Sikap mendua antara kata dan hati sangatlah tidak terpuji. Dan itu disebabkan karena seringnya kita meremehkan hati nurani kita. Hati ingin kita menolong, tetapi pikiran kita mengatakan mengapa harus menolong. Hati ingin kita bicara, tetapi mulut kita mengatup erat karena takut. Hati ingin kita mengakui suatu kebenaran, tetapi diri kita gengsi untuk melakukannya.
Di dalam bacaan di atas kita temukan 2 orang yang berkata lain dengan hatinya. Yang satu mengatakan 'ya', tetapi sebenarnya hatinya mengatakan 'tidak'. Sehingga tidak dilakukan apa yang di-iya-kan. Yang satu lagi mengatakan 'tidak', tetapi hatinya mengatakan 'ya' sehingga dia merasa tidak enak dan pada akhirnya dia memang melakukan apa yang diinginkan hatinya.
Keselarasan antara hati dengan perkataan dan perbuatan itulah yang paling sempurna dan menghasilkan upah yang setimpal. Sebab jika dilakukan tanpa keselarasan, maka itu bukanlah perkataan atau perbuatan yang murni, melainkan hanyalah kemunafikan, atau kepura-puraan semata.