Kejahatan Edhie Sapto dimulai sejak ia kanak-kanak.
Sejak
SD saya sudah lepas dari keluarga, saya kost di Yogya. Karena di
lingkungan saya orang-orangnya ‘semacam itu' akhirnya saya mulai
belajar merokok, mulai belajar mengisap ganja. Saya juga mulai
disuruh-suruh oleh mereka. Dengan cara seperti itu saya sudah terdidik
oleh mereka.
Penjara tidak berarti apa-apa bagi Edhie.
Saya
masuk penjara sudah tujuh kali. Ada beberapa kali saya terlibat kasus
pembunuhan, sedang yang lainnya adalah kasus penganiayaan. Saya bisa
bebas karena saya ‘main uang'.
Saya
dulu berpikir kalau saya melakukan tindak kejahatan jangan
tanggung-tanggung. Kalau saya mencuri mungkin saya tidak pernah akan
ditakuti atau disegani oleh orang, tapi kalau saya membunuh maka orang
akan tahu siapa saya, mereka akan takut pada saya.
Edhie Sapto juga tidak mengenal arti pertemanan.
Tahun
1983 saya mempunyai masalah dengan teman. Dia menjual barang saya,
kemudian waktu saya meminta bagian saya, dia tidak memberikannya. Saya
waktu itu sudah berpikir, jika hak saya tidak diberi maka orang itu
akan saya ‘habisi'.
Waktu saya bertemu dengannya di Lampung,
saya tanya pada teman saya itu tentang keadaannya. Saya juga tanya
apakah ada ‘barang' yang akan masuk. Teman saya ini mengatakan, "Iya,
ada barang yang akan masuk". Saya minta malam itu untuk bertemu
dengannya sebelum dia mengambil ‘barang'. Saya berjanji bertemu dia jam
delapan malam. Saya sendiri sudah merencanakan untuk membunuh dia. Saya
pikir orang seperti ini tidak bisa dibiarkan, dia harus ‘dihabisi'.
Rekan Edhie tidak pernah menduga tentang malam itu.
Waktu
malam dia datang. Dari jarak kira-kira sepuluh meter saya tanya pada
dia, "Kamu sudah siap?". Waktu dia mengatakan ‘ya', saya langsung
mengarahkan pistol dan menembaknya. Saya lalu memastikan tembakan saya
dengan mengeksekusinya dari dekat.
Kembali Edhie harus berurusan dengan hukum.
Saya
pikir saya bisa mengurus hukuman saya seperti yang biasa saya lakukan.
Waktu itu saya minta tolong pada teman-teman untuk mengurus karena saya
punya rumah, punya kendaraan yang bisa dijual. Ternyata waktu naik
banding, mereka menjual rumah, menjual kendaraan saya tetapi mereka
tidak mengurus saya. Uang saya habis dipakai judi oleh mereka. Waktu
banding saya turun, hukuman saya malah naik menjadi sembilan tahun.
Saya memang sudah putus asa saat itu. Tidak ada jalan lain ke mana saya
akan meminta pertolongan.
Saya
memang orang yang kadangkala merasa kesepian. Teman-teman saya sering
menghindar karena saya orang yang keras. Saya orang yang tidak banyak
bicara, yang bicara biasanya adalah tangan saya. Itulah sebabnya
teman-teman menjauhi saya. Dan waktu saya kesepian saya kadang pergi ke
ibadah gereja di dalam penjara.
Dalam satu ibadah Tuhan menjamah hati Edhie.
Tapi
di saat saya putus asa, saya teringat satu ayat Firman Tuhan. Di sana
dikatakan Yesus mengundang pada setiap orang yang letih lesu dan
berbeban berat untuk datang kepadaNya untuk mendapatkan kelegaan. Hamba
Tuhan mengatakan bahwa siapa saja datang pada Tuhan maka Dia akan
tolong.
Waktu malamnya saya membaca Alkitab di sel penjara, saya
menemukan bahwa ternyata ada seorang pribadi yang amat peduli pada
saya. Walau orang tua, keluarga, teman-teman tidak peduli pada saya
ternyata tetap ada pribadi yang peduli dan setia pada saya. Saya
merasakan bahwa saya adalah manusia yang berdosa, saya membutuhkan
pengampunan, saya merasakan bahwa Tuhan itu mengasihi saya.
Saya
orangnya tidak suka menangis. Dipukul polisi, dipukul petugas sekalipun
saya tidak pernah menangis. Tapi waktu malam itu saya menangis. Saya
merasakan betapa Tuhan mengasihi saya. Hati saya hancur. Itulah yang
membuat saya tidak bisa menyangkali Tuhan lagi. Saya harus menerima
Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.
Edhie mengundang Tuhan masuk dalam hatinya.
Waktu
itulah saya merasakan sukacita, saya merasakan damai sejahtera. Saya
merasakan keyakinan bahwa jika saya bebas dari penjara, saya tidak
perlu takut. Sekalipun ditembak penembak misterius saya tetap mempunyai
jaminan keselamatan.
Edhie Sapto bebas pada 24 Agustus 1984
setelah menerima putusan kasasi. Ia menerima hukuman satu tahun dan
enam bulan ditambah remisi 3 bulan karena telah menjadi seorang
narapidana teladan. Setelah keluar dari penjara Edhie aktif dalam
pelayanan ke berbagai daerah.
Rekan Edhie selama di penjara,
Robby Pical terheran-heran dengan perubahan yang dialami Eddie, mantan
pembunuh berdarah dingin yang dikenal dingin dan sadis.
Kami
berdua sama-sama masuk dalam penjara Cipinang. Bapak Edhie Sapto adalah
salah seorang penjahat berat dimana saya ditahan di seberang sel dia.
Saya mengenal Edhie Sapto sebagai orang yang sadis, bertemperamen
tinggi. Dia bisa membunuh setiap orang yang ‘mendekati' dia. Dia tidak
pernah bisa didekati selama di penjara. Tapi ketika saya berjumpa
kembali dengannya pada tahun 1984, saya melihat ada perubahan total
dalam dirinya. Saya sampai bingung, "Kenapa Edhie Sapto bisa berubah
begini? Edhie, kok kamu sekarang bisa lembut? Kok kamu sekarang bisa
tersenyum? Dulu kamu tidak bisa tersenyum, dulu kamu tidak bisa
mengedipkan mata pada orang lain?"
Edhie
Sapto lalu berkata pada saya, "Hanya ada satu yang bisa mengubah saya
yaitu waktu saya berjumpa dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang merubah
karakter saya, Dia yang merangkul saya. Tuhan Yesus yang menjamah saya
dan kini saya hidup baru bersama dengan Tuhan Yesus."
Edhie kini adalah seorang hamba Tuhan.
Orang
mungkin tidak pernah mengenal saya. Orang mungkin hanya mengetahui saya
dari luarnya saja. Mereka tidak tahu hati saya, seburuk apa hati saya,
tetapi Tuhanlah yang menyelidiki hati. Saya boleh dijamah oleh tangan
kasihNya, hidup saya boleh diubahkan, bahkan saya boleh diselamatkan.
Saya hanya berfikir dengan apa saya bisa membalas kebaikan Tuhan,
kecuali saya harus mengabdikan diri saya pada Tuhan. (Kisah ini telah
ditayangkan 4 Januari 2004 dalam acara Solusi di SCTV).






