Gudang Lagu
(by: Yohanes)

Sekalipun segala agama mengajarkan tentang dunia akhirat dan hidup akhirat, namun ajaran-ajaran itu tidak sama. Agama Suku Murba yang terdapat di Indonesia mengajarkan bahwa di luar dunia manusia ini ada dunia orang mati, yaitu tempat para orang yang telah mati. Tempat ini ada yang digambarkannya sebagai tempat nenek moyangnya, ada yang digambarkannya sebagai tempat para dewa, yaitu  surga. Orang yang mati kembali kepada asalnya, di tempat nenek moyang itu atau di surga. Jikalau digambarkan, mungkin dunia manusia dapat digambarkan sebagai suatu lingkaran, sedang dunia nenek moyang maupun surga sebagai lingkaran yang lain, yang berada di luar lingkaran yang pertama.  Kematian berarti perpindahan dari dunia yang satu masuk ke dunia yang lain.

Di dalam Agama Hindu dan Buddha terdapat gambaran yang sama juga. Agama Hindu mengajarkan, bahwa orang yang mendapat kelepasan kembali kepada Brahman (baik Brahman ini dipandang sebagai menjelma dalam Syiwa maupun dalam Wisnu), sedang agama Buddha mengajarkan tentang Nirwana.  Perbedaan dengan ajaran suku murba ialah ajaran tentang nasib dunia manusia ini. Baik agama Hindu maupun agama Buddha Mahayana mengajarkan adanya dunia manusia yang bermacam-macam dalam perjalanannya, yang saling ganti-mengganti. Agama Hindu mengajarkan adanya dunia yang dibagi  menjadi banyak zaman atau 'yuga' dan 'mahayuga'. Tiap 'mahayuga' dibagi menjadi  4 'yuga', yaitu 'krtayuga', zaman yang dimulai dengan 100% baik dan berakhir dengan 75% baik dan 25% jahat. 'Thretayuga', zaman yang dimulai dengan 75% baik dan 25% jahat, tetapi yang diakhiri dengan 50% baik dan 50% jahat. 'Dwaparayuga', zaman yang dimulai dengan 50% baik dan 50% jahat, tetapi yang diakhiri dengan 25% baik dan 75% jahat. Akhirnya  zaman 'kaliyuga', yang dimulai dengan 25% baik dan 75% jahat, tetapi yang diakhiri dengan 100% jahat. Pada akhir 'kaliyuga' akan datang 'kalki', yaitu penitisan Wisnu, yang akan membaharui dunia lagi.

Di dalam agama Buddha, baik Hinayana maupun Mahayana juga diajarkan adanya dunia yang bermacam-macam dengan Buddhanya sendiri-sendiri. Sebelum zaman Buddha Gautama telah ada zaman yang banyak yang  menurunkan Buddhanya sendiri-sendiri. Menurut agama Buddha Mahayana, dunia yang sekarang ini adalah dunia yang keempat, dan dikuasai oleh 'Awolokitesywara', yang surganya ada di sebelah barat. Dunia ini nanti akan diganti dengan dunia yang terakhir, yang dikuasai oleh 'Maitreya', yang surganya ada di sebelah utara.

Agama Islam mengajarkan tentang surga, yang akan mengakhiri perjalanan dunia ini. Orang-orang mati sekarang ini masih berada di dalam 'alam barzakh' sampai pada akhir zaman. Sesudah diadakan penghakiman pada  akhir zaman, para manusia dengan melalui 'syiratal mustaqim' menuju ke surga. Hanya orang yang berimanlah yang akan dapat berhasil melalui 'syirat' atau jembatan itu, sedang lainnya akan terjatuh ke dalam jurang neraka yang ada di bawah 'syirat' itu. Dunia yang kita diami sekarang ini akan berakhir, para orang beriman dipindahkan ke surga. Juga gambaran ini dapat dilukiskan sebagai dua lingkaran yang dihubungkan dengan sebuah jembatan.

Bagaimana ajaran Alkitab?
* Lukas 1:54-55, "Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita,  kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

Textus Receptus, "antelabeto {Dia telah menolong} israêl {Israel}  paidos {hamba} autou {-Nya} mnêsthênai {Ia mengingat} eleous {kemurahan}  kathôs {seperti} elalêsen {Dia katakan} pros {kepada} tous pateras {bapa leluhur} hêmôn {kita} tô abraam {Abraham} kai {dan} tô spermati {keturunan} autou {-nya} eis {hingga} ton aiôna {selama-lamanya}"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "Hashem helped his servant Yisroel, in zikaron of his rachamim, just as Hashem spoke to Avoteinu, to Avraham Avinu and his Zera ad Olam."

Dalam ayat di atas, Maria mengucapkan keyakinannya, bahwa dengan akan dilahirkannya Kristus itu Tuhan Allah berkenan menolong Israel dengan mengingat rahmat-Nya seperti yang telah dijanjikan kepada nenek moyang Israel. Kata-kata ini menunjukkan, bahwa kedatangan Kristus adalah pemenuhan janji Allah yang telah dijanjikan kepada Abraham dan kepada keturunannya. Apa yang pada zaman-zaman dahulu menjadi rahasia,  sekarang dengan kedatangan Kristus telah diberitahukan kepada umum. Apa yang dahulu masih gelap, sekarang dengan kedatangan Kristus telah menjadi terang. Oleh karena itu zaman-zaman yang dahulu itu berbeda sekali  sifat dan keadaannya jikalau dibandingkan dengan zaman setelah Kristus dilahirkan. Zaman sejak Kristus dilahirkan, zaman Kristus atau zaman Mesias ini, adalah zaman keselamatan, zaman yang di dalam urut-urutan segala zaman atau di dalam urut-urutan sejarah manusia mewujudkan zaman yang berbeda sendiri, yang memiliki ciri tersendiri, yang menentukan zaman-zaman yang mendahuluinya. Zaman Taurat atau zaman para nabi diakhiri hingga zaman Yohanes Pembaptis. Sesudah itu dimulailah zaman baru.

Zaman yang baru ini berbeda sekali keadaanya jikalau dibandingkan dengan zaman-zaman yang mendahuluinya. Perbedaan itu di dalam Alkitab diungkapkan dengan bermacam-macam ungkapan (Sayang bahwa di dalam  bahasa Indonesia sukar untuk membeda-bedakannya, sehingga hampir semua  ungkapan 'telê tôn aiônôn' , 'sunteleia tôn aiônôn', 'eskhatôn tôn hêmerôn', 'kairô eskhatô', dan lain-lain diterjemahkan dengan "zaman akhir").

Zaman Mesias ini disebut penyelesaian zaman ('sunteleia tôn aiônôn'), akhir masa ('eskhatôn tôn khronôn'), saat terakhir ('eskhatê hôra'), akhir zaman ('telê tôn aiônôn;). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan,  bahwa zaman yang dimulai dengan kelahiran Tuhan Yesus Kristus hingga sekarang dan seterusnya, adalah tujuan yang dituju oleh jalan-jalan yang  diadakan oleh Tuhan Allah di dalam dunia ini. Yang dituju oleh sejarah umat manusia pada zaman-zaman sebelum kedatangan Kristus adalah zaman yang dimulai dengan kelahiran Kristus itu.

Bagaimana keadaan serta sifat keselamatan yang datangnya bersamaan  dengan kedatangan Kristus pada zaman akhir ini? Menurut Alkitab, keselamatan pada zaman akhir ini memiliki dua segi, yaitu bahwa pada zaman akhir  ini "telah ada" keselamatan, akan tetapi di lain pihak dikatakan juga bahwa keselamatan "masih di depan kita" atau "belum ada". Artinya:  keselamatan dengan segala hubungannya, yang hingga sekarang telah diberikan oleh Tuhan Allah kepada orang beriman, baru "untuk sementara waktu", belum sempurna. Apa yang "telah ada" sekarang ini "belum sempurna". Akan  tetapi apa yang "telah ada" itu merupakan jaminan atau garansi, bahwa yang sempurna akan dianugerahkan juga. Oleh karena itu zaman sekarang ini, atau zaman akhir ini, disebut zaman di mana "kita hidup karena  percaya". Orang beriman masih hidup dalam pengharapan akan menerima kesempurnaan keselamatannya.

Hidup orang beriman bukan diarahkan kepada hidup yang di dunia ini, melainkan kepada apa yang akan datang, apa yang ada di masa depan. Harapan kepada kedatangan Kristus pada akhir zaman, yang akan  membeberkan kesempurnaan keselamatan orang beriman, menjadi pusat dan pendorong  yang kuat bagi pemasyhuran firman Allah. Kenyataan yang akan dinyatakan pada akhir zaman bersamaan dengan kedatangan Kristus yang kedua kali, digambarkan sebagai puncak segala sesuatu, sebagai tindakan Tuhan Allah yang baru, yang dilaksanakan dengan kuat kuasa-Nya. Jadi akhir zaman  bagi Alkitab bukan hal yang tidak penting, yang hanya berfungsi sebagai penutupan segala kejadian yang biasa saja, bukan. Akhir zaman adalah musim penuaian untuk memisahkan yang baik dan yang jahat, atau  kegenapan waktu untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai  Kepala, baik yang di surga maupun yang di bumi.

* Roma 8:19-22, "Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah  ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh  kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena  makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin."

Textus Receptus, "hê gar {karena} apokaradokia {pengharapan yang  sangat} tês ktiseôs {ciptaan} tên apokalupsin {penyataan} tôn huiôn {anak-anak} tou theou {Allah} apekdekhetai {menunggu} tê gar {karena} mataiotêti {kesia-siaan} hê ktisis {ciptaan} hupetagê {tunduk} oukh {tidak} ekousa {bersedia} alla {melainkan} dia {oleh} ton hupotaxanta {penaklukan} ep {pada} elpidi {pengharapan} hoti {bahwa} kai {dan} autê {sendiri} hê ktisis {ciptaan} eleutherôthêsetai {akan dibebaskan} apo {dari} tês douleias {perhambaan} tês phthoras {kebinasaan} eis {ke dalam} tên eleutherian {kemerdekaan} tês doxês {kemuliaan} tôn teknôn {anak-anak} tou theou {Allah} oidamen {mengetahui} gar {karena} hoti {bahwa} pasa {semua} hê ktisis {ciptaan} sustenazei {merintih} kai {dan} sunôdinei {merasa sakit} akhri {hingga} tou nun {sekarang}"

The Jewish Brit Chadasha, "For the eager expectation of HaBri'ah  eagerly awaits the heavenly unveiling, the Apocalypse, of the bnei HaElohim.  For HaBri'ah was subjected to hevel, not willingly, but on account of Him  who subjected it, in tikvah, because HaBri'ah also itself will be set free from the avdut of corruption/destruction into the deror of the kavod of the bnei HaElohim. For we know that the whole Bri'ah groans and suffers the chevlei together up until now."

Oleh karena itu maka segala mata dan harapan diarahkan ke pada akhir zaman ini. Dalam Roma 8:19-22 disebutkan, bahwa dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan, karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan. Dan dalam Roma 8:23-24 disebutkan, bahwa kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan  sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

* Roma 8:23-24, "Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.  Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa  yang dilihatnya?"

Textus Receptus, "ou {tidak} monon {hanya} de {dan} alla {melainkan} kai {dan} autoi {kita sendiri} tên aparkhên {buah sulung} tou pneumatos {Roh} ekhontes {memiliki} kai {dan} hêmeis {kita} autoi {sendiri} en {dalam} heautois {diri kita sendiri} stenazomen {merintih} huiothesian {pengangkatan anak} apekdekhomenoi {menantikan} tên apolutrôsin {penebusan} tou sômatos {tubuh} hêmôn {kita} tê gar {karena} elpidi {mengharapkan} esôthêmen {adalah} elpis {pengharapan} de {dan} blepomenê {dilihat} ouk {tidak} estin {adalah} elpis {pengharapan} ho gar {karena} blepei {melihat} tis {mengapa} ti {yang} kai {dan} elpizei {mengharapkan}"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "And not only so, but also we ourselves who have the bikkurim of the Ruach Hakodesh also groan within ourselves, eagerly awaiting the Mispat HaBanim, that is, the pedut of  our body. For it is in terms of tikvah that we were delivered in eschatological salvation. But tikvah which is seen is not tikvah, for  who hopes for what he sees?"

Hidup di dalam zaman akhir memang dihubungkan dengan akhir zaman. Waktu kita hidup pada zaman akhir ini diberi ciri dari keselamatan yang "telah dikaruniakan" kepada kita, tetapi yang "belum secara sempurna" menjadi milik kita. Oleh karena itu, sekalipun "telah diselamatkan", namun kita masih harus berusaha memegangnya, berusaha dengan bersungguh-sungguh di dalam peperangan iman untuk mencapai hidup kekal, yang menjadi tujuan panggilan kita. Roh yang telah dikaruniakan baru berwujud "karunia  sulung Roh", yang dikaruniakan sebagai jaminan. Sekalipun telah menjadi anak  dan ahli waris, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak. Demikian seterusnya.

Oleh karena itu maka dalam 1 dan 2 Tesalonika dan dalam 1 Korintus 15 mata harapan orang beriman harus diarahkan kepada akhir zaman. Di  situlah kemah tempat kediaman kita di bumi akan dibongkar dan diganti dengan tempat kediaman di surga, suatu tempat kediaman yang kekal, atau di situlah tubuh alamiah kita akan dibangkitkan menjadi tubuh rohaniah,  atau di situlah tubuh kita yang hina akan diubah hingga serupa dengan tubuh Kristus yang mulia, dan lain sebagainya.

Suatu perbedaan yang membedakan antara harapan Kristen dan harapan  Islam, dan dengan demikian juga membedakan harapan Kristen dengan segala  harapan agama-agama yang lain ialah, bahwa jikalau menurut agama Islam setelah akhir dunia ini akan menyusul suatu "kehidupan di surga", harapan Kristen, menurut Alkitab, menanti-nantikan "dunia yang baru", di mana terdapat kebenaran.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com


Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Kristen
TitleAuthorViews
Resiko Film Porno Bagi Remaja Eddy 9,581
Kesepuluh Suku Israel yang Terhilang ada di Indonesia? Bahana 9,527
Gereja Setan Benar Ada: Sasaran Mereka Orang Yang Di Gereja Silvy Rumayar 5,292
Semua Hanya Karena Cinta Jawaban 5,165
Kiamat Versi Islam Yohanes 4,790
Kiamat Versi Kristen Yohanes 4,712
Pertobatan Kota Pusat Gereja Setan Silvy Rumayar 4,543
Kepuasan Hanya Ada Di Rasa Syukur Daniel 3,728
Menelanjangi Santet Budiyanto 3,303
Kisah Marie Louise Devina Jap 3,227
Belajar Dari Tukang Kayu Galilea TeDu 2,696
Konggres Setan TeDu 2,652
Bagaimana Melatih Roh Manusia Kenneth E. Hagin 2,649
Yang Terbaik Akan Datang Bo Sanchez 2,596
Menang Atas Santet Budiyanto 2,476

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker