Ada orang, agaknya dengan sedikit bangga, berkata bahwa "Memang aku mudah marah, tapi aku segera melupakannya." Mereka dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan sendiri luka hatinya. Tak heran, meski amarahnya meledak-ledak tak terkendali, hanya dalam hitungan detik mereka sudah berbaikan lagi; bersendau gurau seolah tak terjadi sesuatu apa. Betapa, sebuah anugerah yang tak ternilai.
Seorang bijak pernah berujar, "Bukankah demikian pula ketika bom atom dijatuhkan? Diperlukan beberapa menit saja untuk lari dari area peledakan. Namun, lihatlah kerusakan yang terjadi. Rasanya seabad tak cukup untuk menyembuhkan kerusakan yang terjadi." Amarah menimbulkan dua luka; di hati si empunya dan lebih dalam lagi di hati si korban. Mungkin mudah mengobati luka hati sendiri. Tetapi, apakah anda menjamin kesembuhan luka orang lain? Anugerah yang lebih bercahaya adalah bila anda mampu membantu menyembuhkan luka hati orang lain.
Efesus 4:26;31,32 menegaskan," Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu…Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan….Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.