|
|
Berkenalan dengan pria yang lemah lembut namun tegas ini sangat membuat hati lapang dan lega. Betapa tidak tutur kata dan gayanya menyatakan dirinya seorang pelaku firman. Tak heran pancaran wibawa Allah tampak dari raut-raut muka yang semakin menunjukkan seorang berhikmat di usia paruh baya. Sehari-hari suami seorang dokter ahli kecantikan di Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta ini bergelut dengan mereka yang menjadi beban keluarga dan banyak yang menjadi 'sampah masyarakat'. Mereka yang kurus kering, haus akan halusinasi dan kecanduan akan berbagai zat kimia maut, di berinya kekuatan lewat firman ALlah dan ditampung di beberapa rumah rehabilitasi yang didirikannya. Tak jarang ia harus mengelurakan kocek pribadi untuk mengobati mereka yang membutuhkan, sesuatu yang jarang ditemui di tengah dunia yang egoistik ini. Mengomentari hal ini Erwin menyatakan," Tuhan memberi saya berkat, sudah sepantasnya saya juga membagi berkat bagi mereka yang membutuhkan."
Di temui di rumahnya yang juga Sekretariat Yayasan Gerbang Aksa-suatu yayasan yang memayungi enam panti rehabilitasi Generasi Batu Karang Anak Kasih Bangsa (Gerbang Aksa) di Jakarta, Tangerang, Puncak-Bogor dan Bandung- Erwin dengan penuh antusias menceritakan bagaimana perjuangannya dalam mendirikan panti rehabilitasi narkoba dan mencintai mereka yang cinta narkoba. Sebab menurutnya jika bukan panggilan Tuhan yang didasarkan atas kasih Allah mustahil suatu panti yang merehabilitasi manusia bisa benar-benar sukses. "Penanganan suatu panti rehabilitasi mestinya ditangani sebagaimana menangani manusia, pendekatannyapun mesti pendekatan antar hati. Jika hanya diinjeksi obat tanpa menyentuh permasalahan kemanusiaan yang paling dalam, seperti menangani kesepian, dikhianati dan lain sebagainya, sebuah panti hanyalah menghasilkan robot yang akan dengan cepat berbalik ke komunitasnya dulu," tegas Erwin.
Mendirikan Panti Rehabilitasi Dalam suatu kesempatan lawatannya ke Amerika untuk mengikuti pertemuan yang diadakan Morris Cerullo, hati Erwin teriris-iris dan sangat tergugah melihat banyaknya anak muda yang terjerat narkotika dan obat-obatan terlarang. Mereka datang dengan keadaan 'kacau' minta didoakan dan dibebaskan. Bayangan peristiwa itu terus membuntuti Erwin sepanjang perjalanannya pulang ke tanah air. Bahkan selama di pesawat bersama istri tercinta mereka lalu merencanakan untuk mendirikan suatu rumah penampungan para korban narkoba itu.
Berbekal dana pribadi dan kerinduan mewujudkan rencana yang Tuhan tanamkan di hatinya, Erwin mula-mula study banding kebeberapa negara tetangga untuk meninjau dari dekat keberadaan panti rehabilitasi. Pulang dari sana ia mendirikan suatu rumah penampungan di Bintaro yang membuatnya mengerti bahwa sebuah panti bukanlah seperti penjara, melainkan seperti rumah. "Mereka yang terjerat biasanya tidak mendapatkan kasih dari orang tua. Maka kami mulai membangun rumah-rumah dengan pintu selalu terbuka, menyatakan welcome untuk semua orang dan memberi kebebasan mereka yang didalam untuk keluar. Dengan begini kami lebih dapat menjangkau lebih banyak orang dari berbagai kelangan dan lebih efektif mengobati mereka yang di dalam. Banyak juga yang kabur tapi setelah mereka tidak mendapati suasana seperti di rumah penampungan, toh mereka balik lagi dan malahan bertekad melepaskan diri dari semua jerat narkoba itu," cerita Erwin.
Selama hampir dua tahun menggeluti bidang ini, Erwin akhirnya mendapatkan resep pengobatan yang ampuh buat para korban. Ia menyebutnya dengan 5K yakni Komitmen, Konsentrasi, Koreksi, Kata-kata dan Kutuk. Komitmen menurutnya suatu tindakan yang perlu dilakukan oleh keluarga, si pemakai dan siapapun yang terlibat untuk mendukung dengan penuh pemulihan dan penyembuhan si korban. Sedangkan Konsentrasi artinya dengan penuh mengatur strategi melepaskan si korban dengan cara doakan, ampuni, kasihi (DAK). Koreksi diperlukan oleh orang tua atas perbuatannya sendiri yang mungkin terlalu egois, dsb sehingga harus bertobat dan mendukung anaknya untuk bertobat pula. Kata-kata yang positif, yang membangun, kata-kata kasih dan bukan kata-kata negatif, kemarahan, gerutuan dan caci maki sangat menolong kesembuhan korban. Yang terakhir Kutuk akibat kejahatan generasi lalu menjadi penyebab si korban terjerat. Misalnya dosa-dosa alkoholok, candu, dsb yang belum diakui dari nenek moyang itu bisa menjadi pintu masuk bagi iblis membawa korban ke jurang kebinasaan.
Erwin juga menemukan adanya 5 S dalam diri pecandu narkoba yakni sombong, sihir (intimidasi, manipulasi, dominasi), suka bbd (bual,bohong,dusta), serong-tidak jujur serta sabot-tidak taat. Serta adanya 5 B yakni Bohong, Bolos, Bodoh, Bokek dan Bego. "Sungguh malang nasib si korban, sudah menderita di dunia di akhirat juga menderita. Inilah panggilan yang Tuhan taruh dalam hati saya. Saya tak melihat dari latar belakang mana si korban, mampu tidak dia bayar, bagi saya yang penting di tangani dulu karena kalau sudah berbicara keuangan nanti motivasi kita melenceng. Memang biaya dibutuhkan, tapi Tuhan Yesus menyediakan," tegasnya.
Dengan enam rumah rehabilitasi yang menampung hampir 600 anak, bagi Erwin itu belum memadai. Apalagi dibandingkan dengan statistik jumlah pemakai narkoba di tanah air yang telah menjangakau hingga anak-anak SMP. Erwin pun siap-siap melebarkan sayap ke Surabaya, Riau, Medan, Makasar dan Manado. Semua itu dikerjakannya untuk menjangkau yang tidak terjangkau. "Kita tidak bisa mengharapkan pemerintah dalam hal ini. Apa yang bisa kita buat mari kerjakan. Ini proyek kemanusiaan jika disana ada satu jiwa yang bertobat bukankah malaikat surga bersorak-sorai, itulah gol kita," katanya.
Di akhir jaman iblis bekerja luar biasa demi menyesatkan banyak orang. Narkotika dan obat-obatan terlarang hanya salah satu dari sekian pekerjaannya, tetapi itupun telah menelan jutaan korban di Indonesia. Apa yang dikerjakan Erwin Pohe membutuhkan doa kita sekaligus menyadarkan kita banyak hal yang harus dikerjakan di dunia ini untuk menjangkau setiap suku bagi kerajaanNya.
Drs Erwin Aleranno Pohe, Tomohon (Sulut) 21 JANUARI 1941, Jl Pluit Samudra II/9 Jakarta Utara 14450, (021) - 6630132-34.
| Title | Author | Views |
| Resiko Film Porno Bagi Remaja |
Eddy |
9,581 |
| Kesepuluh Suku Israel yang Terhilang ada di Indonesia? |
Bahana |
9,528 |
| Gereja Setan Benar Ada: Sasaran Mereka Orang Yang Di Gereja |
Silvy Rumayar |
5,293 |
| Semua Hanya Karena Cinta |
Jawaban |
5,166 |
| Kiamat Versi Islam |
Yohanes |
4,790 |
| Kiamat Versi Kristen |
Yohanes |
4,712 |
| Pertobatan Kota Pusat Gereja Setan |
Silvy Rumayar |
4,543 |
| Kepuasan Hanya Ada Di Rasa Syukur |
Daniel |
3,728 |
| Menelanjangi Santet |
Budiyanto |
3,304 |
| Kisah Marie Louise |
Devina Jap |
3,227 |
| Belajar Dari Tukang Kayu Galilea |
TeDu |
2,696 |
| Konggres Setan |
TeDu |
2,652 |
| Bagaimana Melatih Roh Manusia |
Kenneth E. Hagin |
2,649 |
| Yang Terbaik Akan Datang |
Bo Sanchez |
2,597 |
| Menang Atas Santet |
Budiyanto |
2,476 |
|
|
|
|
|
|
|