|
|
Mengumpulkan buku-buku Perjanjian Baru adalah suatu proses lambat, karena tidak banyak jejak-jejak yang tertinggal. Kitab-kitab Injil dan surat-surat itu ditulis pada waktu dan tempat yang berbeda-beda, serta memiliki tempat tujuan yang berbeda-beda ke segala penjuru. Naskah aslinya mungkin ditulis di atas papirus, semacam kertas tipis dan rapuh yang terbuat dari jerami tanaman papirus, yang tumbuh di rawa-rawa Mesir dan Timur Tengah. Mereka ditulis oleh tangan dengan tinta dan pena, dan biasanya dikirimkan oleh para utusan kepada orang atau gereja kepada siapa surat itu ditujukan.
Adalah mustahil untuk menentukan kapan kumpulan tulisan Perjanjian Baru pertama kali diciptakan. Salinan Kitab-kitab Injil dan surat-surat pasti sudah dibuat dan disebarluaskan sejak masa yang paling awal. Ada jejak-jejak ajaran Yesus di dalam karangan-karangan Paulus meskipun mungkin ia bukan berasal dari catatan tertulis melainkan berita lisan. "Semua suratnya [Paulus]" disinggung dalam 2 Petrus sebelum akhir abad yang pertama, dan pasti ia telah diterbitkan sebagai suatu kumpulan, karena mereka tidak pernah diketemukan secara sendiri-sendiri dalam bentuk naskah tulisan tangan. Pada pertengahan abad kedua Injil Lukas telah dipisahkan dari Kisah Para Rasul dan telah digabungkan dengan Matius, Markus, dan Yohanes untuk membentuk empat serangkai catatan tentang kehidupan Kristus. Yustinus Martir (± tahun 140) menyinggung tentang "kenangan para rasul", dan Ireneus (± tahun 180) menyebutkan nama keempatnya.
Tatianus (± tahun 170) menggabungkan keempatnya menjadi harmoni yang pertama, Diatesaron yang mempunyai banyak peminat di gereja-gereja timur dan biasa digunakan dalam pembacaan umum hingga awal abad kelima.
Kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya, yang biasa disebut Surat-surat Umum dan Wahyu, pada mulanya belum membentuk suatu kelompok, karena mereka tidak pernah muncul dalam urutan yang seragam dalam tulisan para penulis gereja yang paling awal. Lambat-laun mereka mulai terhimpun dalam suatu kumpulan yang lebih besar bersama karangan-karangan lainnya, hingga himpunan Perjanjian Baru seperti yang ada pada sekarang ini muncul pada awal abad yang ketiga.
Pada mulanya kitab-kitab Perjanjian Baru diperbanyak baik oleh individu-individu pribadi bagi kepentingan mereka sendiri atau oleh para ahli kitab profesional bagi gereja atau biara. Biasanya salinan-salinan itu dibuat satu demi satu, tetapi ketika permintaan makin meningkat, rupanya beberapa orang budak menyalinnya bersama-sama dari naskah yang dibacakan bagi mereka. Dalam proses penyalinan itu dapat terjadi kesalahan-kesalahan yang akan diulangi oleh para penyalin berikutnya, sehingga banyak penyimpangan yang terjadi. Makin sering salinan-salinan itu disalin ulang, penyimpangan-penyimpangan itu cenderung makin meningkat, tetapi kegiatan perbanyakan ini memperbesar kesempatan bagi naskah aslinya untuk dilestarikan, setidak-tidaknya dalam beberapa di antaranya.
Sejak awal abad kedua hingga akhir abad ketiga gereja menderita penindasan terus-menerus dari pemerintah Romawi. Orang-orang Kristen ditahan, diadili di muka pengadilan setempat, dan dijatuhi hukuman mati. Sering kali kitab-kitab suci mereka disita, sehingga banyak naskah yang musnah dan banyak lagi yang rusak membuat kelestariannya sulit untuk dipertahankan. Suatu naskah Injil dari abad yang kelima, Codex Washingtoniensis (W), menunjukkan jejak-jejak bahwa ia telah disalin dari beberapa sumber yang berbeda yang mungkin merupakan potongan-potongan yang tersisa dari penghancuran yang mengikuti penindasan oleh Diocletianus (302-311). Selama masa ini, pasti produksi naskah tulisan tangan tidak teratur, dan mungkin banyak salinan yang dibuat oleh orang-orang yang kurang ahli atau kurang terlatih dalam menulis.
Penyimpangan terbesar dalam naskah kitab-kitab Perjanjian Baru terjadi sejak sebelum zaman Konstantinus, dan dapat mencerminkan ketegangan serta kebingungan yang dialami oleh masyarakat Kristen. Dengan berakhirnya penindasan setelah kemenangan Konstantinus dan pengakuan resmi agama Kristen sebagai agama negara dalam tahun 313, umat Kristen mulai menyusun naskah kitab suci bagi keperluan umum. Konstantinus sendiri yang memerintahkan agar kelima puluh salinan Kitab Suci itu dibuat dan disebarluaskan ke gereja-gereja besar di kota-kota di seluruh negara. Tidak salah lagi "edisi resmi" inilah yang menjadi contoh dasar dari banyak naskah tulisan tangan yang lebih kecil, sedang naskah-naskah lainnya yang mungkin lebih tua usianya dibuat di biara-biara dan di antara kelompok-kelompok masyarakat yang lebih kecil. Dari abad yang keempat hingga kedua belas naskah Perjanjian Baru ada yang diterbitkan dalam kelompok-kelompok seperti kelompok Injil atau surat-surat Paulus, atau kadang-kadang dalam bentuk lengkap yang disebut 'pandects'. Dalam proses ini digunakan bahan-bahan yang baru untuk menulis. Papirus terlalu rapuh untuk digunakan dalam pelayanan umum atau dalam perpustakaan biara. Biasanya para ahli kitab menggunakan 'vellum', lembaran-lembaran tipis dari kulit anak lembu, atau 'parchment', yangterbuat dari kulit domba. Sejak zaman Konstantinus hingga menjelang zaman cetak bahan-bahan inilah yang digunakan; kertas belum dikenal hingga waktu yang lebih belakangan.
| Title | Author | Views |
| Resiko Film Porno Bagi Remaja |
Eddy |
9,582 |
| Kesepuluh Suku Israel yang Terhilang ada di Indonesia? |
Bahana |
9,529 |
| Gereja Setan Benar Ada: Sasaran Mereka Orang Yang Di Gereja |
Silvy Rumayar |
5,293 |
| Semua Hanya Karena Cinta |
Jawaban |
5,167 |
| Kiamat Versi Islam |
Yohanes |
4,790 |
| Kiamat Versi Kristen |
Yohanes |
4,712 |
| Pertobatan Kota Pusat Gereja Setan |
Silvy Rumayar |
4,545 |
| Kepuasan Hanya Ada Di Rasa Syukur |
Daniel |
3,729 |
| Menelanjangi Santet |
Budiyanto |
3,304 |
| Kisah Marie Louise |
Devina Jap |
3,227 |
| Belajar Dari Tukang Kayu Galilea |
TeDu |
2,697 |
| Konggres Setan |
TeDu |
2,653 |
| Bagaimana Melatih Roh Manusia |
Kenneth E. Hagin |
2,649 |
| Yang Terbaik Akan Datang |
Bo Sanchez |
2,597 |
| Menang Atas Santet |
Budiyanto |
2,476 |
|
|
|
|
|
|
|