|
|
Prolog: Rasa cinta kan tetap ada selama kau memikirkannya Rasa sakit kan bertahan selama kau membiarkannya Semangat dan air mata, bukankah itu karunia?
Bandara Sepinggan. Suasana berubah sejuk saat aku memesuki entrance
bagasi. Masih kurasakan dada ini berdebar-debar. Gurat kecemasan juga
belum hilang dari wajah bu Saeroen, wanita setengah baya yang tadi
duduk di sampingku. Beliau tertatih membawa troli kosong menunggu
bagasi terbuka. Akhir-akhir ini cuaca memang kurang bersahabat. Hujan disertai angin kencang melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia. Masih terekam jelas, suara co.pilot yang mengumumkan adanya cuaca buruk
di atas Laut Jawa. Pramugari sibuk membantu penumpang yang panik
memasang pelampung, dan berulang kali mengingatkan untuk mematikan
handphone karena bisa mengacaukan sistem navigasi pesawat. Lafadz doa terdengar diiringi isak kepasrahan. Saat ajal terasa
demikian dekat, barulah sadar betapa manusia tak berdaya di hadapan
ketentuan-Nya . Loa Pari, 2002. ”Rahma, bapak pulang na. Cepat bantu !“ mamak berteriak dari depan rumah. Padahal ketinting itu belum pula merapat. ”Rahma…! sedang apa kau? Tak dengar kah?!“ ”Iya mak!” aku setengah berlari, earphone walkman masih terpasang di telingaku. Bapak pulang 4 bulan sekali. Beliau kerja di kapal. Biasanya bapak
berlayar sampai ke Lhoknga, Aceh atau Bengkulu, membawa bahan makanan
dan produk olahan dari Banten. Senja perlahan menggantikan terang. Aku suka menikmati semburatnya
sambil duduk di papan yang menjorok ke sungai Mahakam. Sungai terbesar
di Kalimantan. Sudah lama aku tidak ke pulau Kumala, kabarnya sekarang
di pulau kecil di tengah Mahakam itu mulai dibangun sky tower dan
wahana hiburan lainnya. Ima sedang mandi di samping kolong rumah sambil mencuci, walau air sedang pasang. —-****—- Kak Randa menjemputku untuk mencari kepiting atau undang. Kami menaiki
sampan kecil menyusuri tepi Mahakam, berbekal senter, jaring dan tombak
kecil. ”Kak Randa! Itu disana itu..!” kutunjuk kelebatan kuning yang tertangkap cahaya senterku. Crasshh… ! “Wah besar, mana karetnya?!” kak Randa memegangi capit kepiting itu hati-hati. Kuulurkan karet gelang. Capit kepiting harus diikat atau dipatahkan dulu biar aman. ”Kak Randa jadi ke Balikpapan ?” kuamati wajahnya sekilas. ”Iya. Mamak minta kakak pulang, tak tahu ada apa” jawabnya tak acuh. Bunyi kecipak air yang terbelah dayung membuat suasana emh… romantis,
apalagi diatas ada ribuan bintang menemani si bulan sabit. Kapan ya kak
Randa tahu kalau… ”Eh Rahma, pulang sekarang kah? Sudah malam na Takut mamak Rahma
khawatir.“ kak Randa cepat-cepat mendayung sampan. Di kejauhan
terdengar suara mesin perahu ces yng bolak-balik membawa penumpang ke
seberang. Selalu begitu. Memperlakukan aku seperti balita. Aku sudah 18 tahun.
Walau kak Randa jauh lebih deawasa, bukan berarti dia bisa mengacuhkan
perasaanku begitu saja. Padahal sudah lama aku suka kak Randa. Bukan
sebagai adik, tapi suka yang itu…. —-****—- ”Rahma, mamak pergi dulu. Tak usah kemana-mana.” mamak merapikan
bajunya. ”Oya ambil lemang di rumah Laode, kau tinggal buat sambal
jeruk lalu goreng ikan na.” ”Mamak hendak kemana kah ?” tak kualihkan pandangan dari Power Rangers di TV. ”Ke rumah Seti. Buat syukuran dia. Ponakannya lusa pulang ke
Balikpapan. Katanya mau kawin dengan gadis Kutai habis Erau. Jangan
lupa ambil lemang, nanti kehabisan.“ Apa…?? Kak Randa mau pulang ? lusa? Kepalaku mendadak berdenyut.
Menikah? Dengan gadis kutai? Kenapa tak bilang? Tidak bisa. Tidak
boleh.. Aku berlari ke kamar, mengunci pintu. Tak peduli makanan atau apapun. Aku hanya ingin menangis, kak Randa… —-****—- Papan yang kududuki mulai basah oleh gerimis. Senja terlihat kelam. Di
kejauhan terlihat ketinting dan perahu cas bolak-balik menyeberangkan
penumpang yang ingin ke Tenggarong, Kutai Kertangara atau Loa Duri. Dan
mungkin juga Balikpapan. Kemarin kak Randa berangkat. Dari sini aku melihatnya naik perahu.
Hatiku masih terasa ngilu, aku terlalu berharap. Padahal sudah jelas
dia menganggapku hanya sebagai teman, adik. Bukan apa-apa. ’’Bapak, Rahma mau ke Jogja.“ Mantap aku berkata. Semua orang sedang berkumpul di ruang tamu. Semua kepala mendongak. Bapak, mamak Ima, Rika menatapku takjub. ”Kau bercanda na ? katanya tak mau tinggal sama mbah.“ ”Tunggu-tunggu, kenapa tiba-tiba kau ingin pergi ? ada apa ?“ ”Tak apa. Rahma cuma ingin lihat Jawa.” Dan jauh-jauh dari Mahakam —-***—- “Hei Rahma itu kopernya. Ayo.“ Suara bu Saeroen memecah lamunanku. Ya aku tersenyum sendiri. Rasanya begitu naif aku mengenali cinta.
Menempatkannya di ruang yang tak seharusnya. Sekian lama terpedaya
cinta semu, hingga akhirnya benar-benar jatuh. Betapa bodohnya, air
mata terkuras menyesali takdir, waktu yang terbuang untuk melamunkan
masa lalu. Sia-sia. Padahal cinta yang hakiki dari Dia masih menunggu. “Mencintai, fitrah manusia. Namun bila Allah telah menetapkan sesuatu
yang terbaik untuk kita, masihkah ada penyesalan dan prasangka ?
padahal Dia adalah Dat yang paling besar cintanya dan paling luas
ampunannya kepada manusia.” Suara mbak Ayu kembali bergema. Kini aku terdampar di dunia yang paling indah. Dakwah. Dari sana mulai
kubangun serpihan-serpihan hati. Belajar tentang cinta, kehidupan, agar
aku bisa menatap Mahakam dengan lebih bijak. Mengalirkan bongkahan asa
bernama dakwah, yang akan berenang bebas. Ke seluruh bumi Dayak,
Kutai, Banjar, Bugis, Jawa. Langkahku semakin ringan menuju entrance Kedatangan dalam Negeri.
Lamat-lamat kulihat seraut wajah teduh yang selama ini kurindukan.
Mamak. Angin melambaikan jilbab dan khimarku, mengucapkan selamat
datang… Epilog: Cinta ibarat kupu-kupu. Makin ku kejar, makin ia menghindar. Tapi bila ku biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu di saat ku tak menduganya. Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti. Tapi cinta hanya istimewa bila aku berikan pada seseorang yang layak menerima. Jadi tenang-tenang saja, jangan terburu-buru dan pilihlah yang terbaik……… Sebagaimana tuntunan Nabimu….pasti kau tak kan tertipu……. Jadi jangan lelah menunggu………….!!!!
| Title | Author | Views |
| Perbedaan Antara Qodho dan Qodar |
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin |
2,748 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 4 |
Muhammad Husain Haekal |
2,511 |
| Sejarah Hidup Muhammad |
Muhammad Husain Haekal |
2,200 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keempat - MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA 1 |
Muhammad Husain Haekal |
2,086 |
| Kisah Nyata: Karirku Kapankah Berlalu? |
Maramis Setiawan |
2,082 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 4 |
Muhammad Husain Haekal |
2,007 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Pertama - ARAB PRA-ISLAM 1 |
Muhammad Husain Haekal |
1,952 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Ketiga - MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA 1 |
Muhammad Husain Haekal |
1,820 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Perkenalan |
Muhammad Husain Haekal |
1,744 |
| Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan |
Maramis Setiawan |
1,676 |
| Tips Sholat Khusyu |
noinitial |
1,498 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Pengantar 8 |
Muhammad Husain Haekal |
1,466 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedua - MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY 1 |
Muhammad Husain Haekal |
1,454 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Prakata 6 |
Muhammad Husain Haekal |
1,310 |
| Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Kedelapan - Dari Pembatalan Piagam Sampai Kepada Isra' 3 |
Muhammad Husain Haekal |
1,272 |
|
|
|
|
|
|
|