Pada suatu hari yang amat sibuk ketika suamiku dan aku sedang super sibuk, putra kami yang berusia 4,5 tahun: Justin Carl harus ditegur karena kenakalannya. Setelah beberapa kali mencoba, suamiku George akhirnya memerintahkan dia untuk berdiri di sudut, sebagai hukuman. Dia diam saja tetapi tampak amat tidak senang karenanya. Akhirnya setelah beberapa saat dia mengatakan, "Saya ingin kabur dari rumah." Reaksi pertamaku adalah kaget, dan kata-katanya membuatku marah. "Kamu...?" sergahku. Tetapi ketika aku menatapnya, ia tampak bagaikan seorang malaikat, begitu kecil, begitu murni dengan wajahnya yang memelas.
barang-barang itu ke dalam satu tas dan menempatkannya di pintu depan. "Baiklah, Jussie, kamu yakin kamu mau kabur dari rumah?"
"Yeah, tetapi ke mana Mama mau pergi?"
"Yah, kalau kamu kabur dari rumah, Mama juga akan pergi bersamamu, karena Mama tak ingin sendirian. Mama sangat menyayangimu, Justin Carl."
Kami saling merangkul ketika kami bicara. "Mengapa Mama mau pergi dengan saya?"
Aku memandangi matanya. "Karena Mama sayang kamu, Justin. Hidup Mama tak akan terasa sama bila kamu pergi. Maka Mama ingin memastikan bahwa kamu aman. Kalau kamu pergi, Mama akan pergi bersamamu."
"Apakah Papa bisa ikut?"
"Tidak, Papa akan tinggal bersama saudara-saudaramu, Erickson dan Trevor, dan Papa harus bekerja dan merawat rumah selama kita pergi."
"Bisakah Freddi (tikus hamster) ikut?"
"Tidak, Freddi harus tinggal di sini juga."
Ia berpikir sejenak dan berkata, "Mama, bisakah kita tinggal saja di rumah?"
"Ya, Justin, kita bisa tinggal di rumah."
"Mama."
"Ya, Justin?"
"Saya sayang Mama."
"Mama juga sayang kamu, manis. Bagaimana kalau kamu bantu Mama bikin popcorn?"
"Ayo."
Saat itu aku sadar akan anugerah menakjubkan yang kuperoleh sebagai seorang ibu, serta tanggung jawab suci untuk mengembangkan perasaan aman dan kepercayaan diri seorang anak yang tak bisa dianggap enteng. Aku sadar bahwa dalam tanganku, aku menggenggam hadiah berharga hidup seorang kanak-kanak; sesuatu bak tanah liat yang ingin dan minta dibelai dan dengan indahnya dibentuk menjadi adikary manusia dewasa yang percaya diri. Aku belajar sebagai seorang ibu aku tak boleh "kabur" dari kesempatan untuk memperlihatkan kepada anak-anakku bahwa mereka dibutuhkan, penting, dicintai, dan bahwa mereka adalah hadiah paling indah dari Tuhan.