Kami sedang dalam perjalanan mengunjungi sebuah panti rehabilitasi dalam tahun 1954 dengan ketiga putriku: Mary. dua belas tahun, Joan, sembilan tahun, dan Ruth, delapan belas bulan. Karena si kecil Ruth, cacat ketika lahir, maka kami melakukan perjalanan menyedihkan dan hening ini. Kami telah dinasihati untuk membawanya ke sebuah panti khusus. "Itu akan mengurangi penderitaannya," "Ruth akan merasa lebih baik bila berada bersama anak-anak seperti dia," "Anak-anak Anda yang lain akan menjadi bebas dari kewajiban mengurus anak cacat."
Untuk memecahkan keheningan, aku menyalakan radio mobil dan tanpa disengaja mendengar suara seorang mantan teman sekelasku. Aku ingat ia sebagai seorang anak yang tidak mempunyai kaki. Ia sekarang ketua sebuah organisasi yang mempekerjakan kaum cacat. Ia bercerita tentang masa kanak-kanaknya dan sebuah percakapan dengan ibunya. "Ketika tiba waktunya bagi seorang anak cacat lain untuk dilahirkan," kata sang ibu, "Tuhan dan para penasihatNya mengadakan sebuah sidang khusus untuk memutuskan ke mana ia akan dikirim... kepada keluarga yang akan menyayanginya. Nah, keluarga kita menjadi salah satu pilihanNya." Mendengar ini, istriku Edna mengulurkan tangannya, mematikan radio itu, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Kita pulang saja," ujarnya.
Aku membelai wajah mungil Ruth. Ia tampak seperti sebuah simbol ketakbersalahan yang indah. Aku tahu bahwa saat itu Ruth diberikan kepada kami dengan tujuan khusus. Sungguh suatu mujizat bahwa suara seorang teman, yang tidak kudengar bicara kepadaku. Suatu kebetulan? Atau apakah tangan Tuhan yang tidak kelihatan membantu kami menangani seorang gadis mungil yang akan memperkaya hidup kami secara tak ternilai dalam tahun-tahun mendatang?
Malam itu, Edna terbangun pada pukul tiga dini hari karena merasa ada sesuatu yang harus ditulisnya. Sebuah buku catatan selalu siap di atas meja samping tempat tidur, dan pada pagi harinya kami menyusun coretan-coretan itu menjadi sebuah puisi, "Anak yang Sangat Istimewa dari Surga":
Sebuah sidang tengah berlangsung nun jauh di atas Bumi; "Sudah waktunya untuk sebuah kelahiran lagi." Lapor para malaikat kepada Tuhan di singgasana. "Kali ini seorang anak istimewa yang akan memerlukan banyak kasih.
Kemajuannya mungkin sangat lambat. Keberhasilannya mungkin tidak tampak, Dan ia akan memerlukan perawatan ekstra Dari orang-orang yang ditemuinya di bawah sana. Ia mungkin tidak berlari atau tertawa atau bermain, Pikirannya mungkin sanag-sangat jauh. Dalam banyak hal ia tidak mampu menyesuaikan diri, Dan ia akan disebut anak cacat.
Maka kita perlu hati-hati tentang ke mana ia akan kita kirim, Kita ingin hidupnya berkecukupan. Kami mohon, Tuhan, carikan orangtua yang Bersedia melaksanakan tugas khusus-Mu. Mereka mungkin tidak langsung sadar Tentang peran yang dipercayakan kepada mereka, Tapi dengan dianugerahi anak ini dari atas Makin kuat iman mereka dan makin kaya kasih mereka. Dan segera mereka akan tahu hak istimewa yang mereka terima Dalam merawat anugerah dari surga ini. Anak yang begitu lemah dan lembut, Sesungguhnya anak yang sangat istimewa dari surga."