Gudang Lagu

Tiba-tiba dunia digemparkan. Harian New York Times edisi 24 April 2001 memuat iklan tentang 7 tokoh dunia yang masing-masing mewakili benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia sebagai penerima hadiah Goldman Environmental Prize 2001. Seperti enam Goliath, mengelilingi satu Daud, ada kelihatan satu Mama Kariting dan Hitam di antara mereka. Dia berbadan pendek, tapi paling menyolok. Dia menjadi salah satu sumbangan terbaik dari Papua untuk dunia.

Figur itu muncul dari kesederhanaannya dan membawa keteladanan yang  meruntuhkan keangkuhan. Dialah Mama Yosepha Alomang, perempuan Papua dari suku Amungme.  Dia muncul dari lautan tangis anak Papua akibat kehadiran PT Freeport di Timika sejak tahun 1967.

Kepada sesama Papua dari kampung-kampung di Biak, pada tanggal 9 Mei 2001 Mama Yosepha bercerita. “Dahulu kala, alam di kampung kami bersih. Gunung bersih, air bersih, hutan bersih. Mama-Mama bikin kebun dan menyanyi, selalu lihat gunung hijau. Kali jernih sampai bisa lihat ikan dan karaka main bebas di dalam air. Lalu Freeport datang, ada 25 negara makan di dalam Freeport. Mereka bikin rusak air, bikin rusak hutan, bikin rusak gunung, bikin rusak sagu, bikin rusak ikan dan karaka. Freport juga bikin rusak manusia. Semua dimasukkan ke dalam pipa kemudian dialirkan ke Amerika.? Saya menangis, orang kampung saya menangis. Tangisan saya menjadi tangisan seluruh Papua. Kesakitan saya menjadi kesakitan seluruh Papua. Tahun 1974, saya mulai berjuang. Saya lawan Freeport sebab mereka bikin rusak. Saya tanya : “kenapa kamu bikin rusak?? Freeport bilang, “tanah ini milik negara. Kami sudah beli dari negara? Saya tanya: “sejak kapan negara bikin tanah, air, ikan dan karaka lalu kasih saya sehingga dia boleh ambil seenaknya??Ini Tuhan yang bikin dan kasih saya. Saya seorang perempuan, orang Freeport lahir dari perempuan, tentara lahir dari perempuan, negara juga lahir dari perempuan. Dan saya tidak takut kepada Freeport, saya tidak takut kepada tentara atau negara, mereka juga lahir dari perempuan saja mo! Saya hanya takut kepada TUHAN!?Lalu saya angkat panah perjuangan melawan Freeport.

Bagi Mama Yosepha, kalau laki-laki sudah tinggalkan anak panahnya maka terpaksa perempuan harus jadi laki-laki dan angkat anak panah perjuangan. Dan itulah yang dia alami. Dahulu, Amungme punya dua pemimpin. Satu adalah laki-laki bernama Thom Beanal, satu lagi adalah perempuan itulah Mama Yosepha. Tapi Freeport sudah ambil Thom Beanal dan memasukkan Bapa Thom dalam pipa sama-sama dengan hasil kekayaan alam dari Timika untuk dikirim ke Amerika.

Sekarang Mama Yosepha angkat Thom punya anak panah lalu memanah Freeport. Mama Yosepha berjuang tanpa mengenal menyerah, lima kali masuk penjara. Satu kali disiksa dalam kontainer. Apakah Mama berhenti? Tidak.

“Perjuangan saya pertama-tama adalah karena kebenaran. Kedua adalah karena keberanian. Saya tidak pernah bisa dibeli dengan uang. Waktu mau terima penghargaan Goldman Environmental Prize 2001, Freeport bilang sudah beli saya dengan US $ 248.000. Tapi saya tanya: uang itu ada di mana? Siapa makan itu uang? Perjuangan Mama Yosepha tidak bisa dibeli dengan uang. Karena Mama Yosepha berjuang bukan untuk uang, bukan untuk pangkat tapi untuk kebenaran dan untuk angkat harga diri manusia.? Bagi Mama Yosepha, perjuangannya melawan Freeport adalah salah satu bagian dari perjuangan seluruh Papua melawan ketidak-adilan. Hak-hak orang Papua sudah dijual. Banyak orang Papua sudah dijual dan mati. Dan sekarang orang Papua mau berjuang untuk dapat kembali haknya. Karena itu, Mama Yosepha menyerukan agar perjuangan menegakkan kebenaran ini dijauhkan dari sifat kejar uang dan pangkat.

“Kalau perjuangan orang Papua, dan bahkan manusia di seluruh dunia untuk mengakat kebenaran didasari dengan kepentingan mencari uang dan pangkat, maka perjuangan akan sia-sia. Kita bukan berjuang tapi baku jual!? Mama Yosepha mengakhiri pidatonya dengan bahasa filosofis khas orang gunung. “Perjuangan saya mengalir seperti air dari gunung, tidak berhenti. Kau tidak bisa stop saya dengan uang atau pangkat, sebab saya berjuang untuk kebenaran. Harkat dan martabat orang Papua itu yang Mama Yosepha perjuangkan. Dan saya tidak takut dengan Freeport, tentara atau negara. Saya hanya takut TUHAN, sebab saya berdiri di atas gereja. Gereja adalah saya dan saya adalah gereja!? Itulah pengakuan Mama Yosepha Alomang.

Salut kepada Mama Yosepha. Selayaknya pejuang intelektual (Papua) menurunkan keangkuhan hatinya lalu belajar berjuang dari keteladanan perjuangan Mama Yosepha. Yosepha adalah teladan yang hidup.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com


Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Kristen
TitleAuthorViews
Resiko Film Porno Bagi Remaja Eddy 9,582
Kesepuluh Suku Israel yang Terhilang ada di Indonesia? Bahana 9,529
Gereja Setan Benar Ada: Sasaran Mereka Orang Yang Di Gereja Silvy Rumayar 5,293
Semua Hanya Karena Cinta Jawaban 5,167
Kiamat Versi Islam Yohanes 4,790
Kiamat Versi Kristen Yohanes 4,712
Pertobatan Kota Pusat Gereja Setan Silvy Rumayar 4,545
Kepuasan Hanya Ada Di Rasa Syukur Daniel 3,729
Menelanjangi Santet Budiyanto 3,304
Kisah Marie Louise Devina Jap 3,227
Belajar Dari Tukang Kayu Galilea TeDu 2,697
Konggres Setan TeDu 2,653
Bagaimana Melatih Roh Manusia Kenneth E. Hagin 2,649
Yang Terbaik Akan Datang Bo Sanchez 2,597
Menang Atas Santet Budiyanto 2,476

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker