yang mengalihkan cara musyawarah  kaum Muslimin, kepada kekuasaan mutlak yang diambil atas nama hak suci itu.
 
Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang  sampai  membawa akibat  perubahan  dasar-dasar  hukum, adalah kenyataan yang telah menyebabkan kedaulatan Islam  kemudian  menjadi  lemah dan  mundur.  Di  samping  berkembangnya Islam dan peradaban Islam selama dua  abad  berturut-turut  sesudah  terbunuhnya Usman,  di  samping  adanya kegiatan Islam memasuki beberapa kerajaan, menaklukkan raja-raja di bawah Mongolia dan Saljuk -  sesudah  yang pertama mengalami kehancuran - maka perioda pertama  yang  berakhir  dengan  terbunuhnya  Usman,  adalah perioda  yang  telah membina prinsip-prinsip yang sebenarnya dalam kehidupan Islam pada umumnya.  Hanya  ini  yang  boleh dijadikan  pegangan  yang pasti dan positif akan segala yang telah terjadi itu supaya  orang  mengetahui  prinsip-prinsip yang sebenarnya.
 
Adapun  sesudah  perioda itu, di samping adanya perkembangan ilmu dan pengetahuan pada masa dinasti Umayya -  lebih-lebih pada  masa dinasti 'Abbasia, tangan-tangan kotor sudah mulai menodai prinsip-prinsip pokok  yang  sebenarnya  itu,  untuk kemudian  diganti  dengan  ajaran-ajaran  yang sering sekali bertentangan dengan  jiwa  Islam,  dan  kebanyakannya  malah untuk maksud-maksud politik syu'ubia [1] (rasialisma).
 
[1] Suatu paham politik pada masa permulaan  persekemakmuran Islam    bangsa-bangsa   yang   menolak   hak-hak   istimewa orang-orang Arab (A).
 
Adanya  orang-orang  asing,  orang-orang  Yahudi dan Nasrani yang pura-pura masuk Islam, mereka itulah  pula  yang  turut menyebarkan cara-cara baru itu, mereka tidak ragu-ragu turut mendorong diciptakannya hadis-hadis yang  dihubung-hubungkan kepada  Nabi  'alaihissalam, atau mendakwakan sesuatu kepada para Khalifah  yang  mula-mula,  yang  memang  tidak  sesuai dengan sejarah hidup dan sifat-sifat mereka itu.
 
Apa  yang  ditulis  orang  mengenai  perioda belakangan ini, tidak  dapat  dijadikan   pegangan   secara   ilmiah   tanpa mengadakan  penelitian  kembali  dan kritik yang benar-benar mendalam  dengan   tidak   dipengaruhi   oleh   nafsu   atau kecenderungan-kecenderungan  pribadi.  Yang  pertama  sekali perlu  kita  lakukan  ialah  menolak  segala  yang  bersifat kontradiksi   dan   tidak  sesuai  dengan  Qur'an,  meskipun tumbuhnya kontradiksi itu  dihubung-hubungkan  kepada  Nabi. Yang  boleh dipercaya dari apa yang langsung diceritakan dan dapat  juga  dipakai  sebagai  dasar  menguji  yang   datang kemudian,   ialah   masa   permulaan   Islam   sampai  waktu terbunuhnya Khalifah yang ketiga. Saya kira kalau semua  ini kita  lakukan  dengan  segala  ketelitian  ilmiah, kita akan dapat  memberikan  suatu  lukisan  yang  sebenarnya  tentang ajaran  Islam  yang  murni,  dan  dari  kehidupan Islam yang pertama pula; yakni kehidupan intelektual dan spiritual yang begitu  kuat dan luhur, sehingga membuat Arab pedalaman dari jazirah itu dalam waktu  beberapa  puluh  tahun  saja  dapat tersebar  di muka bumi ini, guna menegakkan - dalam pelbagai negara - dasar-dasar peri kemanusiaan yang paling luhur yang pernah  dikenal  sejarah. Kalau dalam hal ini kita berhasil, kepada umat manusia  tentu  kita  akan  dapat  mengungkapkan suatu  ufuk  baru  yang  akan mengantarkan kita sampai dapat mengetahui  seluk-beluk  alam  dalam  arti  psikologis   dan spiritual,  dan  dengan mengetahui ini, akan makin erat pula hubungan itu dan akan membawa  kenikrnatan  dan  kebahagiaan hidup  bagi  umat  manusia.  Ia  akan  merasa  makin  senang terhadap segala yang ada dalam alam ini  bilamana  ia  makin mengenal  segala rahasia gerak dan tenaga yang tadinya masih tersembunyi seperti tenaga listrik dan gerakan  ether,  yang kemudianpun diketahui orang pula.
 
Kalau  dalam  hal  ini  kita berhasil, tentu itu adalah jasa Islam terhadap umat  manusia  sekarang,  seperti  yang  juga sudah  terjadi  pada permulaan sejarah Islam dahulu, tatkala orang-orang Arab keluar dari lingkungan  jazirahnya,  keluar menyebarkan  prinsip-prinsip  Islam  yang  luhur  ke seluruh dunia.
 
Langkah pertama yang perlu kita  lakukan  dalam  hal  ini  - dalam  mengabdi  kepada  kebenaran  dan  kemanusiaan - ialah benar-benar mendalami  studi  tentang  sejarah  hidup  Nabi, sehingga  dapat  membukakan  jalan bagi umat manusia ke arah peradaban  yang  selama  ini  menjadi  cita-citanya.   Dalam melakukan   studi  ini  Qur'an  adalah  sumber  yang  paling otentik, sebagai kitab yang tidak akan membawa kepalsuan dan tidak  pula dicampur dengan segala hal yang masih meragukan. Kitab yang selama tigabelas abad ini tetap  dan  akan  tetap terus  demikian  selama hidup manusia, sebagai suatu mujizat sejarah dalam kemurnian teksnya, sebagaimana sudah dikuatkan oleh  firman  Allah:  "Kami yang telah memberikan Qur'an ini dan Kami pula yang  menjaganya"  (Qur'an,  15:  9).  Seperti sejak  dahulu  juga,  ia akan tetap sebagai mujizat Muhammad yang  hidup,  sejak  diwahyukan   Allah   kepadanya   sampai berakhirnya  dunia  dengan  segala  isinya  ini. Segala yang
berhubungan dengan sejarah hidup Muhammad  harus  dihadapkan kepada  Qur'an,  mana  yang cocok itu adalah benar, dan mana yang tidak cocok samasekali tidak benar.
 
Dalam studi permulaan ini, memang  ke  arah  itu  yang  saya usahakan,  sekuat  kemampuan  saya.  Sesudah selesai cetakan pertama buku ini saya tinjau kembali, saya bersyukur  kepada Allah atas taufikNya itu. Sayapun berharap semoga Tuhan akan memberi petunjuk dan pertolongan serta membukakan jalan bagi barangsiapa  yang  akan meneruskan studi demikian ini secara ilmiah dengan lebih mendalam lagi.
 
Tuhan, kepadaMu juga kami mempercayakan diri, kepadaMu  juga kami kembali dan kepadaMu juga kesudahan segala ini.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Islam
TitleAuthorViews
Sejarah Hidup Muhammad Muhammad Husain Haekal 1,246
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 1,237
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 Muhammad Husain Haekal 1,197
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 Muhammad Husain Haekal 1,039
Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu? Maramis Setiawan 993
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 Muhammad Husain Haekal 967
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 Muhammad Husain Haekal 957
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 8 Muhammad Husain Haekal 932
Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan Muhammad Husain Haekal 921
Tips Sholat Khusyu noinitial 849
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 2 Muhammad Husain Haekal 802
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 Muhammad Husain Haekal 802
Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 Muhammad Husain Haekal 783
Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 3 Muhammad Husain Haekal 752
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kelima - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR 3 Muhammad Husain Haekal 706

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
Powered by Mana Visual Article
eXTReMe Tracker