Menurut pandangan Agama Suku Murba, orang yang telah mati, jiwanya berada di dalam "surga-antara", sebagai tempat kediaman sementara. Pada perayaan penyempurnaan jiwa-jiwa para jiwa tadi dibimbing masuk ke dalam dunia nenek moyang dengan suatu upacara tertentu. Setelah jiwa itu dimandikan di dalam kolam air hidup dan mendapat hidup yang baru, jiwa itu diperkenankan hidup di dalam dunia nenek moyang. Agama Hindu mengajarkan, bahwa jiwa yang mendapat kelepasan kembali kepada asalnya, yaitu Brahman. Di situ jiwa dilarutkan ke dalam Brahman.
Pandangan yang demikian juga terdapat di dalam aliran-aliran kebatinan.Semua aliran kebatinan mengajarkan, bahwa kelepasan manusia terdiri dari persekutuan antara jiwa dan Tuhan. Persekutuan ini sedemikian rupa, sehingga menurut Sumarah, tiada lagi kesadaran akan danya persekutuan itu, tiada lagi kesadaran akan adanya perbedaan antara yang bersujud dengan yang disujudi. Pangestu berpendapat, bahwa tiada lagi perbedaan antara siswa dengan Guru, artinya antara manusia dengan Sukma Sejati. Pada hakekatnya persekutuan ini adalah suatu kesatuan zat.
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia setelah mati masuk ke dalam alam barzakh, yaitu alam yang berada di antara alam dunia dan alam akhirat. Di sini para jiwa manusia belum menerima balasan amalnya. Mereka baru merasakan tanda-tanda dan gejala-gejala penagihan atau pemberian jasa dari apa yang dilakukan ketika hidupnya. Surga dan neraka baru ditentukan kelak pada akhir zaman.
Bagaimana ajaran Alkitab?
Berdasarkan ada yang telah diuraikan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam hidup sekarang ini mata harapan orang beriman harus diarahkan kepada puncak harapannya, yaitu kepada apa yang akan terjadi kelak pada akhir zaman, jikalau Tuhan Yesus telah datang kembali.
Akan tetapi tidak dapat disangkal, bahwa orang beriman satu persatu, secara perorangan, dihadapkan dengan akhir hidupnya yang lebih dekat, yang kadang-kadang dapat menutupi keluasan pandangan imannya, yaitu "mati".
* Roma 8:38-39, "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."
Textus Receptus, "pepeismai {aku yakin} gar {karena} hoti {bahwa} oute {tidak} thanatos {maut} oute {tidak} zôê {hidup} oute {tidak} aggeloi {malaikat} oute {tidak} arkhai {pemerintah} oute {tidak} dunameis {kuasa} oute {tidak} enestôta {hal-hal yang ada sekarang} oute {tidak} mellonta {hal-hal yang akan datang} oute {tidak} hupsôma {tinggi} oute {tidak} bathos {dalam} oute {tidak} tis {setiap} ktisis {ciptaan} hetera {yang lain} dunêsetai {dapat} hêmas {kita} khôrisai {memisahkan} apo {dari} tês agapês {kasih} tou theou {Allah} tês {yang} en {di dalam} khristô {Kristus} iêsou {Yesus} tô kuriô {Tuhan} hêmôn {kita}.
The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "For I am convinced that neither Mavet nor Chayyim nor malachim nor rulers, neither things present nor things to come nor kochot, neither height nor depth, nor any other creature will be able to separate us from the ahavas Hashem which is in Yehoshua Moshiach Adoneinu." Di kayu salib Tuhan Yesus berjanji kepada penjahat yang percaya kepada-Nya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Kata-kata ini dengan jelas menunjukkan, bahwa setelah mati, bagi orang yang beriman ada perhentian, ada kegirangan, dan ketenteraman. Dalam ayat di atas, Rasul Paulus memastikan, bahwa maut tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Kata-kata ini juga jelas menunjukkan, bahwa setelah mati orang beriman masih tetap bersatu dengan Tuhan Allah.
Sekalipun demikian Alkitab senantiasa menekankan, bahwa kesempurnaan ketenteraman, keselamatan, kegirangan serta perhentian, baru akan dikaruniakan kelak pada akhir zaman, jikalau Tuhan Yesus Kristus telah datang kembali. Jadi jikalau demikian, dapat dikatakan, bahwa perhentian, kegirangan serta ketenteraman atau kesejahteraan yang dikaruniakan kepada orang beriman setelah ia mati baru "bersifat sementara". Oleh karena itu sekalipun setelah mati ada keselamatan, namun harapan orang Kristen tidak boleh berhenti di situ. Sayangnya, bahwa banyak sekali orang Kristen tidak boleh berhenti di situ. Sayangnya, bahwa banyak sekali orang Kristen (bahkan mungkin sebagian besar orang Kristen) yang harapannya di dalam hidup hanya berhenti pada harapan setelah mati itu. Perhatiannya hanya diarahkan kepada tingkatan keselamatan yang lebih dekat dan lebih rendah. Harapan imannya terputus, dipisahkan dari harapan yang lebih jauh dan yang lebih tinggi serta mulia, yaitu kesempurnaan keselamatan pada akhir zaman. Mereka hanya menanti-nantikan keselamatan setelah mati saja. Harapan mereka kepada zaman yang mulia, zaman diumumkannya atau diproklamirkannya kedudukan mereka sebagai anak-anak Allah di dunia yang baru dan langit yang baru kelak, dibuat kabur. Padahal tidaklah demikian ajaran Alkitab.
* 2 Petrus 1:14, "Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." - Textus Receptus, "eidôs {mengetahui} hoti {bahwa} takhinê {segera} estin {adalah} hê apothesis {menanggalkan} tou skênômatos {kemah} mou {-ku} kathôs {seperti} kai {dan} ho kurios {Tuhan} hêmôn {kita} iêsous {Yesus} khristos {Kristus} edêlôsen {telah memperlihatkan} moi {kepadaku}" - The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "als I know that the putting off of my mishkan is imminent, as indeed Adoneynu Moshiach Yehoshua made clear to me."
Dalam ayat ini Rasul Petrus berkata, bahwa ia tahu akan segera meninggalkan kemah tubuhnya (artinya: ia akan segera mati), akan tetapi di beberapa ayat berikutnya, yaitu dalam 2 Petrus 3:13 ia berkata, bahwa ia menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Demikian juga halnya dengan Rasul Paulus. Sekalipun ia ingin sekali pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus (artinya: mati) namun ia tidak melupakan hari kedatangan Kristus yang kedua kali.
* 2 Petrus 3:13, "Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran." - "kainous {yang baru} de {tetapi} ouranous {langit} kai {dan} gên {bumi} kainên {yang baru} kata {menurut} to epaggelma {janji} autou {-Nya} prosdokômen {kita menantikan} en {di mana} hois dikaiosunê {kebenaran} katoikei {berdiam}" - The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "But SHOMAYIM CHADASHIM VA'ARETZ CHADASHA according to the havtachah of Hashem we await, in which Tzidkanut dwells."
Di dalam Perjanjian Baru tiada harapan kepada keselamatan setelah mati yang dilepaskan atau dipisahkan dari harapan kepada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Lalu bagaimana keadaan orang beriman setelah mati hingga kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali?