Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah
nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (1 Tesalonika
5:19-20)
Kisah yang inspirasional ini muncul di koran San
Francisco Examiner pada tanggal 10 Oktober 1999. Seorang imam Katolik
di Polandia yang belakangan hari menemukan bahwa ia ternyata adalah seorang
Yahudi. Ia menjadi seorang imam, dan tanpa disadari telah memenuhi nubuat
yang diucapkan ibunya ketika ia masih bayi dan diserahkan kepada seorang
wanita Polandia untuk dipelihara dan diselamatkan dari bencana Holocaust.
Saya teringat kepada ucapan Santo Paulus seperti tertulis dalam 1 Tesalonika
5:19-20. Kisah ini adalah sebuah contoh yang bagus tentang nubuat-nubuat
yang terus terjadi di sekitar kita dan terutama untuk mengingatkan kita
akan kewajiban sebagai umat Kristen untuk mengasihi sesama kita, bahkan
dengan taruhan nyawa. Harap diingat juga bahwa koran Examiner seperti
juga umumnya koran lain di Amerika Serikat, bukanlah koran yang pro Gereja
Katolik. Bahkan sebaliknya, mereka jelas cenderung memihak pada kelompok
homoseksual, ultra-feminis, pro-choice (pro aborsi), yaitu mereka-mereka
yang agenda politiknya berbenturan dengan moral iman Katolik.
Lublin, Polandia, 1999.
Sang imam berjalan dengan keheningan melewati galian-galian
dimana beribu-ribu orang di eksekusi oleh Nazy, krematorium yang disebut-sebut
digunakan untuk membakar seribu mayat perharinya, dan kamar gas yang sedang
dikunjungi oleh sejumlah anak-anak sekolah dari Israel.
Sosok tubuhnya lumayan tinggi, berambut gelap. Sang
anak-anak Israel, beberapa diantaranya tubuhnya dibaluti oleh bendera
kebangsaan Israel, memperhatikan sang imam dengan seksama. Beberapa menunjukkan
sikap bermusuhan, bahkan kemarahan. Yang lain-lainnya penuh rasa ingin
tahu, seolah-olah imam Katolik ini adalah seorang yang mereka kenal.
Sang imam Polandia tidak merasa nyaman, disini di
tempat bekas perkampungan konsentrasi Nazi di Majdanek, dikelilingi oleh
orang-orang Israel. Sungguh dia tergoda untuk bicara. Tetapi kisahnya
sangat rumit, dan mungkin mereka tidak akan mempercayainya. "Melihat
anak-anak dari Israel ini, " akhirnya dia berkata, "saya ingin
mendekati mereka dan berkata, 'saya punya penderitaan yang sama seperti
yang kamu rasakan.'"
Namanya adalah Romuald-Jakub Weksler-Waszkinel. Dia
adalah seorang imam dan guru di Universitas Katolik Lublin. Dia juga -
seperti baru diketahuinya setelah dewasa - adalah seorang Yahudi.
Kini dia percaya bahwa ibunya, yang tidak pernah
dikenalnya, terbunuh di Majdanek pada tahun 1943. Dia menyebut abu di
tempat krematorium tersebut sebagai "makam ibu saya".
Perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk mencapai titik
ini, bertahun-tahun keragu-raguan yang berulang muncul dan konfrontasi.
Seperti banyak orang yang lahir sebagai generasi yang punah di Eropa tengah,
Weksler-Waszkinel terperangkap dalam dua jepit kediktatoran yang tidak
kenal ampun: Nazi dan komunisme. Yang tertinggal adalah potongan-potongan
kisah kehidupan.
Sekarang, sepuluh tahun setelah runtuhnya blok
Soviet, sang imam merasa puas bahwa ia berhasil merangkai kembali potongan-potongan
kisah ini menjadi mirip sebuah kebenaran. Hidupnya - seperti hilangnya
kehadiran kaum Yahudi di banyak kota di Polandia - telah merangkak keluar
dari bayangan komunisme.
"Komunisme menyembunyikan banyak hal,"
kata Henryk Lewandoski, seorang anggota organisasi Children of Holocaust,
sebuah grup yang dibentuk di Warsawa pada tahun 1990 setelah berakhirnya
kekuasaan komunis dan sikap anti-Yahudi yang kadang dijalankannya. "Kami
mengetahui berlusin-lusin orang yang telah menemukan di beberapa tahun
belakangan ini bahwa mereka sesungguhnya adalah orang-orang Yahudi."
Persaingan Antara Korban
Tetapi posisi sang imam jauh dari nyaman. Orang Yahudi
nyaris musnah dari Polandia, tiga juta orang Yahudi terbunuh oleh Nazi
Jerman selama Perang Dunia 2. Tiga juta umat Katolik Polandia juga terbunuh.
Persamaan yang mengerikan ini turut menyumbang terhadap
isu yang tampaknya tidak terpecahkan: persaingan antara korban, tingkat
kerjasama orang Polandia terhadap pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan
oleh Nazi, atau apakah identitas Polandia sebagai negara Katolik atau
multi-etnis.
Sehingga Weksler-Waszkinel kadang-kadang berusaha
menjembatani hal yang tidak dapat dijembatani. "Kami sekarang adalah
negara bebas, dan kami harus membersihkan segala kekotoran," begitu
katanya. "Terlalu banyak orang yang masih percaya pada stereotip
Yahudi sebagai musuh Polandia, membayar secara politis. Terlalu sedikit
yang menemukan tempat bagi dosa perang Polandia."
Apa yang tampak jelas adalah bahwa hidup sang imam
menyerupai perumpamaan modern, yang menggambarkan kebenaran yang bermacam-macam
atas Polandia, kebenaran-kebenaran yang menutupi slogan-slogan yang berpolarisasi.
Dia adalah putera seorang Katolik Polandia yang baik
yang bernama Waszkinel. Ayahnya, Piotr, adalah pandai besi. Ibunya, Emilia,
memanjakan dia. Ini adalah fakta-fakta yang tidak terbantahkan sewaktu
dia tumbuh besar.
Setelah perang, keluarga itu tinggal di Paslek, sebuah
kota di bagian Timur Polandia. Memang, sepasang pemabuk pernah meneriakkan
"Yahudi yatim-piatu" terhadapnya. Memang, kadang-kadang dia
berusaha mencari kemiripan dirinya terhadap orang-tuanya. Tetapi ini cuma
hal-hal kecil dalam kehidupan yang umumnya berjalan mulus.
Rasa Bersalah dan Duka-cita
Sang anak lelaki menyukai pesta-pesta, gadis dan
akordion. Sehingga ketika pada umur 17 tahun dia memberitahu Piotr dan
Emilia tentang keinginannya untuk menjadi seorang imam, mereka sungguh
ragu-ragu. Sang ayah memohon kepadanya untuk mengurungkan niatnya.
Di seminari, pada minggu-minggu pertama memang muncul
keraguan. Piotr datang mengunjunginya, membawanya ke kapel, dan menangis
tersedu-sedu. Beberapa minggu kemudian, dia meninggal karena serangan
jantung.
Iman sang calon imam-pun goncang. Dia merasa bersalah
dan berduka-cita atas kematian lelaki yang selalu dikenalnya sebagai ayahnya
tersebut. Tetapi lantas kemudian sebuah keyakinan yang kuat berkembang:
"Jika ayah saya takut saya menjadi seorang imam yang buruk, terserah
saya untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi imam yang baik. Keputusan
saya menjadi tidak dapat ditarik kembali."
Kesulitan-kesulitan lainnya muncul. "Perasaan
saya makin terbelah," kata sang imam. "Gereja dulu mengajarkan
bahwa orang Yahudi membunuh Yesus. Saya tidak ingin menjadi salah satu
dari gerombolan pembunuh. Sungguh mengerikan untuk memikirkan bahwa saya
adalah orang Yahudi."
Setelah dia membaca lebih banyak, dan bisa melihat
bahwa ajaran-ajaran ini adalah penyelewengan dari ajaran Gereja Katolik
yang sesungguhnya, rasa takutnyapun memudar. Dia memberitahu Emilia -
wanita yang sekarang dipanggilnya sebagai "ibu Polandia saya"
- bahwa dia merasakan suatu rahasia. Dia menyimak bahwa ketika dia membacakan
tulisan tentang Yahudi kepada ibunya, Emilia yang buta huruf, mata ibunya
sering berkaca-kaca.
"Mengapa ibu menangis? Apakah saya seorang Yahudi?"
sang imam menanyakan ibunya pada tahun 1968, segera setelah dia pindah
ke Lublin dan mulai belajar di Universitas Katolik. "Apakah saya
kurang mengasihimu?" demikian jawab Emilia.
Meskipun ini bukan jawaban langsung, tapi terjawablah
sudah. Dan demikianlah Weksler-Waszkinel mengerti tanpa mengetahui. Ketika
dia menceritakan hal ini, matanya berkaca-kaca, masih terguncang, tampaknya,
oleh kebohongan yang berlangsung lama, yang juga adalah faktor yang menyelamatkannya.
Akhirnya pada tahun 1978, ketika Emilia dirawat sebentar
di rumah sakit karena kemungkinan kanker, sang imam menghampiri ibunya.
"Saya mencium kedua tangannya," dia berkata. "Saya berkata
bahwa waktunya sudah tiba baginya untuk memberitahu saya."
Emilia, akhirnya, memberitahu sang imam bahwa orang-tua
kandung yang sesungguhnya adalah orang-orang yang baik hati yang mengasihi
dia. Emilia menceritakan bahwa mereka adalah pasangan suami-istri Yahudi
dan bahwa mereka telah dibunuh. Emilia mengatakan bahwa dia hanya ingin
menyelamatkan si anak lelaki dari kematian yang sama.
Sebagian dari kisah tersebut lantas muncul. Sang
anak lelaki dilahirkan pada tahun 1943 - tanggal tepatnya tidak diketahui
- dari pasangan Yahudi di kota Stare Swieciany, dulu termasuk wilayah
Polandia, tetapi sekarang dikenal sebagai Svencionys di Lithuania. Dia
punya kakak lelaki. Ayahnya adalah penjahit terkenal. Ibunya, terperangkap
di ghetto (perkampungan konsentrasi, khusus bagi orang Yahudi),
mencoba menghubungi Emilia dan memohon kepadanya agar membawa sang bayi
dan menyelamatkannya.
Emilia ragu-ragu. Tetapi kemudian ibu kandung sang
imam yang adalah seorang Yahudi, mengatakan sesuatu yang sangat menentukan
dan suatu nubuat yang mendirikan bulu roma yang tidak akan pernah dilupakan
oleh Emilia sang ibu angkat: "Engkau adalah seorang Katolik
yang taat. Engkau percaya kepada Yesus, yang adalah orang Yahudi. Maka
dari itu cobalah selamatkan bayi Yahudi ini demi orang Yahudi yang engkau
percayai. Dan suatu hari ia akan tumbuh besar menjadi seorang imam."
Mendengar hal ini, Weksler-Waszkinel menjadi gemetar,
karena dia telah memenuhi nubuat yang diucapkan ibundanya, seorang wanita
yang tidak pernah dikenalnya. "Engkau harus mengasihi ibumu karena
ia sangat bijaksana," Emilia berkata kepadanya. "Kata-kata itu
yang diucapkan oleh ibumu adalah kata-kata yang menyelamatkan jiwamu karena
kata-kata itu yang telah meyakinkan kami untuk membawamu."
Melacak Jejak Keluarganya
Tetapi apakah nama-nama kedua orangtuanya? Bagaimana
cara mereka terbunuh? Bagaimana nasib kakak laki-lakinya? Emilia mengatakan
bahwa dia sama sekali tidak mengetahui kelanjutannya. Dia dengan sengaja
berusaha melupakan nama-nama tersebut karena dia sangat takut bahwa, dibawah
penyiksaan, dia akan mengaku.
Sang imam memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun
- kecuali Sri Paus Yohanes Paulus II. Sebuah surat dukungan moral yang
luar biasa diterimanya dari Sri Paus yang baru terpilih pada waktu itu,
dialamatkan kepada "Saudaraku Yang Terkasih". Surat tersebut
menjelaskan bahwa sengsara sang imam adalah bagian dari sengsara salib,
sebuah tanda kasih. Isi surat tersebut juga mendorong dia untuk tetap
tabah.
Tetapi mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Yahudi,
apakah Weksler-Waszkinel pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan kepastoran?
"Tidak, saya tidak pernah punya keragu-raguan," dia berkata.
"Saya tahu bahwa Yesus telah menyelamatkan saya. Dia menemukan saya
di ghetto. Dia adalah orang Yahudi yang paling saya bangga-banggakan"
Sisa detil keluarganya muncul bertahun-tahun kemudian,
melalui bantuan seorang biarawati yang bernama Sister Klara Jaroszynksa.
Sang imam pernah mendengarkan pengakuan dosanya dan mendorong sang biarawati
untuk tidak takut terhadap hal apapun karena dia sendiri "telah diselamatkan
lima menit menjelang tengah malam dan tiada sesuatupun dapat terjadi kepada
seseorang yang ber-Tuhan."
Sang biarawati, ternyata, telah menyelamatkan banyak
orang Yahudi selama masa perang, dan ketika mendengar referensi tentang
penyelamatan "lima menit menjelang tengah malam", diapun mengerti.
Dia datang menghadap sang imam sehari kemudian dan berkata singkat, "Engkau
adalah seorang Yahudi!"
Surat-suratpun dilayangkan kepada orang-orang di
Israel yang dikenal oleh sang biarawati. Tetapi baru di tahun 1992, tiga
tahun setelah jatuhnya komunisme, biarawati tersebut bisa melakukan perjalanan
kesana dan mengorganisasikan pertemuan antara para orang yang selamat
dari Stare Swieciany.
Ketika seorang penjahit disebutkan, orang-orang yang
selamat dari perang tersebut segera mengenalinya sebagai Jakub Weksler,
yang dikenal oleh orang-orang sebagai "Jankel." Istrinya - ibu
kandung sang imam - bernama Batia.
Tampak Mirip Seperti Semua Orang
Weksler-Waszkinel segera melakukan perjalanan ke
Israel. "Sepanjang hidup saya," dia berkata sambil tertawa,
"Saya telah mencari orang-orang yang mirip dengan saya, dan tiba-tiba
semua orang tampak mirip." Di lapangan terbang, dia disambut oleh
Svi Weksler, saudara kandung ayahnya, yang telah kehilangan istrinya dan
kedua putrinya pada Perang Dunia II tetapi berhasil menyelamatkan dirinya
sendiri ke Russia dan bahkan selamat juga dari perkampungan konsentrasi
Soviet.
Sungguh suatu reuni yang emosional. Sang imam mengetahui
bahwa ayahnya nyaris bisa dipastikan telah ditembak mati pada tahun 1943
ketika ghetto tempat tinggalnya dikosongkan, dan ibundanya bersama
kakak laki-lakinya, Samuel, dibawa ke Vilnius, Lithuania. Dari sana, mereka
mungkin dipindahkan ke Majdanek di musim gugur 1943, dimana mereka dibunuh
oleh Nazi. Samuel baru berumur 4 tahun.
"Paman saya, yang baru-baru ini telah meninggal
dunia, sungguh tidak dapat mengerti mengapa saya tetap menjadi seorang
imam Katolik," Weksler-Waszkinel berkata. "Hal ini sungguh membuatnya
sangat marah. Dia mengatakan bahwa saya telah menjadikan diri saya wakil
dari 2000 tahun kebencian terhadap Yahudi."
Sang imam berhenti sejenak, lantas menambahkan, "Tetapi
saya tahu bahwa meskipun ada sementara orang-orang yang menyebut dirinya
Kristen tetapi tega menjebloskan seorang ibu beserta puteranya ke dalam
kamar gas, ada juga seorang wanita Katolik Polandia, yang membahayakan
jiwanya sendiri demi menyelamatkan diri saya."