Gudang Lagu
Sumber Lainnya

Kota kecil di daerah California ini dikenal dengan sebutan kuburan pendeta. Pasalnya, banyak pendeta-pendeta yang "mati". Bukan berarti mati secara fisik tetapi secara rohani. Banyak pelayanan pendeta di kota ini mati, tidak bertumbuh. Tidak sedikit pula pendeta yang semula berapi-api setelah menginjakkan kaki di Hemet, semangat mereka menjadi lemah. Mengapa bisa begitu? Tidak lain karena Hemet adalah kota pusat gereja setan. Dari bangunannya tampak seperti gereja biasa. Namun, di situlah pusat ritual gereja setan dilakukan. Ironisnya, kegiatan di gereja setan sangat bergairah. Sangat berbeda dengan kegiatan gereja yang suam-suam bahkan dingin. Banyak pendeta dan umat Hemet merasa ada sesuatu yang tidak beres di kota mereka. Hati mereka mulai gelisah dan prihatin. Mereka merindukan kehidupan pelayanan dan gereja yang berapi-api.

Kebangkitan dan pemulihan Hemet mulai dari hal yang sangat sederhana. Pdt. Bob Beckett dan Pdt. Gordon Houston beserta sekitar 20 orang (pendeta/umat) berkumpul untuk berdoa. Mereka berkomitmen untuk berdoa sepanjang malam di sebuah pondok peristirahatan. Kesehatian mereka dalam doa dampaknya sama sekali tidak terduga. Secara tiba-tiba, dalam waktu yang tidak terlalu lama, gereja setan terbakar tanpa alasan yang jelas. Gedung gereja ini habis dilalap api. Pusat ritual setan hancur. Salah satu tembok penghambat telah runtuh. Melihat mukjizat ini, mereka semakin giat berdoa. Semakin banyak pula, umat yang ikut bersyafaat. Masalah Hemet tidak hanya okultisme. Kota kecil ini penuh dengan gang-gang. Perkelahian antargang bukan sesuatu yang aneh. Pembunuhan antaranggota gang sudah biasa. Beberapa orang Kristen menaruh hati untuk masalah sosial ini.

Kenyataan ini menjadi agenda pokok doa mereka. Hasilnya, salah seorang pemimpin gang bertobat. Tentunya, buah ini membuat suasana Hemet sedikit cair. Dua buah doa ini membuat kebangkitan Hemet semakin pesat. Sebuah acara digelar di sebuah stadion olah raga. Setiap orang di Hemet datang untuk beribadah. Banyak orang yang tadinya anti-Allah menangis dan bersujud di hadapan Allah. Tidak hanya itu, mereka saling bercengkrama, saling membagi. Sesuatu yang langka bagi kehidupan di sebuah kota di Barat yang terkenal individualis dan sekular. Mereka saling membagi beban. Kelompok-kelompok doa menjamur di sekitar stadion. Makanan dan minuman pun saling dibagikan- Hari itu adalah hari yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi di Hemet. Hari itu merupakan tanda bagi Hemet bukan lagi kuburan bagi pendeta. Hemet sekarang adalah lahan yang subur bagi pekerjaan Allah. Buah pertobatan dan buah kasih tumbuh subur di bekas kuburan pendeta ini.





Article Directory: http://www.sumbercerita.com

silvy_rumayar@app.co.id



Cerita-cerita Lainnya dari Kategori - HOME --> Kisah Rohani --> Cerita Kristen
TitleAuthorViews
Resiko Film Porno Bagi Remaja Eddy 8,195
Kesepuluh Suku Israel yang Terhilang ada di Indonesia? Bahana 5,318
Gereja Setan Benar Ada: Sasaran Mereka Orang Yang Di Gereja Silvy Rumayar 3,750
Semua Hanya Karena Cinta Jawaban 3,637
Kiamat Versi Kristen Yohanes 3,582
Kiamat Versi Islam Yohanes 3,542
Kepuasan Hanya Ada Di Rasa Syukur Daniel 2,686
Kisah Marie Louise Devina Jap 2,445
Menelanjangi Santet Budiyanto 2,274
Belajar Dari Tukang Kayu Galilea TeDu 2,031
Bagaimana Melatih Roh Manusia Kenneth E. Hagin 1,937
Konggres Setan TeDu 1,884
Menang Atas Santet Budiyanto 1,829
Awas Chating Via MIRC Dalnet 1,752
Mudah Marah, Mudah Melupakannya TeDu 1,546

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
eXTReMe Tracker